Membahas soal moonlighting atau memiliki lebih dari satu pekerjaan, topik ini jadi perdebatan hangat di industri teknologi. Baru-baru ini, dalam sebuah retret sumber daya manusia, saya berdiskusi dengan para pemimpin di bidang ini. Beberapa di antara mereka menganggap bahwa moonlighting itu etis dan bahkan perlu di tengah kondisi ekonomi saat ini. Namun, ada juga yang percaya bahwa itu tidak pernah dapat diterima, terlepas dari situasinya.
Di pasar tenaga kerja saat ini, mendapatkan satu pekerjaan di sektor teknologi semakin kompetitif. Jika kamu beruntung bisa mendapatkan lebih dari satu peran, bagaimana caranya agar tetap etis? Sebagai pelatih karir yang mengkhususkan diri di industri teknologi, saya sudah membantu banyak klien yang menghadapi dilema ini. Mari kita eksplorasi beberapa langkah yang bisa diambil agar kamu tetap bekerja dan hidup sesuai dengan nilai-nilaimu.
1. Tinjau kontrak kerja kamu
Terlepas dari pendapatmu tentang moonlighting, memeriksa kontrak kerjamu adalah langkah yang cerdas saat mempertimbangkan untuk memegang lebih dari satu peran di industri teknologi. Banyak karyawan yang menandatangani sejumlah dokumen saat bergabung dengan perusahaan, namun jarang yang kembali merujuk pada dokumen itu. Jika kamu berencana untuk moonlighting, pastikan untuk meninjau semua janji yang telah kamu buat.
Kebijakan mengenai moonlighting sangat bervariasi antar perusahaan dan sering kali tergantung pada tingkat jabatan. Banyak perusahaan teknologi yang mengharuskanmu menandatangani perjanjian yang menyatakan kamu tidak boleh bekerja untuk kompetitor secara bersamaan. Namun, di tingkat junior, sering kali mereka tidak langsung melarang pekerjaan di luar itu. Di taraf eksekutif, bisa jadi segala pekerjaan di luar perusahaan memerlukan persetujuan atau bahkan dilarang sama sekali.
2. Tentukan tujuan kamu
Jadi jelas tentang alasanmu ingin bekerja di beberapa tempat. Meskipun peningkatan pendapatan adalah alasan umum untuk moonlighting, banyak juga yang mencari pengalaman atau keterampilan yang tidak didapatkan di pekerjaan utama mereka.
Sebelum mengambil posisi kedua, pertimbangkan apakah kamu sudah memanfaatkan semua peluang di tempat kerjamu saat ini. Banyak klien yang saya temui ingin mendapatkan pengalaman baru dan berpikir bahwa mereka harus mencarinya di luar perusahaan. Setelah berbicara dengan manajer mereka, ternyata peluang itu sudah tersedia di tempat mereka bekerja. Mereka meremehkan perusahaan dengan menganggap akan ditolak.
Saya tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang sama. Saring tujuanmu terlebih dahulu. Mungkin saja pengalaman yang kamu cari sebenarnya sudah bisa dijangkau.
3. Perhatikan logistik dengan seksama
Sering terjadi, karyawan menggunakan laptop, telepon, atau Wi-Fi perusahaan untuk pekerjaan yang tidak terkait. Ini sudah jadi area abu-abu, dan potensi campur aduk bisa meningkat pesat jika kamu menggunakan sumber daya perusahaan untuk pekerjaan kedua atau ketiga. Jadi pikirkan dua kali sebelum menggunakan perangkat yang disediakan perusahaan untuk hal-hal di luar peran utamamu.
Perusahaan semakin banyak yang menggunakan AI dan alat pemantau untuk melacak aktivitas karyawan. Hal terakhir yang kamu inginkan adalah kehilangan pekerjaan utama akibat kelalaian. Jaga agar setiap pekerjaan tetap terpisah secara digital dan teknis.
Salah satu klien saya saat ini memiliki empat pekerjaan penuh waktu. Daripada mengambil risiko kebingungan, ia menempatkan empat laptop berdampingan untuk memastikan pemisahan yang jelas. Ia bahkan mendapatkan pujian di semua peran karena melampaui ekspektasi kinerja.
4. Ketahui batasanmu sebelum melampaui kapasitas
Mengambil banyak peran bukan hanya tantangan logistik, tapi juga masalah nilai. Jika kamu menerima tawaran kedua atau ketiga dengan mengetahui bahwa kapasitasmu terbatas, itu sudah jadi pilihan yang kurang etis, terlepas dari bagaimana cara kamu mengemasnya.
Sebelum menerima tawaran lain, tanyakan pada dirimu: Bagaimana performaku di pekerjaan saat ini? Apakah aku punya waktu lebih dalam jadwalku atau malah sedang terbebani? Apa yang akan terjadi pada kesehatan mentalku jika aku menambah pekerjaan?
Klien saya yang memiliki empat laptop bukan sekadar cerita mengesankan. Ia juga orang yang sudah merenungkan kapasitas dirinya sebelum berkomitmen. Kesadaran akan diri ini yang membedakan antara moonlighting yang sukses dan yang sia-sia.
5. Tentukan bagaimana cara berkomunikasi dengan manajer
Sebelum membuat keputusan soal transparansi, periksa apakah ada kewajiban untuk mengungkapkan hal ini di kontrak kerja atau kebijakan perusahaan. Jika tidak diwajibkan, berpikir kritis tentang hubunganmu dengan manajer dan bagaimana tanggapan mereka terhadap topik sensitif sebelumnya. Meskipun transparansi sukarela dapat membangun kepercayaan, itu juga membuka pembicaraan yang sulit untuk dibatalkan.
Apa pun yang kamu putuskan, jangan biarkan kinerja di pekerjaan utama menurun. Ini adalah sinyal paling jelas bahwa ada yang tidak beres. Ini juga menjadi alasan kuat mengapa pembicaraan yang tidak kamu inginkan bisa terjadi.
Pemikiran Akhir
Moonlighting tidak selalu etis atau tidak etis, dan tidak ada jawaban yang universal. Yang terpenting adalah bagaimana cara kamu melakukannya. Lindungi diri sendiri, jaga integritas, dan pertahankan reputasimu. Kamu pasti bisa!

