AirAsia X kini mengambil langkah berani dalam menghadapi perubahan kondisi pasar. Di tengah penurunan harga bahan bakar, maskapai penerbangan ini memutuskan untuk memangkas tarif dan menghidupkan kembali penerbangan yang sempat terhenti akibat lonjakan harga BBM. Langkah ini diharapkan bisa mendorong kembali minat terbang masyarakat yang sempat terpengaruh situasi sebelumnya.
Namun, tak semua segalanya berjalan mulus. AirAsia X menggambarkan bahwa biaya bandara yang terus meningkat di Asia Tenggara bisa menjadi tantangan besar berikutnya bagi industri penerbangan. CEO grup, Bo Lingam, mengungkapkan bahwa maskapai ini telah mengurangi tarif penerbangan sekitar 5 persen sejak 15 Juni dan berencana untuk terus menurunkan harga tiket jika biaya bahan bakar tetap stabil.
“Kami ingin semua pesawat kami terbang dan penuh. Ketika harga bahan bakar turun, kami ingin tarif juga turun,†kata Lingam. Ini adalah kabar baik bagi banyak penumpang yang merindukan tarif aviasi yang lebih terjangkau. Sebelumnya, harga tiket telah melonjak tajam akibat krisis harga energi yang diperparah oleh konflik di Timur Tengah.
Krisis tersebut memberikan pukulan berat bagi keuangan AirAsia X. Menurut laporan, maskapai ini mengalami kerugian sekitar RM150 juta (sekitar S$47 juta) hanya di bulan Maret akibat lonjakan harga bahan bakar. Hal itu memaksa mereka untuk memangkas kapasitas dan menangguhkan beberapa rute yang tidak menguntungkan.
Dengan meredanya harga bahan bakar setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, AirAsia X mulai menghidupkan kembali banyak penerbangan yang sebelumnya terhenti. Lingam menambahkan bahwa kapasitas yang dihilangkan selama krisis diharapkan bisa dipulihkan menjelang akhir Agustus atau awal September, meskipun beberapa rute yang sebelumnya kurang menguntungkan mungkin tidak akan kembali.
Selama periode sulit ini, AirAsia X juga menggunakan waktu untuk memperkuat operasional. Mereka mengajukan negosiasi ulang kontrak dengan lessor, pemasok, dan penyedia layanan, sambil mempercepat pekerjaan pemeliharaan di seluruh armada mereka. Sekarang, hanya tujuh pesawat yang masih tertahan menunggu penggantian mesin, sementara sisanya siap kembali beroperasi seiring dengan meningkatnya permintaan.
Meski ada gangguan baru-baru ini, permintaan penumpang AirAsia X tetap kuat. Mereka mencatat rata-rata load factor sebesar 83 persen antara Januari dan Mei. Ini menunjukkan bahwa meski tantangan ada, banyak penumpang masih mengandalkan layanan mereka.
Rute Jakarta-Singapura Dihentikan karena Biaya Bandara Naik
Kendati harga bahan bakar mulai mereda, Lingam memperingatkan bahwa biaya bandara yang meningkat kini jadi beban berat bagi maskapai dan bisa mengancam upaya mereka untuk menjaga tarif penerbangan tetap terjangkau. Contohnya, di Singapura, biaya bandara yang tinggi menjadi alasan AirAsia X untuk menghentikan rute Jakarta-Singapura.
“Pajak bandara di Singapura sekitar S$72. Tidak masuk akal jika tarif dari Jakarta ke Singapura lebih rendah dari pajak bandara itu,†kata Lingam. Pembenahan biaya di Bandara Changi juga akan dilaksanakan secara bertahap selama enam tahun ke depan untuk mendanai proyek peningkatan terminal senilai S$3 miliar.
Lingam juga menyoroti bahwa Thailand baru-baru ini menaikkan biaya bandara internasional dari 730 baht menjadi 1.190 baht (sekitar S$44,18) per penumpang, berlaku efektiv sejak 20 Juni. Kenaikan ini berimbas pada pembatalan penerbangan dan perubahan rute bagi sejumlah penumpang, khususnya antara Jakarta dan Bangkok.
Sebagai bagian dari upaya optimasi jaringan AirAsia X di tengah biaya operasional yang meningkat, Lingam menyebut bahwa potongan rute dan perubahan penerbangan memang diperlukan. Namun, dia menegaskan, rute Jakarta-Bangkok bisa dipulihkan dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan kembalinya kapasitas. “Stakeholder penerbangan perlu bekerja sama dengan industri pariwisata. Jangan sembarangan menaikkan biaya bandara, karena itu akan memengaruhi pariwisata,†imbuhnya.
Pensiun Pesawat Lama dan Rencana Ekspansi
Di tengah berbagai tantangan, AirAsia X tetap berpegang teguh pada rencana ekspansi jangka panjang. Rute Bahrain masih direncanakan untuk diluncurkan pada Agustus 2026 setelah mengalami penundaan, sementara kembalinya layanan menuju London juga ditargetkan untuk Agustus tahun depan. Ini akan menjadi momen spesial, karena setelah lebih dari satu dekade keluar dari pasar Eropa, kini mereka siap kembali.
Rencana peluncuran kedua rute tersebut sempat tertunda akibat fluktuasi harga bahan bakar, namun strategi ekspansi mereka tetap konsisten. Layanan ini akan dioperasikan menggunakan pesawat Airbus A330, meskipun mereka bergerak ke arah penggunaan pesawat Airbus A321LR dan A321XLR yang lebih efisien untuk pertumbuhan di masa depan.
Sementara itu, maskapai ini juga mempercepat program pembaruan armada dalam dua tahun ke depan dengan mengakuisisi pesawat Airbus A321LR baru, sambil mengganti pesawat A320ceo yang lebih tua di operasi mereka di Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Lingam mengumumkan akuisisi dua unit A321LR tahun ini, dengan tujuh unit lagi diharapkan sampai 2027 untuk meningkatkan efisiensi penerbangan jarak menengah ke destinasi seperti Busan dan Incheon.
Secara bersamaan, AirAsia X akan mengembalikan sekitar 12 pesawat A320ceo yang lebih tua kepada lessor guna memperbarui armada dan mengoptimalkan biaya.

