[BANGKOK] Kementerian Perdagangan Thailand mengumumkan pada Senin (6 April) bahwa mereka akan memperketat ekspor minyak sawit mentah dan mengendalikan harga minyak sawit kemasan mulai 7 April. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya permintaan biodiesel akibat lonjakan harga bahan bakar global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, langkah-langkah ini, termasuk pemeliharaan cadangan energi, tidak akan berdampak pada para petani, yang akan tetap mendapatkan perlindungan dari pemerintah, kata kementerian tersebut.
Thailand, sebagai produsen minyak sawit terbesar ketiga di dunia, diperkirakan akan memproduksi 21,9 juta ton minyak sawit dan 3,9 juta ton minyak sawit mentah pada tahun 2026, menurut kantor Ekonomi Pertanian.
Dalam perintah yang dipublikasikan di Royal Gazette pada hari Minggu, Thailand telah memperketat kontrol atas ekspor minyak sawit mentah dengan mewajibkan eksportir untuk meminta persetujuan pemerintah sebelum mengirimkan komoditas ini ke luar negeri.
Tindakan ini mulai berlaku pada hari Selasa dan akan berlangsung selama satu tahun.
Perintah kontrol izin yang ditandatangani pada 3 April oleh Direktur Jenderal Departemen Perdagangan Dalam Negeri, mengharuskan eksportir untuk memberikan rincian seperti negara tujuan, volume ekspor, dan harga di mana komoditas akan dijual.
Eksportir juga diwajibkan untuk mengajukan faktur kepada pihak berwenang dalam waktu tiga hari setelah pengiriman, dengan setiap izin yang diberikan valid hanya untuk 30 hari, seperti yang tercantum dalam perintah tersebut.
Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan di pasar, sekaligus mempertahankan harga yang wajar bagi konsumen dan petani lokal. Indonesia dan Malaysia, sebagai dua negara penghasil utama lainnya, juga diperkirakan akan merespons kebijakan ini mengingat dinamisnya pasar minyak sawit global.
Kenaikan permintaan biodiesel seiring dengan lonjakan harga bahan bakar menjadi hal penting bagi pemerintah Thailand. Kebijakan ini diharapkan bisa mengatasi tantangan yang muncul dari ketidakstabilan harga di dunia, dan memberikan rasa aman bagi para pelaku usaha dan konsumen.
Thailand tengah bersiap menghadapi tahun yang penuh tantangan dengan fluktuasi harga yang tajam di pasar global. Oleh karena itu, ketepatan dalam kebijakan perdagangan akan sangat krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, terutama bagi sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi negara.
Dengan langkah-langkah ini, Thailand menunjukkan komitmennya untuk melindungi kepentingan petani dan memastikan ketahanan pangan, sekaligus beradaptasi dengan perubahan pasar yang dinamis. Kebijakan ini juga menjadi sinyal bagi para investor dan pelaku bisnis bahwa pemerintah serius dalam mengelola sektor pertanian dan menjaga kepercayaan pasar.

