Peluncuran Pengawasan Satelit AS-Jepang
Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat dan Jepang baru saja merampungkan peluncuran satelit bilateral yang bertujuan untuk memperkuat kemampuan pengawasan di seluruh kawasan Pasifik dan sekitarnya.
Payload untuk kesadaran ruang angkasa AS ini diangkut oleh Quasi-Zenith Satellite 7, yang diluncurkan dari Pusat Antariksa Tanegashima.
Ini adalah peluncuran kedua dan terakhir dalam program Quasi-Zenith Satellite System-Hosted Payload, yang digambarkan sebagai upaya kerjasama bilateral AS-Jepang yang pertama kali dibuat secara khusus untuk keamanan nasional.
Pengawasan yang Lebih Luas di Indo-Pasifik
Payload AS ini akan dioperasikan oleh Mission Delta 2 dari Combat Forces Command, unit yang bertugas mengidentifikasi dan melacak objek di wilayah orbital yang diperebutkan.
Mission Delta 2 berlokasi di Peterson Space Force Base, Colorado, dengan kehadiran di sebelas lokasi operasional di seluruh dunia.
Begitu operasional penuh, payload ini diharapkan dapat memberikan data hampir waktu nyata kepada Jaringan Pengawasan Ruang Angkasa, meningkatkan kesadaran mengenai orbit geosynchronous di atas Indo-Pasifik.
Kedua payload AS di bawah program ini dirancang dan dibangun oleh Laboratorium Lincoln MIT di Lexington, Massachusetts, sementara satelit host Jepang berasal dari Mitsubishi Electric Corporation di Kamakura.
Kesepakatan ini berawal dari perjanjian antara kedua negara pada bulan Desember 2020 untuk bersama-sama melaksanakan program payload yang dihosting ini.
Pihak berwenang menyebut upaya ini sebagai bukti dari hubungan aliansi yang semakin matang, dibangun di atas akses bersama terhadap infrastruktur orbital.
“Peluncuran sukses QZS-7 sangat menggambarkan kekuatan dan modernisasi cepat dari aliansi AS-Jepang,” ujar Kolonel Bryon McClain, eksekutif akuisisi portofolio Angkatan Luar Angkasa untuk Kekuatan Tempur Ruang Angkasa.
Dia menambahkan bahwa penggabungan kemampuan dalam komunikasi satelit membantu menjaga keamanan di domain ruang yang menjadi sengketa.
Proyek yang Sudah Bertahun-Tahun Dalam Pembuatan
Menurut para pejabat program, peluncuran ini didahului oleh dua tahun kerja integrasi antara tim teknik AS dan Jepang.
“QZSS-HP adalah kontributor kunci untuk membantu kami menghadapi ancaman dari pesaing setara di ruang angkasa,” kata Kolonel Gina Peterson, wakil komandan Mission Delta 2 untuk Kesadaran Ruang Angkasa.
Brigadir Jenderal Brian Denaro, komandan Angkatan Luar Angkasa AS Pasifik, menyebut aliansi AS-Jepang sebagai salah satu keunggulan strategis terbesar negara di kawasan ini.
Dia menjelaskan bahwa program ini menunjukkan bagaimana kedua militer dapat membangun interoperabilitas dari tahap perancangan hingga peluncuran.
Kedua pemerintah belum mengungkapkan biaya dari program dua satelit ini atau timeline kapan payload kedua akan mencapai status operasional penuh.
Pihak Angkatan Luar Angkasa menganggap peluncuran ini lebih sebagai tonggak aliansi daripada terobosan teknis tertentu.
Hal ini penting karena aksi pengawasan dari satu payload yang dihosting kemungkinan akan bersifat inkremental, bukan transformasional secara langsung.
Uji sebenarnya dari program ini adalah apakah ia mampu menghasilkan data yang bisa dipakai dan tepat waktu yang dapat mengubah cara AS dan Jepang merespons aktivitas di orbit geosynchronous.

