[BANGKOK] Diaspora Myanmar di Thailand yang diperkirakan mencapai sekitar 4,1 juta orang kini bukan hanya sekadar sumber tenaga kerja murah, tetapi juga menjadi pasar konsumen yang signifikan. Hal ini menarik perhatian semakin banyak pelaku bisnis seperti retailer, perusahaan telekomunikasi, jasa remitansi, pengembang properti, hingga lembaga keuangan.
Sebuah laporan terbaru dari konsultan pasar, Happio Co, menunjukkan bahwa warga Myanmar di Thailand—yang terdiri dari 2,8 juta migran yang terdaftar dan 1,3 juta migran tanpa izin—menghabiskan sekitar 221 miliar baht (sekitar S$8,7 miliar) setiap tahun di Thailand, sambil mengirimkan tambahan 119 miliar baht ke tanah air mereka.
Happio, yang memberikan saran kepada perusahaan Thailand tentang cara memasarkan produk mereka di Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam, menyatakan bahwa pasar Myanmar di Thailand ini tumbuh pesat, beralih dari pinggiran ke arus utama seiring perkembangan dan diversifikasi populasi diaspora tersebut.
Peningkatan pengeluaran ini tentu menjadi sinyal positif bagi banyak sektor, khususnya bagi bisnis lokal yang ingin menyentuh pasar baru. Para retailer mungkin bisa mempertimbangkan strategi pemasaran yang lebih spesifik untuk menjangkau komunitas Myanmar ini, yang sekarang mulai menonjol dalam peta konsumen Thailand.
Dari gambaran ini, terlihat bahwa ada potensi besar yang menunggu untuk dimanfaatkan. Banyak investor yang mulai melirik bagaimana tren ini bisa berkembang dan apa saja peluang yang ada dalam dunia bisnis. Dengan pertumbuhan populasi diaspora Myanmar yang semakin beragam, sektor-sektor seperti makanan, pakaian, dan layanan telekomunikasi seharusnya bisa memanfaatkan momentum ini guna menciptakan produk yang relevan bagi komunitas tersebut.
Dalam konteks yang lebih luas, pergeseran ini juga menunjukkan bagaimana dinamika sosial dan ekonomi dapat memengaruhi pola konsumsi. Dengan jumlah pengeluaran yang cukup besar, komunitas ini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Thailand secara keseluruhan.
Oleh karena itu, banyak pelaku bisnis perlu mulai melakukan riset lebih mendalam tentang preferensi dan kebiasaan konsumsi komunitas Myanmar di Thailand. Ini bukan hanya tentang menjual produk, tetapi juga memahami budaya dan nilai-nilai yang mereka pegang. Dengan pendekatan yang tepat, peluang yang dihasilkan bisa sangat menguntungkan.
Dengan potensi yang ada, tidak mengherankan jika banyak perusahaan mulai menjajaki cara untuk terlibat dengan pasar ini. Apa yang dulunya dianggap sebagai sekadar sumber tenaga kerja kini telah berubah menjadi segmen pasar yang layak untuk dijajak. Saat ini, menjadi saat yang tepat untuk mengeksplorasi langkah-langkah yang lebih strategis dan inovatif dalam menarik perhatian komunitas Myanmar yang berkembang pesat di Thailand ini.

