Data terbaru dari laporan State of ITAM oleh Flexera menunjukkan bahwa hanya 31% perusahaan yang memiliki visibilitas yang akurat terhadap perangkat lunak AI mereka. Pengeluaran untuk IT di sektor ini terus meningkat seiring berkembangnya kasus penggunaan baru dan model-model AI yang lebih canggih.
Ternyata, hampir tiga dari lima perusahaan (59%) mengungkapkan bahwa pengeluaran yang terbuang untuk AI meningkat dalam setahun terakhir. Penyebabnya adalah susunan perangkat lunak yang semakin kompleks, yang menyebabkan penurunan visibilitas secara keseluruhan.
Flexera juga menemukan bahwa visibilitas komprehensif di seluruh aset IT hanya mencapai 36%, sedikit lebih baik dibandingkan dengan visibilitas AI, dan ini disebabkan oleh lingkungan SaaS, cloud publik, dan hybrid yang rumit serta saling terhubung.
Visibilitas stack IT semakin memburuk
Menurut laporan tersebut, para profesional IT Asset Management kini menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengoptimalkan perangkat lunak (32%), sementara audit juga menyita banyak waktu mereka (22%).
Masalah utama terkait AI adalah sulitnya pelacakan karena tidak memiliki kategori tersendiri. Model, agen, dan platformnya terdistribusi di berbagai sistem sebagai tambahan lapisan.
“Apa yang kami lihat adalah pola akrab di mana adopsi cepat diikuti dengan upaya untuk mendapatkan visibilitas dan kontrol, sementara pengeluaran meningkat,” tulis Becky Trevino, Chief Product Officer Flexera.
Ironisnya, Flexera juga menemukan bahwa AI punya potensi untuk mengotomatisasi beberapa pekerjaan dalam ITAM, seperti memproses kontrak perangkat lunak, pesanan pembelian, lisensi, dan pembaruan.
Emang para profesional IT kini dihadapkan pada tekanan lebih untuk menunjukkan ROI (Return on Investment) dari AI, langkah selanjutnya bukan hanya mengidentifikasi alat AI yang digunakan, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana mereka digunakan, berapa biaya yang dikeluarkan, serta data apa yang mereka akses.

