[BANGKOK] Inflasi di Thailand diperkirakan akan berada di bawah proyeksi Bank of Thailand sebesar 2,8 persen tahun ini dan cenderung menurun pada 2027. Gubernur bank sentral, Vitai Ratanakorn, menyatakan hal ini pada hari Sabtu (11 Juli), sambil menambahkan bahwa kebijakan moneter akan tetap akomodatif dan fokus untuk mendukung perekonomian.
Inflasi bulanan pada kuartal keempat sekarang diperkirakan akan kurang dari 4,5 persen yang sebelumnya diproyeksikan, dan akan mereda pada tahun 2027. Dengan demikian, bank sentral bisa mengabaikan tekanan harga sementara, ungkap Vitai kepada awak media.
Inflasi utama melambat menjadi 2,42 persen pada bulan Juni, tetap berada dalam rentang target bank sentral yang ditetapkan antara 1 persen hingga 3 persen dan lebih rendah dari ekspektasi.
Vitai juga mengatakan pada bulan Juni lalu bahwa saat ini tidak ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga, beberapa hari setelah bank sentral mempertahankan suku bunga acuannya di level 1 persen. Tinjauan kebijakan moneter berikutnya akan dilakukan pada 26 Agustus.
Menurut Vitai, jika ada pengurangan suku bunga lebih lanjut, itu bukan hal yang mudah karena tingkat suku bunga saat ini sudah sangat rendah. Menjaga suku bunga terlalu rendah bisa merugikan para penabung dan berdampak negatif secara lebih luas.
Perekonomian Thailand, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara, telah menunjukkan daya tahan. Proyeksi pertumbuhan bank sentral sebesar 2,3 persen untuk tahun ini dianggap “tidak baik, tetapi tidak buruk” oleh Vitai.
Perekonomian tumbuh sebesar 2,4 persen tahun lalu, namun masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan.
Bank sentral mengharapkan dapat memberlakukan aturan baru sekitar bulan Oktober sampai November, yang mengharuskan adanya bukti mengenai asal sumber dana untuk setoran yang melebihi 5 juta baht (US$150,375) guna mengendalikan dana ilegal, ungkap Vitai.

