JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (27/10/2026) berpotensi mengalami technical rebound. Meskipun begitu, tren pergerakan indeks masih menunjukan tanda-tanda bearish.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya pagi ini menyatakan bahwa peluang penguatan ini sangat tergantung pada kemampuan IHSG untuk bertahan di area support 5.326 hingga 5.246. Selain itu, IHSG juga perlu menembus resistance terdekat di level 5.455 agar dapat kembali beranjak naik.
Laju indeks saat ini akan dipengaruhi oleh sikap pasar terhadap tiga katalis utama. Pertama, laporan keuangan kuartal III-2026 yang sedang dinantikan. Kedua, kebijakan BEI mengenai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Ketiga, keputusan suku bunga dari The Federal Reserve (The Fed) yang tentunya juga akan mempengaruhi arus investasi. Dalam konteks ini, saham-saham seperti BBNI, TLKM, dan AADI layak untuk dicermati oleh para investor.
Kemarin, investor asing tercatat melanjutkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 1,85 triliun. Hal ini beriringan dengan penurunan IHSG sebesar 66,17 poin atau 1,22 persen sehingga turun ke level 5.373. Net sell terbanyak dialami oleh saham BMRI dengan nilai Rp 400,03 miliar, diikuti oleh TLKM yang mencapai Rp 329,39 miliar dan BBCA senilai Rp 235,53 miliar.
Penurunan indeks kemarin juga dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah yang tercatat di level Rp 18.177. Kinerja IHSG yang menurun tampaknya mengikuti penurunan mayoritas pasar saham dunia. Tekanan juga datang dari beberapa saham unggulan, seperti BBCA, CUAN, VKTR, BYAN, MORA, MDKA, hingga RATU yang mengalami penurunan signifikan.
Seluruh sektor saham pun mengalami penurunan dengan angka yang cukup mencolok. Sektor energi turun 2,36 persen, sementara sektor material dasar mengalami penurunan sebesar 1,57 persen. Tidak hanya itu, sektor industri melemah 1,87 persen dan sektor konsumer non-primer juga anjlok 1,01 persen. Sektor konsumer primer dan infrastruktur masing-masing jatuh 1,53 persen dan 2,47 persen. Sektor teknologi pun menyusul dengan penurunan 2,06 persen, dilanjutkan oleh sektor transportasi yang mengalami penurunan 1,58 persen. Sektor properti juga tidak luput dari tekanan, turun 0,99 persen, dan sektor keuangan melemah 0,56 persen. Terakhir, sektor kesehatan tercatat turun 1,07 persen.
Dalam situasi yang serba tidak pasti ini, para investor sebaiknya tetap waspada dan melakukan analisis mendalam sebelum membuat keputusan investasi. Penting untuk memperhatikan rilis laporan keuangan dan berbagai faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pergerakan pasar saham. Strategi diversifikasi portofolio juga bisa menjadi pilihan bijak untuk menghadapi volatilitas yang ada.
Dengan demikian, meskipun IHSG mengalami tekanan, ada peluang untuk rebound jika mampu menembus level resistance. Para investor diharapkan untuk tetap optimis namun realistis dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.

