[SINGAPURA] Republik Singapura dan Tiongkok perlu meningkatkan kerja sama di tiga bidang untuk mengatasi tantangan global bersama seperti perubahan iklim, kemajuan teknologi, dan pergeseran demografi. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Chee Hong Tat, dalam acara Lianhe Zaobao Singapore-China Forum.
Chee merinci bahwa tiga area tersebut adalah transisi hijau, kecerdasan buatan (AI) dan robotika, serta masalah populasi yang menua. Dia menambahkan bahwa tidak ada negara yang memiliki semua jawaban atau sumber daya untuk bertindak sendiri.
Dari perspektif tersebut, Singapura dan Tiongkok bisa terus memperluas dan memperdalam kolaborasi mereka, berdasarkan pondasi kuat yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Dia menekankan bahwa kemitraan bilateral ini seharusnya tidak hanya terbatas pada batas negara, sebab pelajaran dan solusi yang ditemukan bisa memberikan pengaruh positif untuk kawasan yang lebih luas dan dunia.
Chee menyoroti bahwa transisi hijau adalah salah satu tugas paling mendesak bagi masyarakat global saat ini. Perubahan iklim memengaruhi semua negara, terlepas dari geografi, sumber daya, atau tahap pembangunan yang mereka alami. Menurutnya, kita berbagi tanggung jawab untuk satu sama lain dan untuk generasi yang akan datang dalam membangun dunia yang lebih berkelanjutan.
Dia juga menegaskan bahwa upaya ini bukan hanya tanggung jawab nasional. Kerja sama internasional akan menjadi semakin penting seiring pertumbuhan permintaan terhadap sumber energi yang dapat diandalkan dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Chee menyatakan bahwa banyak hal yang bisa dipelajari Singapura dari Tiongkok dalam bidang ini.
Chee mencatat, Tiongkok telah menempatkan dirinya sebagai pemimpin global dalam teknologi energi terbarukan dan bersih, serta berada di garis depan energi nuklir, termasuk reaktor modular kecil. Kemampuan Tiongkok dalam energi matahari, angin, dan sistem penyimpanan energi baterai juga bisa membantu memperkuat ketahanan energi regional dan mempercepat dekarbonisasi melalui inisiatif seperti Jaringan Listrik ASEAN.
Sementara itu, Chee menambahkan bahwa Singapura bisa berkontribusi dengan keahlian dalam perencanaan kota berkelanjutan dan pengembangan terpadu. Ini memungkinkan kedua negara untuk menciptakan solusi praktis yang mendukung ambisi iklim mereka sekaligus berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan bagi kawasan yang lebih luas.
Dalam konteks AI dan robotika, Chee mengingatkan bahwa fokus seharusnya tidak hanya pada potensi AI yang menggantikan tenaga kerja, tetapi juga bagaimana teknologi ini bisa menciptakan pekerjaan baru, meningkatkan produktivitas, dan mempersiapkan pekerja untuk peran yang baru muncul. Dia mengklaim bahwa sektor lingkungan pembangunan di Singapura telah menggunakan robotika dan AI untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya, sambil membuka lapangan pekerjaan baru.
Chee juga menggambarkan Tiongkok sebagai pemimpin dunia dalam AI, robotika, dan manufaktur cerdas, di mana negara tersebut telah menerapkan teknologi ini secara luas di sektor konstruksi, logistik, dan infrastruktur perkotaan. Dia menyatakan bahwa pengalaman ini memberikan wawasan berharga yang bisa dipelajari Singapura.
Lebih lanjut, Chee menekankan pentingnya pertukaran yang lebih dalam antara pemerintah, industri, dan akademisi untuk mengubah ide-ide inovatif menjadi solusi yang praktis. Dia menambahkan bahwa AI memerlukan bukan hanya kemampuan teknologis tetapi juga regulasi, ekonomi, dan kerangka sosial yang tepat, sehingga ini menjadi area lain di mana Singapura dan Tiongkok bisa berkolaborasi.
Beralih ke topik populasi lanjut usia, Chee menyebutkan bahwa pada tahun 2030, satu dari empat warga Singapura dan satu dari lima warga Tiongkok akan berusia 65 tahun ke atas. Ini menempatkan kedua masyarakat dalam kategori masyarakat yang sangat menua.
Dia menegaskan bahwa baik Singapura maupun Tiongkok sangat menghargai kontribusi senior dalam membentuk negara mereka masing-masing, dan mendesak perlunya tindakan konkret untuk memungkinkan sebanyak mungkin senior memiliki kesehatan yang baik dan ketenangan pikiran untuk menikmati masa tua mereka. Chee menunjukkan bagaimana Singapura telah berupaya membantu para senior melalui perumahan, peningkatan lingkungan, dan inisiatif perawatan komunitas.
Dia juga mencatat upaya Tiongkok untuk mengembangkan perawatan lansia dengan saling membantu, di mana para senior yang lebih muda mendukung yang lebih tua. Chee mengatakan bahwa ada potensi besar bagi Singapura dan Tiongkok untuk bertukar pengalaman dan belajar dari satu sama lain, terutama dalam mendesain lingkungan yang mendukung para senior untuk menua dengan baik.
Dia menambahkan bahwa solusi yang dikembangkan bisa bermanfaat bagi negara-negara lain yang juga menghadapi masalah penuaan populasi dalam berbagai derajat.
Bab Selanjutnya Tiongkok
Dalam pidatonya, Chee juga menyoroti tiga bidang di mana upaya dan kebijakan proaktif Tiongkok akan signifikan tidak hanya untuk perkembangannya sendiri, tetapi juga untuk ekonomi global. Yang pertama adalah perluasan konsumsi domestik, yang akan mendukung model pertumbuhan yang lebih seimbang dan berkelanjutan yang berpusat pada sektor jasa yang lebih kuat.
Chee menyatakan bahwa peningkatan konsumsi domestik tidak hanya akan memenuhi aspirasi kelas menengah Tiongkok yang terus berkembang tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan serta berkontribusi pada lingkungan perdagangan global yang lebih seimbang.
Bidang kedua adalah stabilisasi pasar properti Tiongkok, yang dipandangnya sangat penting untuk menjaga harmoni sosial dan kepercayaan ekonomi jangka panjang. Dia menyarankan bahwa pemerintah Tiongkok bisa mengubah sebagian stok perumahan yang ada menjadi rumah terjangkau untuk keluarga muda dan pekerja migran.
Dia menambahkan bahwa subsidi perumahan juga bisa dilengkapi dengan insentif pernikahan dan prokreasi untuk membantu mengatasi tingginya angka kelahiran yang rendah di Tiongkok. Pendekatan ini, menurutnya, akan mendukung penyesuaian sehat pasar properti dan meningkatkan mobilitas antargenerasi serta memajukan tujuan kemakmuran bersama Tiongkok.
Bidang terakhir yang diinformasikan Chee adalah pentingnya pertukaran antarpersonal dan budaya di kalangan generasi muda. Dia menyatakan bahwa dasar untuk perkembangan global yang damai dan makmur terletak pada pemahaman timbal balik antara warga negara dari berbagai negara melalui interaksi langsung dan persahabatan.
Dia juga menekankan bahwa ikatan semacam ini akan semakin penting seiring dengan semakin menjamurnya penggunaan AI. Untuk itulah, Chee mendorong generasi muda untuk merasakan langsung pengalaman berbagai negara dan budaya agar bisa mengembangkan pemahaman dan perspektif yang tidak bisa sepenuhnya ditiru oleh platform media sosial atau konten online.
Dia menilai bahwa dengan dunia yang semakin kompleks, pertukaran ini menjadi “jembatan kepercayaan dan kebaikan.” Chee menyimpulkan dengan mencatat bahwa, meskipun hubungan AS-Tiongkok tetap kompleks, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa ikatan itu semakin stabil, dengan kedua pihak menunjukkan keinginan untuk mengelola perbedaan melalui komunikasi dan kerjasama yang praktis.
Di tengah konteks ini, sangat penting bagi generasi muda dari Tiongkok dan AS untuk saling mengenal, menghabiskan waktu di negara satu sama lain bila memungkinkan, dan membangun pertemanan. Chee mengingatkan bahwa kita harus menghindari situasi di mana generasi muda menjadi tertutup dan kehilangan rasa ingin tahunya untuk memahami masyarakat dan budaya yang berbeda, apalagi jika mereka mulai melihat pihak lain sebagai musuh atau ancaman, bukan hanya sebagai pesaing.

