Indonesia telah memulai pembangunan proyek gas alam cair (LNG) Abadi Masela yang tertunda selama hampir tiga dekade dengan nilai mencapai US$21 miliar. Pembangunan ini dilakukan pada Kamis (16 Juli) dan menjadi langkah signifikan dalam memperkuat ketahanan energi domestik negara ini.
Proyek ini berlokasi di Blok Masela di Indonesia timur dan dikembangkan oleh Inpex Corp dari Jepang, bekerja sama dengan Pertamina dan Petronas. Abadi Masela diperkirakan akan menjadi salah satu sumber gas alam terbesar di Indonesia, yang tidak hanya memperkuat ketahanan energi dalam negeri, tetapi juga mempertahankan posisi negara sebagai eksportir LNG utama. Produksi diharapkan akan dimulai sekitar tahun 2029 atau 2030.
Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, menyatakan bahwa proyek ini ditargetkan untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, di samping 150 juta kaki kubik gas per hari dan 35.000 barel kondensat per hari. Sekitar 60 persen dari output gas akan dialokasikan untuk pasar domestik, dengan prioritas pada industri hilir seperti produksi pupuk.
Pembangunan proyek ini juga akan mengintegrasikan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, menjadikannya pionir di antara proyek LNG berskala besar di Indonesia yang mengedepankan langkah-langkah pengurangan emisi sejak awal.
Proyek yang Tertunda Lama
Perayaan peletakan batu pertama ini menjadi ujian bagi kemampuan Indonesia dalam melaksanakan investasi berskala besar dan meyakinkan investor asing bahwa proyek-proyek bernilai miliaran dolar dapat berjalan. Proyek ini pertama kali direncanakan pada akhir 1990-an, namun mengalami penundaan berulang kali karena perubahan regulasi, revisi rencana pengembangan, dan pergeseran prioritas investasi.
Lapangan gas Abadi Masela memiliki cadangan gas alam sebesar 6,97 triliun kaki kubik, menjadikannya salah satu sumber gas offshore terbesar yang belum dikembangkan di Indonesia. Terletak sekitar 160 km dari Pulau Yamdena di Laut Arafura, lapangan ini berada di kedalaman antara 400 hingga 800 meter.
Kontrak bagi hasil untuk Blok Masela ditandatangani pada November 1998 saat pemerintahan Presiden BJ Habibie. Meskipun hampir tiga dekade berlalu sejak perjanjian itu, proyek ini baru akan memproduksi gas pertamanya.
Proses pengembangan terhambat oleh bertahun-tahun kerja eksplorasi, revisi rencana pengembangan, dan negosiasi berlarut-larut mengenai struktur investasi. Titik balik terjadi pada 2016 ketika pemerintah Indonesia mengharuskan fasilitas pemrosesan LNG dibangun di darat, bukan di laut, yang memaksa pengembang untuk meredesain proyek dan meningkatkan biaya secara signifikan.
Untuk mengatasi penundaan ini, Jakarta memperpanjang kontrak bagi hasil awal, pertama selama 20 tahun hingga 2048 dan kemudian tujuh tahun lagi hingga 2055. Takayuki Ueda, Presiden dan CEO Inpex, menyatakan bahwa proyek Masela adalah salah satu investasi luar negeri terpenting bagi perusahaan Jepang ini.
Pendorong Ketahanan Energi
Presiden Prabowo Subianto menjadikan kemandirian energi sebagai salah satu prioritas pemerintahannya. Dia menekankan pentingnya proyek ini di tengah meningkatnya permintaan gas domestik.
“Kita harus terus melakukan industrialisasi hilir, yang memerlukan energi. Indonesia memiliki sumber daya energi melimpah, dan meskipun terdapat ketidakpastian global, kita siap untuk menjaga stabilitas negara,†kata Prabowo saat acara peletakan batu pertama.
Kekhawatiran terhadap pasokan yang dipicu oleh ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Iran yang berdampak pada pasar minyak dan gas global, semakin memperkuat dorongan Jakarta untuk mengembangkan sumber daya energi domestik yang strategis demi mengurangi kerentanan terhadap guncangan eksternal.
Kebanyakan gas alam Indonesia digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Sekitar 69 persen dari total pasokan gas negara dialokasikan untuk pasar domestik, mendukung industri dan pembangkit energi, sementara 31 persen sisanya diekspor. Indonesia sebelumnya merupakan eksportir LNG terbesar di dunia, namun pangsa pasar itu telah menurun seiring dengan penurunan produksi dari ladang-ladang gas yang sudah tua.
Ketegangan di Timur Tengah telah mendorong harga LNG spot Asia mencapai sekitar US$20,20 per MMBtu, tertinggi sejak akhir Maret. Namun, prospek LNG Asia dalam dekade berikutnya tetap positif, dengan proyeksi pasokan LNG regional meningkat hingga 104 miliar meter kubik.
Indonesia dan Australia diperkirakan akan menjadi penggerak utama kapasitas LNG baru di kawasan ini. Namun, pertumbuhan jangka panjang wilayah ini sangat tergantung pada kemampuan Indonesia untuk menghidupkan kembali eksplorasi dan produksi hulu, serta mempercepat pengembangan penemuan gas yang sudah ada, termasuk proyek besar seperti Blok Masela.

