Keputusan Bank Dunia untuk mengklasifikasikan Filipina sebagai negara berpenghasilan menengah atas adalah tonggak penting yang sudah lama dinantikan oleh Manila, setelah tahun lalu negara ini hanya terpaut US$26 dari ambang batas tersebut.
Pengumuman upgrade ini, yang disampaikan pekan lalu, sebagian besar didorong oleh ekspansi multisektoral yang meningkatkan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita Filipina menjadi US$4,850.
Walau pemerintahan Marcos mengklaim bahwa peningkatan penghasilan ini adalah bukti ketahanan makroekonomi negara, di balik pengakuan itu tersembunyi kenyataan yang kurang menggembirakan. Inflasi yang terus-menerus, produktivitas yang melambat, dan pasar tenaga kerja yang rapuh menunjukkan bahwa kenaikan Filipina di tangga penghasilan belum menghasilkan manfaat yang merata bagi seluruh masyarakat.

