Ketika menghadapi perubahan besar, banyak pemimpin sering kali membuat kesalahan dengan menerapkan perubahan mendadak tanpa mempertimbangkan dampaknya. Sejak munculnya ChatGPT, kita telah menyaksikan banyak CEO yang terburu-buru melakukan pemecatan massal hingga restoran cepat saji yang menerapkan teknologi tanpa persiapan yang matang. Implementasi teknologi seperti generative AI harus dilakukan secara hati-hati karena 95% walaupun sudah diinvestasikan dengan jumlah besar, banyak dari inisiatif tersebut gagal. Dalam menghadapi perubahan, penting untuk memulai dari yang kecil dan memprioritaskan dengan bijak.
Lebih dari sekadar teknologi itu sendiri, masalah sebenarnya terletak pada gaya kepemimpinan yang berusaha mentransformasi segala sesuatunya secara bersamaan tanpa menganalisis apa yang sebenarnya penting. Stephanie Woerner, Direktur MIT Center for Information Systems Research, mengingatkan bahwa eksperimen hanyalah fase awal dalam mengintegrasikan AI ke dalam operasi bisnis. Semakin lama kita menghabiskan waktu di sini, semakin sedikit sumber daya yang terbuang dan semakin jelas kita memahami di mana AI benar-benar memberikan nilai tambah.
Strategi Beradaptasi dalam Rekrutmen
Contoh nyata dari kemampuan beradaptasi dapat dilihat dari Kapten Chesley “Sully” Sullenberger dan tim penerbangan yang berhasil melakukan pendaratan darurat di Sungai Hudson pada 15 Januari 2009. Dalam situasi krisis, kemampuan untuk beradaptasi menjadi kunci, baik bagi individu maupun tim. Jika seorang pengusaha ingin bertahan di tengah perubahan pasar yang cepat, maka kemampuan beradaptasi harus menjadi bagian dari budaya perusahaan.
Tradisi rekrutmen yang fokus pada kredibilitas, keterampilan teknis, dan pengalaman industri kini tidak lagi cukup. Saat ini, penting untuk mencari kandidat yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Kemampuan untuk belajar dan berinovasi saat menghadapi tantangan baru lebih bernilai. Merangkul keberanian untuk mengambil risiko dan terus belajar akan membedakan individu yang sukses dari yang lainnya.
Berlatih Berpikir Krisis
Berpikir krisis bukanlah tentang memikirkan skenario terburuk hingga terjebak dalam kecemasan. Ini lebih tentang melatih diri untuk bertanya “bagaimana jika” sehingga siap untuk bertindak ketika keadaan memburuk. Pemimpin yang hebat sering kali mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman untuk mempersiapkan diri mereka menghadapi tantangan yang mungkin terjadi di masa depan.
Contohnya, saat Jotform masih dalam tahap startup, pertanyaan tentang apa yang akan terjadi jika pesaing besar memasuki pasar formulir muncul. Meskipun tidak menyenangkan membayangkannya, hal ini membantu memperoleh kejelasan mengenai tantangan yang akan dihadapi dan apa yang membuat Jotform unik. Ketika mendengar bahwa Google akan merilis produk yang bersaing dengan produk kami, saya tidak panik karena saya sudah memikirkan ancaman tersebut sebelumnya, sehingga kami bisa langsung fokus pada apa yang membedakan kami.
Persiapan tidak menjamin kita tidak akan merasakan stres dalam menghadapi perubahan, tetapi hal itu bisa mencegah kita terjebak dalam kebingungan. Memiliki pengalaman yang cukup untuk diandalkan ketika situasi sulit datang akan membuat kita lebih percaya diri dalam mengambil keputusan yang tepat.

