Thailand berencana mempercepat adopsi energi matahari dan sumber energi terbarukan lainnya untuk mengurangi dampak dari biaya energi yang meningkat.
Menurut Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas, Thailand memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi selama dua tahun ke depan akibat konflik di Timur Tengah. Ini menandakan tekanan yang berkepanjangan bagi negara yang sudah bergantung pada energi itu dan sedang berjuang melawan biaya yang terus meningkat serta pertumbuhan yang melambat.
Infrastruktur energi di Timur Tengah mengalami gangguan sangat parah, sehingga pasokan minyak dan gas mungkin memerlukan waktu satu hingga dua tahun untuk kembali stabil. Pernyataan ini disampaikan Ekniti saat debat di parlemen setelah pernyataan kebijakan pemerintah.
“Harga minyak yang rendah adalah masa lalu, setidaknya untuk satu hingga dua tahun ke depan,” ujarnya.
Pemerintah berencana untuk mempercepat penggunaan energi solar, biofuel, dan energi terbarukan lainnya agar rumah tangga dan bisnis dapat mengatasi biaya energi yang lebih tinggi. Upaya ini jadi langkah penting bagi Thailand dalam menghadapi tantangan energi global saat ini.
Selama ini, Thailand mengandalkan subsidi diesel untuk melindungi rumah tangga dan industri. Menurut pejabat terkait, dana minyak negara saat ini mengeluarkan sekitar 1,24 miliar baht (sekitar S$49 juta) per hari, yang menyebabkan defisit lebih dari 57,7 miliar baht.
Ekniti menyebutkan bahwa dana tersebut adalah garis pertahanan pertama pemerintah, dan menolak permintaan dari anggota parlemen oposisi untuk memotong pajak bahan bakar, dengan alasan dampaknya akan sama saja dan justru mengurangi pendapatan yang dibutuhkan untuk layanan publik.
Pemerintah juga mempertimbangkan langkah-langkah dukungan tambahan. Kabinet setempat dijadwalkan untuk meninjau bantuan lebih lanjut, terutama untuk sektor transportasi dan kelompok rentan seperti petani dan nelayan. Selain itu, mereka juga sedang mempersiapkan dana darurat jika konflik berlanjut lebih lama.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul telah berjanji untuk memberikan bantuan yang lebih luas, termasuk merestrukturisasi harga energi, mengalihkan pengeluaran pemerintah, serta mendistribusikan bantuan tunai dan pinjaman bersubsidi.
Guncangan energi ini sudah mulai memengaruhi prospek ekonomi Thailand. Para ekonom mulai memangkas proyeksi pertumbuhan negara itu, karena biaya bahan bakar yang meningkat berdampak pada konsumsi dan mengganggu ekspor serta pariwisata, dua aspek penting dalam perekonomian. Perkembangan ini tentu menjadi sinyal penting yang perlu diperhatikan oleh para investor dan pelaku pasar.

