Sejak perang dimulai di negara-negara Timur Tengah, ribuan orang telah kehilangan nyawa mereka.
Pada hari Selasa (21 April), Presiden AS Donald Trump secara resmi memperpanjang gencatan senjata dengan Iran untuk waktu yang tidak ditentukan, hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata itu berakhir. Langkah ini diambil agar kedua negara dapat melanjutkan pembicaraan damai.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut ia telah menyetujui permintaan dari Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan damai, untuk menghentikan serangan ke Iran. Hal ini dilakukan sampai para pemimpin dan perwakilan Iran dapat memberikan proposal yang menyatukan.
Ini adalah contoh terbaru dari Trump yang mundur dari ancaman berulang untuk membombardir pembangkit listrik dan infrastruktur sipil lainnya di Iran, yang mana para pakar memperingatkan bahwa itu bisa dianggap sebagai kejahatan perang.
Trump, yang bersama Israel memulai perang melawan Iran pada tanggal 28 Februari, mengatakan bahwa ia memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata karena “pemerintah Iran mengalami perpecahan yang serius, hal yang tidak mengejutkan.” Ini merujuk pada operasi pembunuhan yang dilakukan oleh Amerika dan Israel terhadap beberapa pemimpin negara tersebut, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang telah digantikan oleh putranya.
Sejak perang dimulai, ribuan orang telah terbunuh di berbagai negara Timur Tengah, dan ekonomi global telah terguncang akibat hampir ditutupnya Selat Hormuz, jalur vital untuk minyak dan gas.
Trump menegaskan bahwa ia akan melanjutkan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan dan pantai Iran, yang menurut para pemimpin Iran adalah tindakan perang. Hal ini menjadi salah satu isu yang menghangat saat kedua negara mulai bimbang mengenai pengiriman negosiator ke putaran kedua pembicaraan damai di Islamabad, ibu kota Pakistan.
Tidak ada komentar segera dari Iran, Israel, atau Pakistan terkait pengumuman Trump yang dibuat pada tengah hari waktu Washington.

