Perusahaan-perusahaan di zona euro bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan inflasi baru, mirip dengan yang terjadi setelah pandemi Covid-19. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada Senin, 4 Mei 2026.
Risiko ini muncul seiring dengan berlarut-larutnya konflik di Iran, yang mengganggu pasokan bahan bakar, hidrogen, dan helium. ECB membiarkan suku bunga tetap tanpa perubahan pada hari Kamis, meskipun ada perdebatan mengenai kenaikan suku bunga untuk menanggulangi inflasi yang membubung tinggi. Mereka juga menunjukkan bahwa kemungkinan kenaikan biaya pinjaman bisa terjadi pada bulan Juni mendatang.
Survei triwulanan ECB ini menemukan bahwa perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang penerbangan, logistik, kimia, plastik, dan kemasan telah menaikkan harga mereka, sering kali dengan persentase dua digit atau telah mengumumkan rencana kenaikan harga. Kenaikan harga ini mencerminkan lonjakan harga minyak sejak konflik dimulai.
Namun, dampak lebih luas terhadap harga-harga lainnya, yang lebih relevan bagi kebijakan ECB, diperkirakan akan terjadi lebih bertahap dibandingkan saat invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Hal ini karena perusahaan besar sudah melindungi diri mereka dari fluktuasi harga energi.
ECB menjelaskan, “Pengelolaan risiko ini seharusnya membatasi dampaknya dalam jangka pendek, sebab penyaluran harga energi yang lebih tinggi bagi perusahaan-perusahaan ini kurang langsung, yang mana lebih banyak berasal dari pemasok kecil yang tidak terproteksi dan mencari harga input yang lebih tinggi.”
Apabila situasi perang dan gangguan di Selat Hormuz tidak terselesaikan segera, perusahaan-perusahaan memprediksi adanya risiko lonjakan inflasi baru, mirip dengan yang terlihat antara tahun 2022 dan 2023.
Bank Sentral juga menekankan bahwa konflik yang berlangsung berbulan-bulan, terutama jika Selat Hormuz tetap terblokir atau ada serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur minyak dan gas, akan menghasilkan kekurangan global—bukan hanya bahan bakar, tetapi juga banyak produk yang memerlukan turunan minyak untuk proses produksinya.
Di antara produk yang memerlukan turunan minyak, ECB menyebutkan hidrogen dan helium. Dibandingkan dengan periode pasca-pandemi, ECB juga menunjukkan adanya permintaan global yang lemah, terutama dari China, tidak adanya ledakan yang diharapkan di sektor jasa, serta tingkat stimulus fiskal yang lebih rendah sebagai faktor mitigasi.
Dalam survei tersebut, ECB mewawancarai 67 perusahaan yang berada di luar sektor keuangan, terutama antara 23 Maret hingga 1 April. Dengan data yang dihasilkan, tampaknya tantangan terhadap kestabilan harga masih akan menjadi perhatian utama bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar. Keadaan ini mengingatkan kita betapa kompleksnya dunia ekonomi saat ini, di mana setiap gejolak politik bisa memicu dampak yang jauh lebih besar di sektor ekonomi global.

