[JAKARTA] Agensi pemeringkat Fitch Ratings memberikan peringatan bahwa semakin bergantungnya Indonesia pada bank-bank milik negara untuk mendukung program-program pemerintah dapat membawa risiko jangka panjang terhadap kualitas aset dan kerangka kebijakan negara. Meskipun saat ini sektor perbankan masih terlihat tangguh, hal ini tetap menjadi perhatian.
George Xu, direktur pemeringkatan kedaulatan Asia-Pasifik di Fitch Ratings, mengatakan bahwa sistem perbankan Indonesia menunjukkan fundamental kredit yang kuat. Namun, peran yang semakin besar diberikan kepada bank-bank milik negara dalam kebijakan memerlukan perhatian lebih.
“Kami tidak melihat risiko signifikan terhadap kualitas aset atau tantangan profitabilitas besar saat ini. Sistem ini tetap cukup tahan banting,” ujar Xu dalam acara Fitch on Indonesia 2026 di Jakarta, pada Kamis (23 Apr).
“Namun, kekhawatiran kami lebih pada peran bank-bank milik negara sebagai kendaraan untuk mendukung inisiatif pemerintah yang mungkin tidak sepenuhnya didorong oleh keuntungan. Ini dapat berpotensi menciptakan tantangan terhadap kualitas aset seiring berjalannya waktu,” tambahnya.
Fitch Ratings pada hari Senin lalu telah merevisi prospek dari empat bank milik negara Indonesia – Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, dan Bank Tabungan Negara – dari stabil menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat BBB mereka.
Revisi prospek negatif ini mengikuti keputusan Fitch pada bulan Maret untuk merubah prospek peringkat kedaulatan Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,6 persen tahun ini, meskipun kondisi global kurang menguntungkan.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mendorong bank-bank milik negara untuk memperluas pinjaman bersubsidi guna mendukung aktivitas ekonomi.
Menjelang akhir tahun lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengalihkan sekitar 200 triliun rupiah dana pemerintah yang sebelumnya disimpan di Bank Indonesia kepada lima bank milik negara, termasuk empat bank yang mengalami penurunan prospek, untuk mengalirkan likuiditas kembali ke perekonomian melalui peningkatan pinjaman.
Xu menambahkan bahwa kebijakan semacam ini menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi pemberian pinjaman dan potensi dampaknya terhadap neraca bank seiring berjalannya waktu.
“Ada dua pertanyaan di sini,” ujarnya. “Pertama, apakah pemberian pinjaman ini akan efisien. Kedua, apakah ini berpotensi menyebabkan tantangan pada kualitas aset dalam jangka panjang.”
Pergeseran ini juga bisa mengindikasikan perubahan bertahap dalam campuran kebijakan Indonesia, di mana pemerintah pusat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap keputusan pinjaman bank-bank milik negara.
Risiko ini menjadi salah satu faktor di balik keputusan Fitch untuk merevisi prospek peringkat kedaulatan Indonesia.
Walaupun terdapat kekhawatiran ini, Xu menekankan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia tetap relatif stabil, dan sistem perbankan terus menunjukkan kekuatan.
Dia menambahkan bahwa agensi pemeringkat akan terus memantau seberapa baik pemerintah menyeimbangkan ambisi pertumbuhannya dengan disiplin fiskal dan stabilitas sektor keuangan, terutama ketika bank-bank milik negara dan institusi baru seperti dana kekayaan negara Danantara mengambil peran yang lebih besar dalam pendanaan program pembangunan.

