Indonesia kini berada di ambang perubahan besar di pasar modal dengan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama baru. Hendrik punya ambisi yang berani: menjadikan bursa saham Jakarta salah satu dari 10 besar di dunia pada tahun 2030. Betul banget, Indonesia ingin meningkatkan kapitalisasi pasar sahamnya menjadi US$1,8 triliun!
Pada Senin, 29 Juni, para pemegang saham Bursa Efek Indonesia (IDX) menyetujui pengangkatan Hendrik sebagai CEO untuk periode 2026 hingga 2030. Ini menandai resmi perubahan kepemimpinan yang sebelumnya diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hendrik telah menjabat sebagai CEO sementara sejak Januari, setelah pengunduran diri pendahulunya yang dilakukan di tengah penjualan besar-besaran saham Indonesia dan meningkatnya perhatian MSCI mengenai transparansi pasar.
Sayangnya, sejak awal tahun ini, Jakarta Composite Index sudah turun 30 persen, menjadikannya salah satu pasar ekuitas dengan performa terburuk di dunia. Penutupan kemarin saja mencatatkan penurunan 1,28 persen.
Namun, Hendrik ingin agar IDX tidak hanya menjadi bursa terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga bersaing di kancah global. Rencana besarnya adalah menuju kapitalisasi pasar sebesar 30.000 triliun rupiah, yang berarti lebih dari 83 persen dari produk domestik bruto saat ini, yang saat ini hanya di angka 66,5 persen.
Beberapa target dalam peta jalan 2030 tersebut antara lain:
- Nilai perdagangan harian rata-rata naik signifikan menjadi 31 triliun rupiah dari saat ini yang hanya 18,3 triliun rupiah;
- Jumlah perusahaan yang tercatat meningkat lebih dari 1.100 dari 956;
- Jumlah investor di pasar modal akan membengkak menjadi 35 juta dari 20,3 juta orang.
Aktivitas penggalangan dana di bursa tahun lalu mengalami penurunan, dengan sekitar 279,3 triliun rupiah yang berhasil dihimpun melalui 26 penawaran umum perdana, jauh dari 41 listing di tahun 2024.
Menurut Hendrik, untuk mendalami pasar modal Indonesia, diperlukan penguatan baik dari suplai perusahaan berkualitas yang terdaftar maupun permintaan dari investor. Dia menekankan perlunya untuk menarik lebih banyak perusahaan besar untuk melantai di bursa, serta memperluas partisipasi dari investor institusi domestik dan basis investor ritel yang sedang berkembang pesat.
Salah satu fokus utama Hendrik adalah memulihkan kepercayaan investor asing. “Likuiditas tidak bisa sepenuhnya bergantung pada investor ritel,” ujarnya kepada wartawan pasca rapat umum pemegang saham. “Kami ingin investor asing, institusi domestik, dan investor ritel bersama-sama menciptakan dinamika pasar yang lebih sehat.”
Memperoleh Kembali Kepercayaan Investor
Visi jangka panjang IDX ini hadir di saat Indonesia berusaha membangun kembali posisinya di mata investor global setelah adanya penjualan besar-besaran yang mengurangi sentimen pasar. Indonesia sempat kehilangan statusnya sebagai pasar ekuitas terbesar di Asia Tenggara ke Singapore pada bulan Mei, akibat penurunan harga saham dan keluarnya modal asing yang besar.
Di bulan Januari, MSCI membekukan inklusi saham Indonesia dalam indeksnya dan memperingatkan bahwa pasar dapat diturunkan statusnya menjadi pasar perbatasan karena berbagai kekhawatiran, termasuk keterbatasan dalam investabilitas dan tingginya konsentrasi kepemilikan saham. Minggu lalu, penyedia indeks ini memperpanjang tinjauan hingga November untuk mengevaluasi reformasi yang diperkenalkan oleh otoritas Indonesia.
Hendrik menegaskan, mereka akan terus menerapkan reformasi dengan konsisten dan memperkuat komunikasi dengan MSCI, FTSE Russell, serta investor global untuk lebih memahami apa yang dibutuhkan. Indonesia juga telah memperkenalkan serangkaian reformasi yang diminta MSCI, seperti persyaratan pengungkapan yang lebih besar, data investor yang lebih terperinci, aturan free float yang lebih ketat, dan peningkatan pemantauan terhadap saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.
Hendrik menambahkan, “Kami akan terus menerapkan transparansi dengan konsisten, menegakkan aturan free float, dan menyaring saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Konsistensi adalah apa yang dicari MSCI.”

