[JAKARTA] Kenaikan harga bahan bakar, melemahnya nilai tukar rupiah, dan semakin meningkatnya kekhawatiran mengenai arah ekonomi Indonesia telah memicu demonstrasi yang dipimpin oleh mahasiswa di Jakarta pada Jumat (12 Juni). Ini menjadi tantangan baru bagi Presiden Prabowo Subianto.
Saat masyarakat semakin frustrasi dengan biaya hidup yang terus meningkat, lebih dari seribu mahasiswa dari berbagai universitas di Jabodetabek dan komunitas sosial berkumpul di daerah Thamrin, pusat bisnis dan pemerintah Indonesia.
Mereka menuduh pemerintah gagal menangani tekanan ekonomi yang kian mendesak sambil tetap menjalankan program-program pengeluaran yang mahal.
Pihak berwenang telah mengerahkan lebih dari 4.000 personel polisi dan militer untuk mengamankan protes tersebut, menurut keterangan dari Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta.
Dalam sebuah video sebelum aksi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia – yang memimpin gerakan ini – menyatakan bahwa pemerintah tidak merespons kondisi ekonomi yang semakin memburuk yang dihadapi oleh masyarakat biasa.
Mahasiswa juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai apa yang mereka sebut sebagai manajemen fiskal yang buruk, yang telah berkontribusi pada penurunan nilai rupiah, serta kekhawatiran mengenai independensi bank sentral dan pendekatan pemerintah dalam komunikasi publik.
“Ekonomi Indonesia sedang memburuk,” kata narator dalam video tersebut.
Para mahasiswa juga menyerukan penghentian program makanan gratis andalan Prabowo serta inisiatif Koperasi Desa Merah Putih terkait.
Sementara pemerintah membela program tersebut sebagai alat untuk mengatasi kemiskinan dan malnutrisi, para kritikus mempertanyakan beban fiskal dan tata kelola yang menyertainya.
Pemeriksaan terhadap program ini semakin intensif setelah Prabowo baru-baru ini memberhentikan seorang pejabat senior yang mengawasi program makanan gratis tersebut di tengah penyelidikan kasus korupsi.
“Sebuah pil pahit yang harus ditelan”
Protes ini muncul setelah perusahaan energi milik negara, Pertamina, menaikkan harga bahan bakar non-subsidi Pertamax lebih dari 30 persen pekan ini, langkah yang didorong oleh tingginya biaya energi global dan tekanan fiskal yang meningkat.
Kenaikan ini semakin memperburuk kekhawatiran tentang daya beli rumah tangga, sementara masyarakat Indonesia sudah menghadapi biaya pangan dan transportasi yang tinggi.
Protes ini juga terjadi pada saat yang sensitif bagi pemerintah.
Ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini sedang bergulat dengan kombinasi tekanan domestik dan eksternal yang membuat nilai rupiah melewati level psikologis 18.000 per dolar AS awal pekan ini, terlemah dalam catatan sejarah.
Nilai tukar rupiah telah melemah lebih dari 7 persen tahun ini, memaksa Bank Indonesia untuk secara tidak terduga menaikkan suku bunga pada hari Selasa dalam upaya mengembalikan kepercayaan pasar dan mengurangi aliran modal keluar.
Nilai rupiah rebounded menjadi 17.845 per dolar AS pada hari Jumat.
Selain aliran modal keluar dan penguatan dolar AS yang memberikan tekanan pada rupiah, kenaikan harga energi yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah juga telah meningkatkan biaya impor.
Fakhrul Fulvian, ekonom kepala di Trimegah Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa kenaikan tajam harga bahan bakar mencerminkan posisi fiskal pemerintah yang semakin terkekang di tengah meningkatnya biaya subsidi dan tagihan impor energi yang lebih tinggi.
“Ini adalah pil pahit yang harus ditelan,” katanya.
“Dalam keadaan normal, tidak ada pemerintah yang ingin menaikkan harga bahan bakar. Namun, ketika ruang fiskal semakin terbatas dan biaya subsidi terus meningkat, penyesuaian menjadi pilihan yang sulit tetapi diperlukan.”
Dia menambahkan bahwa pemerintah harus segera mengambil langkah untuk meredakan dampak kenaikan harga bahan bakar melalui bantuan yang ditargetkan kepada rumah tangga yang rentan dan berpendapatan menengah ke bawah, terutama mereka yang paling terpengaruh oleh kenaikan biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari.
Tekanan ekonomi yang dihadapi oleh rumah tangga juga bertepatan dengan ketidaknyamanan yang berkembang di kalangan investor terhadap arah kebijakan pemerintah.
Pasar saham mengalami tekanan, dengan Jakarta Composite Index anjlok lebih dari 30 persen tahun ini tengah aliran modal keluar asing dan kekhawatiran yang tumbuh tentang iklim investasi di Indonesia.
Ini termasuk peningkatan pengawasan dari penyedia indeks MSCI terhadap investabilitas negara.
Aksi ini menambah daftar panjang protes selama kepresidenan Prabowo. Demonstrasi bulan Agustus lalu berujung kekerasan dan menyebabkan seorang pengemudi ojek online tewas, yang memicu penyelidikan lebih dalam terhadap penanganan pemerintah terhadap perbedaan pendapat publik.

