Siapa sih yang tidak ingin mencapai kesuksesan? Ken Rideout, seorang atlet endurance, pengusaha, dan mantan trader Wall Street, punya pandangan unik tentang pencapaian yang akan bikin kamu mikir ulang tentang cara hidup dan kerja keras.
Di tengah kesibukannya, Rideout baru saja meluncurkan memoirnya yang berjudul Everything You Want Is On the Other Side of Hard. Tapi lucunya, dia mengungkapkan, “Saya akan lebih senang jika buku ini masuk daftar New York Times.” Bagi dia, kemenangan bukanlah akhir dari segalanya. Yang lebih penting adalah seberapa dekat kamu bisa mencapai standar yang kamu tetapkan untuk diri sendiri dan seberapa cepat kamu bisa meningkatkannya lagi.
Rideout bukan sekadar seorang juara lomba marathon. Dia salah satu pelari marathon tercepat di dunia di atas usia 50 tahun. Namun, perjalanan hidupnya enggak selalu mulus. Dia pernah berjuang melawan kecanduan opioid selama bertahun-tahun sebelum akhirnya berhasil pulih pada 2010. Dalam podcast “One Day with Jon Bier”, dia berbagi tentang disiplin, mengatasi rasa sakit, dan alasan mengapa banyak orang sering gagal mencapai tujuan mereka.
Stop Bernegosiasi dengan Diri Sendiri
Rideout berpendapat, banyak orang sering kalah dalam pertarungan sehari-hari karena mereka menghabiskan waktu untuk bernegosiasi dengan diri sendiri. “Begitu kamu berhenti bernegosiasi dengan dirimu, luar biasa sekali apa yang bisa kamu capai,” katanya. Kalau ada yang harus dilakukan, dia melakukannya tanpa banyak berpikir.
Dia melihat perdebatan internal itu sebagai penghalang utama. Ketika kamu mulai ragu untuk bertindak, entah itu bangun pagi lebih awal, melakukan panggilan penting, atau bertahan dalam situasi sulit, kamu sudah menciptakan jalan keluar yang akan menghalangi kamu dari pencapaian.
Solusi Rideout adalah menghilangkan opsi itu. “Kamu bangun dan urus urusanmu,” ujarnya tegas.
Bayar Sekarang atau Bayar Nanti
Pemikiran ini muncul setelah melihat konsekuensi dari tidak berusaha lebih awal. “Saya menyesal tidak belajar lebih dini. Seharusnya saya bisa mengambil MBA di Harvard atau Yale,” ujarnya. Sayangnya, Rideout telah memilih jalan yang lebih mudah selama setengah hidupnya dan menyingkirkan kerja keras dari hidupnya. Pilihan ini tampaknya tidak terlalu mahal saat itu. Namun, seiring waktu, dia menyadari bahwa tak berusaha telah menghilangkan potensinya untuk mencapai hal-hal tersebut.
Dia mulai melihat kesulitan sebagai sesuatu yang harus dihadapi. “Jalan yang mudah tidak pernah memberikan hasil yang baik,” tutur Rideout.
Dia Mengajari Diri Sendiri untuk Kuat
Berbicara tentang perjalanan hidupnya, Rideout awalnya adalah anak yang pemalu. Namun, segalanya berubah saat dia bergabung dengan Somerville Boxing Club. Dia mengaku tidak menyukai proses awalnya, berjuang melawan ketakutan untuk menghadapi tantangan baru. “Saya lebih memilih untuk bertanding di ruangan yang terkontrol daripada berkelahi di jalanan tanpa pengalaman,” ujarnya.
Pengalaman itu membuka matanya bahwa sebenarnya dia bisa mengajari dirinya sendiri untuk menjadi lebih kuat. Meskipun rasa takut itu tidak pergi begitu saja, dia tidak lagi membiarkannya menjadi alasan untuk mundur.
Berhenti Sekali Sudah Cukup
Rideout punya satu momen yang selalu diingatnya—kekalahan di Ironman World Championship di Hawaii. Dia mundur di tengah perlombaan, dan itu menjadi kesalahan yang menyesakkan hati. “Rasa sakit karena berhenti tidak akan pernah hilang,” ungkapnya.
Setelah itu, dia bertekad untuk tidak pernah mundur lagi. Dua tahun kemudian, di tengah kondisi yang lebih parah—dengan pneumonia—dia berjuang menyelesaikan perlombaan, meskipun tahu bahwa kondisinya tidak ideal. “Saya lebih baik mati daripada mundur,” tegasnya. Dia menuntaskan perlombaan itu dalam waktu lebih dari sebelas jam. Bukan penampilan terbaiknya, tetapi dia berhasil menyelesaikannya.
Perlombaan Berikutnya
Di usia 55 tahun, Rideout masih bersemangat untuk terus berkarya. Dia merasa terinspirasi dengan kesuksesan bukunya dan mulai menerima tawaran dari produser film. Fokus utamanya kini adalah agensi talenta miliknya, Rideout Sports and Entertainment, di mana dia bekerja dengan para dokter, ilmuwan, dan pemimpin kesehatan. Meskipun tidak ada perlombaan yang dijadwalkan saat ini, terkadang dia merasakan kendala tanpa tujuan seperti ultramarathon 155 mil untuk difokuskan.
Namun, prinsipnya tidak berubah. “Tidak ada negosiasi dengan diri sendiri,” tegasnya. “Kamu bangun dan urus urusanmu.”

