[BANGKOK] Seorang remaja di Thailand yang terlibat dalam penembakan mematikan di luar Bangkok diketahui pernah kehilangan senjata angin yang disita oleh gurunya pada tahun 2025 dan sering menonton konten kekerasan di internet, kata polisi pada hari Minggu (9 Agustus). Pemerintah pun berjanji akan memperkenalkan protokol keselamatan baru untuk sekolah-sekolah.
Saat penyelidikan masih berlangsung mengenai aksi brutal yang terjadi pada hari Jumat, di mana seorang bocah berusia 14 tahun diduga membunuh kakek dan neneknya di rumah sebelum menembaki enam orang di sekolahnya dan akhirnya mengarahkan senjatanya pada diri sendiri, polisi menyatakan bahwa bocah tersebut menggunakan media sosial untuk mempelajari cara menggunakan senjata api.
Deputi Komisaris Kepolisian Regional 1, Atthapol Anusit, mengungkapkan kepada wartawan bahwa, “Berdasarkan wawancara dengan saksi, pelaku sudah mulai menunjukkan minat dalam mempelajari penggunaan senjata api selama sekitar satu hingga dua tahun terakhir.”
Atthapol yang telah mewawancarai 17 saksi sejauh ini juga menambahkan bahwa sebuah pisau ditemukan di tas bocah tersebut, dan barang bukti lain di lokasi kejadian termasuk senjata api, selongsong peluru, serta komputer pribadi.
“Setelah memeriksa PC tersebut, ditemukan bahwa anak itu sering menonton konten kekerasan di media sosial,” lanjut deputi komisaris. Namun, ia menegaskan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan bocah ini telah melakukan latihan menembak.
Ia juga menjelaskan bahwa pada tahun 2025, seorang guru pernah menyita sebuah senjata BB, yang merupakan jenis senjata angin, yang dibawa pelaku ke sekolah. Bocah ini tinggal bersama kakek dan neneknya selama 12 tahun setelah orang tuanya berpisah, ujar Atthapol.
Kementerian Pendidikan Thailand mengumumkan rencana pengembangan protokol keselamatan baru dalam tiga bulan ke depan, termasuk penyaringan kesehatan mental dan sistem untuk merujuk orang-orang yang berisiko ke spesialis, simulasi rencana tanggap darurat, kampanye anti-bullying, serta deteksi yang lebih baik untuk mencegah barang-barang dibawa masuk ke sekolah.
Bersama dengan mereka yang tewas, lebih dari 20 orang mengalami luka dalam penembakan massal terburuk di Thailand sejak tahun 2022. Peristiwa ini kembali memicu debat mengenai pengendalian senjata api di negara dengan kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara.

