Dalam langkah yang mungkin dianggap kontroversial, Amazon mengumumkan pada hari Rabu bahwa mereka akan menampilkan gambar produk yang dihasilkan oleh AI di dalam aplikasi belanja mereka, berdasarkan query pencarian pengguna. Ya, sebuah retailer tempat orang berbelanja produk dunia nyata berpikir bahwa menampilkan foto palsu bakal “membantu” konsumen menemukan apa yang mereka cari.
Sudah cukup!
Berikut cara kerja fitur menurut pernyataan di blog Amazon. Kadang-kadang, pelanggan mungkin memiliki sesuatu dalam pikiran mereka, tetapi tidak tahu istilah yang tepat untuk menggambarkannya sehingga bisa mendapatkan hasil yang berguna. Contoh yang diberikan Amazon adalah seperti “cowl neck” untuk gaya baju atau “rattan” untuk furnitur.
Ketika seseorang memasukkan query pencarian, mereka akan melihat berbagai gambar produk yang dihasilkan oleh AI di bawah saran autocomplete mereka.
Misalnya, jika Anda mencari gaun kotak biru, Anda mungkin akan melihat beberapa gaya gaun — lengan pendek atau panjang, panjang yang bervariasi, dan perbedaan lainnya — muncul sebagai opsi visual. Ide di baliknya adalah dengan mengklik salah satu gambar, itu akan mengarahkan Anda ke hasil pencarian yang lebih sesuai dengan gaya tersebut, didukung oleh kemampuan pencarian visual Amazon.
Namun, kenyataannya, cukup konyol bagi sebuah retailer untuk membuat produk palsu sebagai cara untuk memandu pengguna ke hasil pencarian.
Pertama-tama, ini bisa menyesatkan — pelanggan yang tidak membaca dengan teliti mungkin berpikir mereka diarahkan ke halaman di mana mereka bisa menemukan gaun persis itu, dan akan merasa kecewa ketika itu tidak tersedia. Dan ada juga pertanyaan yang cukup jelas kenapa mereka membuat gambar produk ketika mereka memiliki situs web yang penuh dengan foto nyata dari produk yang sebenarnya, yang seharusnya diinginkan pembeli online.
Fitur ini mengikuti beberapa upaya Amazon lainnya untuk mengintegrasikan AI dalam situs ritel dan aplikasi belanja mereka, dengan hasil yang beragam. Di sisi yang lebih berguna, Amazon sudah merangkum ulasan pelanggan melalui AI, sehingga Anda tidak perlu membaca semuanya untuk mendapatkan gambaran tentang kelebihan dan kekurangan produk tersebut. Lebih anehnya, mereka tahun lalu meluncurkan fitur ringkasan audio produk singkat di mana para ahli AI menjelaskan sorotan produk dalam gaya podcast.
Fitur AI terbaru lainnya termasuk kolase “shoppable” yang dihasilkan AI, untuk mengarahkan orang ke halaman kurasi yang didedikasikan untuk gaya fashion tertentu; Amazon Lens Live, yang memindai produk dalam tampilan kamera untuk menemukan kecocokan visual; kemampuan untuk menambahkan teks pada pencarian visual; dan widget pencarian visual di kunci layar untuk iOS.
Awal bulan ini, Amazon juga mengganti chatbot AI Rufus mereka dengan Alexa untuk Shopping, agar memungkinkan pencarian belanja dalam bahasa alami melalui suara dan teks.

