Menurut Perdana Menteri Singapura, konsensus yang jelas tentang ratifikasi pakta regional terkait energi dan keamanan adalah ungkapan solidaritas Asean. Hal ini diungkapkan oleh PM Lawrence Wong pada hari Sabtu, 9 Mei, di Cebu. Ia menyatakan bahwa Asean memiliki kapasitas yang lebih baik untuk membentuk hasil dan mengelola guncangan dalam dunia yang semakin terfragmentasi jika bekerja bersama sebagai blok.
Solidaritas ini juga ditegaskan oleh semua pemimpin dari 11 negara anggota Asean pada hari sebelumnya, di mana mereka sepakat untuk menjaga Asean tetap kuat dan bersatu serta melanjutkan upaya integrasi lebih lanjut. Dalam pernyataan bersama, mereka menyampaikan pandangan tentang situasi di Timur Tengah dan juga menyepakati deklarasi tentang kerja sama maritim di akhir KTT Asean.
PM Wong menjelaskan bahwa mereka melakukan diskusi terbuka mengenai konflik yang dihadapi. Mereka sepakat bahwa tantangan yang ada membuat mereka harus lebih bekerja keras untuk memperkuat ketahanan kolektif, khususnya dalam hal keamanan energi dan pangan. Pertemuan ini dianggap sangat produktif.
Dalam konteks global yang baru ini, di mana lingkungan geopolitik semakin kompetitif dan terfragmentasi, solidaritas dan persatuan Asean akan semakin penting. PM Wong menyatakan bahwa fokus saat ini bukan hanya pada aturan, tetapi lebih pada kekuasaan, keamanan, dan ketahanan.
Di situasi baru ini, negara-negara, terutama yang lebih kecil dan menengah, akan menemukan lebih banyak tantangan dalam menghadapi masalah yang muncul. Dengan bekerja sama, Asean akan memiliki suara kolektif yang lebih kuat.
Value besar ada pada kemampuan negara-negara anggota untuk bekerja sama sebagai grup. Konsensus yang jelas pada ratifikasi pakta energi dan keamanan secara nyata memperlihatkan solidaritas ini. Dalam menghadapi gangguan energi dan perdagangan yang disebabkan oleh perang di Iran serta penutupan efektif Selat Hormuz, PM Wong dan rekan-rekannya mendorong ratifikasi cepat dari Asean Petroleum Security Agreement (APSA) dan perjanjian yang ditingkatkan atas Asean Trade in Goods Agreement (ATIGA).
APSA, yang baru diperbarui pada 2025, memberikan kerangka kerja untuk berbagi minyak bumi selama keadaan darurat. Sementara itu, ATIGA mencakup ketentuan krisis dan komitmen terkait perdagangan barang-barang penting, termasuk makanan dan pasokan medis. Ketika ditanya tentang jadwal untuk mengimplementasikan pakta-pakta ini, PM Wong menyatakan bahwa ada konsensus jelas untuk meratifikasi dengan cepat, meskipun setiap negara harus mengikuti timeline domestiknya sendiri.
PM Wong juga menyebutkan adanya ide-ide baru yang dibahas selama pertemuan yang diharapkan akan terus berlanjut dalam KTT berikutnya atau saat Singapura mengambil alih kepemimpinan pada 2027. Salah satu idenya adalah tentang penyimpanan bahan bakar regional. Ia mencatat contoh cadangan beras darurat Asean Plus Three yang dibentuk pada 2011 dan dibahas kemungkinan penerapan konsep serupa untuk energi, baik di dalam Asean maupun dengan mitra eksternal.
Meski pembicaraan ini masih di tahap awal dan belum terperinci, para menteri Asean perlu meneliti minat dan kelayakan untuk ditindaklanjuti. Baik APSA, ATIGA, atau perjanjian lainnya, semua pengaturan ini akan membantu saling dukung antar negara anggota dan memberikan manfaat konkret bagi masyarakat dan bisnis di masing-masing negara. Dengan bersatu, Asean dapat mengurangi kerentanan dan meredakan dampak guncangan terhadap bisnis dan pekerja.
Rencana Kepemimpinan Singapura 2027
Singapura dijadwalkan akan mengambil alih kepemimpinan Asean pada 2027, menggantikan Filipina. Kepemimpinan Asean bergilir di antara anggota secara urut alfabet, dengan Thailand akan menjadi ketua selanjutnya pada 2028. Mengenai prioritas Singapura sebagai ketua, PM Wong mengatakan bahwa hal ini masih dalam pembahasan.
Tema-tema utama akan berkisar pada memperkuat ketahanan kolektif, melanjutkan upaya integrasi, dan membangun agenda komunitas. Semua prioritas ini harus tetap menjadi fokus, meskipun langkah dan fokus spesifik dapat bervariasi antar ketua. PM Wong mengatakan bahwa perhatian terhadap isu Myanmar juga kemungkinan akan menjadi bagian penting dalam kepemimpinan Singapura, terutama setelah ia mengangkat topik tersebut dalam sesi retreat KTT.
Singapura akan melanjutkan upaya untuk membawa Myanmar kembali ke dalam komunitas Asean melalui Lima Poin Konsensus, sebuah rencana damai yang dirumuskan tahun 2021 setelah Myanmar mengalami perang saudara akibat kudeta militer. PM Wong menegaskan bahwa Asean telah memiliki kerangka kerja untuk ini dan akan tetap berpegang pada kerangka tersebut, meskipun ia mengakui bahwa isu ini rumit dan memerlukan dialog yang inklusif dengan semua pihak terlibat di Myanmar.
Dengan sabar, Asean akan terus berupaya berinteraksi dengan otoritas Myanmar, mendorong mereka untuk mengambil langkah konkret. Singapura akan berkoordinasi dengan ketua saat ini, Filipina, untuk memastikan kepemimpinan yang lancar dan berkelanjutan.

