JAKARTA, investortrust.id – Hasil studi dari Maybank Indonesia dan Katadata Insight Center mengungkapkan bahwa dampak ekonomi langsung dari penyelenggaraan Maybank Marathon 2026 di Bali mencapai Rp229,9 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan Rp170,8 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini tentu saja didorong oleh bertambahnya jumlah peserta dan meningkatnya rata-rata pengeluaran para pelari selama di Bali.
Jumlah peserta untuk Maybank Marathon 2026 in Partnership with Visa tercatat mencapai 14.100 orang, sebuah kenaikan dari 13.600 peserta di tahun 2025. Rata-rata pengeluaran peserta pun naik dari Rp12,5 juta menjadi Rp16,3 juta per orang. Data ini menunjukkan betapa ajang lari ini menjadi magnet bagi para pelari, baik domestik maupun internasional.
Menurut rilis pers yang disampaikan pada Jumat (9/10/2026), kontribusi terbesar datang dari peserta mancanegara. Rata-rata pengeluaran pelari asing mencatatkan nilai Rp40,1 juta per orang, meningkat pesat dari Rp27,7 juta pada tahun sebelumnya. Mereka juga rata-rata menghabiskan waktu hingga sembilan hari di Bali, dibandingkan peserta domestik yang tinggal sekitar tiga hingga empat hari.
Selain dampak langsung, studi ini juga memperhitungkan efek tidak langsung atau multiplier effect dari Maybank Marathon 2026 yang mencapai Rp303,5 miliar. Ini adalah peningkatan 34,6% dibandingkan Rp225,5 miliar pada 2025. Dengan angka-angka ini, jelas bahwa penyelenggaraan marathon ini memberikan dampak yang luas bagi perekonomian Bali.
Peningkatan aktivitas peserta juga membawa dampak positif bagi pelaku usaha di Bali. Survey menunjukkan omzet pelaku usaha yang disurvei rata-rata mengalami peningkatan sebesar 35% dibandingkan kondisi normal selama acara berlangsung. Selain itu, jumlah pelanggan juga meningkat rata-rata 32%. Kenaikan tertinggi terjadi di sektor perhotelan yang mencatatkan lonjakan hingga 64%, diikuti dengan sektor restoran dan kuliner sebesar 41%, transportasi 34%, dan jasa wisata sebesar 10%.
Dari sisi tenaga kerja, pelaku usaha yang disurvei juga terlihat meningkatkan jumlah karyawan rata-rata sebesar 18% selama berlangsungnya acara. Tentu saja, hal ini mencerminkan betapa ajang seperti ini bisa menjadi penggerak ekonomi di daerah, terutama di sektor pariwisata yang sudah menjadi tulang punggung Bali.
Para pelaku usaha juga menilai bahwa aktivitas wisata kuliner menjadi pendorong pendapatan terbesar, dengan persentase mencapai 56%. Wisata budaya mengikuti di posisi kedua dengan 50%, dan wisata belanja mencapai 49,3%. Ini menunjukkan bahwa selain ajang olahraga, belanja dan kuliner juga menarik perhatian wisatawan.
Steffano Ridwan, Presiden Direktur Maybank Indonesia, menuturkan bahwa peningkatan dampak ekonomi ini menunjukkan bahwa Maybank Marathon telah melampaui sekadar ajang olahraga dan berkontribusi pada aktivitas ekonomi lokal. Pengukuran dampak ekonomi dilakukan untuk memahami nilai tambah dari penyelenggaraan acara bagi Bali dan masyarakat setempat, termasuk dalam konteks pengembangan wisata olahraga yang berkelanjutan.
Bambang Irawan, Project Director Maybank Marathon 2026, menekankan bahwa peningkatan dampak ekonomi ini harus diimbangi dengan konsistensi dalam kualitas penyelenggaraan. Aspek-aspek seperti keselamatan, kenyamanan rute, dan manajemen acara harus jadi perhatian utama agar peserta merasa puas.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2012, Maybank Marathon telah menjadi ajang lari internasional yang memperlombakan berbagai kategori, mulai dari maraton sejauh 42,195 kilometer, half marathon sepanjang 21,0975 kilometer, hingga 10 kilometer. Di tahun 2020, event ini memperoleh predikat Elite Label Road Race dari World Athletics, menunjukkan kualitasnya dalam kalangan atlet internasional.
Dengan semua data dan catatan positif tersebut, tampaknya Maybank Marathon tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga pendorong perekonomian yang signifikan bagi Bali. Acara ini menjadi contoh nyata bagaimana olahraga bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan kualitas pariwisata di Indonesia.

