Perdebatan baru dalam komunitas XRP Ledger (XRPL) kembali menghangatkan diskusi seputar hubungan antara stablecoin, pembayaran, dan XRP. Hal ini terjadi seiring dengan semakin meluasnya kehadiran jaringan ini dalam bidang keuangan terdesentralisasi (DeFi), tokenisasi, serta pembayaran lintas negara.
Diskusi ini dimulai ketika peneliti XRPL, Eri, menyoroti penggunaan stablecoin utama oleh Ripple, seperti Tether (USDT) dan USD Coin (USDC), untuk mendukung aliran pembayaran On-Demand Liquidity (ODL). Meskipun stablecoin semakin sering digunakan dalam infrastruktur pembayaran, Eri berpendapat bahwa likuiditas di XRPL tetap menjadi komponen kunci dari sistem ini.
Jake on🥪Stablecoin Sandwich
He’s correct (on these 2 points😇🩷)
1. @Ripple has used Tether & USDC Stablecoins to bridge ODL. Cheaper | Faster on XRPL DEX💯🎯. It’s why @Vet_X0 always talks more quality assets & @XRPLF lead @MollinBrett talks LIQUIDITY.
2. XRP = Many use cases… pic.twitter.com/RRPiQmIosa
— 🌸Eri ~ Carpe Diem (@sentosumosaba) June 18, 2026
Eri juga menekankan bahwa utilitas XRP melampaui sekadar pembayaran. Menurutnya, aset digital ini bisa berfungsi sebagai jaminan dalam aplikasi keuangan dan memiliki peran yang lebih besar dalam produk DeFi yang sedang dikembangkan di XRP Ledger.
Kenapa para pengembang XRPL menganggap XRP dan stablecoin saling melengkapi?
Perdebatan ini semakin menarik perhatian setelah Vet, seorang validator dUNL XRPL dan kontributor untuk Yayasan XRPL, membagikan pandangannya bahwa XRP dan stablecoin dirancang untuk bekerja bersama, bukan bersaing.
Vet menjelaskan bahwa pembayaran yang disebut “stablecoin sandwich” berfungsi mirip dengan aliran pembayaran standar, bukan transaksi lintas mata uang. Dalam model ini, konversi mata uang bisa terjadi baik di ujung pengirim maupun penerima tanpa memerlukan pertukaran di bursa terdesentralisasi XRPL.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa sistem pembayaran yang dapat diandalkan tetap bergantung pada aset berkualitas tinggi dan stablecoin untuk menyediakan likuiditas dan mendukung transaksinya yang efisien.
Debat lain yang diungkapkan oleh David Schwartz menyoroti bagaimana imbal hasil staking crypto seharusnya dikenakan pajak jika XRP Ledger mengintroduksi sistem staking bawaan.
Peran XRP sebagai aset jembatan tetap penting
Sementara stablecoin semakin dikenal di berbagai jaringan blockchain, Vet mengemukakan bahwa XRPL tetap membutuhkan aset jembatan saat semakin banyak mata uang yang beredar dalam ekosistem.
Tanpa adanya aset jembatan yang umum, likuiditas bisa menjadi terfragmentasi di berbagai pasangan perdagangan, sehingga membuat transaksi menjadi kurang efisien. Menurut Vet, XRP dicirikan dengan potensi besar untuk mengisi peran itu saat menjembatani berbagai aset di XRPL.
Dia juga menambahkan bahwa aset jembatan di jaringan terdesentralisasi sebaiknya tetap netral dan tidak bergantung pada penerbit tunggal.
Pertumbuhan stablecoin memperluas ekosistem XRPL
Diskusi ini muncul seiring Ripple yang terus mengembangkan strategi stablecoin-nya. Stablecoin RLUSD milik perusahaan baru-baru ini telah memperluas jangkauannya di lebih dari 40 jaringan blockchain, meningkatkan akses terhadap pembayaran, likuiditas institusional, dan aset ter-tokenisasi.
Selain itu, utilitas XRPL juga meluas dari sekadar pembayaran menjadi tokenisasi, pinjaman, dan aplikasi DeFi. Usulan terbaru untuk meningkatkan pembuat pasar otomatis (AMM) jaringan dengan fitur StableSwap dan likuiditas terpusat diharapkan bisa meningkatkan efisiensi harga untuk stablecoin dan aset dunia nyata.
Walaupun pendapat tentang apakah stablecoin akan mengurangi atau meningkatkan permintaan untuk XRP masih terbagi, diskusi terbaru ini menyoroti pandangan yang berkembang di antara pengembang XRPL bahwa keduanya berfungsi masing-masing dalam ekosistem keuangan yang terus berubah.

