Intisari Penting
- Linda Clemons mengubah bakat komunikasinya menjadi karir bisnis yang sukses.
- Metode Clemons fokus pada apa yang tidak terucapkan — serta konteks yang diperlukan untuk memahaminya.
- Dia mengungkapkan mengapa Anda harus melupakan pendekatan ‘fake it till you make it’ dan memprioritaskan alat lain.
Sejak kecil, pakar komunikasi nonverbal Linda Clemons sudah memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.
Sebagai anak sulung (penelitian menunjukkan bahwa mereka sering berperan sebagai mediator dalam dinamika keluarga), Clemons selalu ingin menyenangkan orang lain dan tumbuh dengan pemahaman terhadap bahasa tubuh secara intuitif. Dia bisa merasakan ketika kata-kata seseorang tidak selaras dengan ekspresi wajah atau postur tubuh mereka.
Akhirnya, Clemons memanfaatkan bakat komunikasinya untuk memulai karir di bidang penjualan. Dia menjadi penghasil penjualan teratas di setiap perusahaan yang dia ikuti, lalu mendirikan Sisterpreneur Inc., yang mendidik dan memberdayakan pengusaha wanita. Saat ini, klien-kliennya telah menghasilkan lebih dari $2 miliar dalam penjualan. Dia juga menulis buku berjudul Hush: How to Radiate Power and Confidence Without Saying a Word.
Entrepreneur asal Indianapolis, Indiana ini menganggap kesuksesannya dalam penjualan berkat kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan orang dan memahami apa yang penting bagi mereka.
Metode Clemons: Kekuatan Komunikasi Nonverbal
Clemons, yang terlatih dan bersertifikat dalam Analytic Interviewing dan Statement Analysis™ (proses yang digunakan untuk mendeteksi penipuan), telah menciptakan istilah untuk pendekatannya di bidang komunikasi nonverbal: “Metode Clemons.”
“Metode Clemons memungkinkan Anda melihat yang tidak terlihat, apa yang mungkin tidak dilihat orang lain, dan mendengar yang tidak terdengar,” jelasnya. Metode ini juga menekankan pentingnya konteks dan tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan satu sinyal bahasa tubuh.
Apa yang orang katakan — bahkan bagaimana cara mereka mengatakannya — tidak selalu menjadi satu-satunya cara untuk menyampaikan pesan yang dimaksud.
“Bahasa nonverbal Anda bisa menghalangi dan mungkin bahkan menegasikan pesan itu karena itu adalah bahasa pertama kita,” kata Clemons.
Namun, hanya membaca bahasa tubuh seseorang tidak cukup. Semua komunikasi nonverbal harus diinterpretasikan dengan konteks yang cukup. Jika tidak, bahkan detektif bahasa tubuh yang paling ingin tahu sekalipun bisa salah membaca subjek yang mereka periksa.
Membaca Bahasa Tubuh dengan Akurat Memerlukan Konteks
Clemons bercerita tentang suatu presentasi di mana dia berbagi panggung dengan para ahli lain dalam sebuah panel, dan kurangnya konteks serta kesalahpahaman terjadi secara langsung.
“Seorang ahli lain menunjukkan video seorang wanita Afrika-Amerika yang menarik rambutnya dan berusaha menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki masalah jiwa,” kata Clemons. “Saya memiliki sekumpulan wanita di ruangan itu, setengah dari mereka adalah wanita Afrika-Amerika, berpikir, Apakah seseorang akan mengatakan sesuatu?”
Clemons kemudian mencelah — dan memberikan konteks yang hilang. Dia bertanya berapa banyak wanita kulit hitam di ruangan itu yang memahami apa yang terjadi, dan mereka semua mengangkat tangan. Dia meminta seseorang untuk berteriak apa artinya: Kepangan wanita itu kencang dan gatal, dan dia sedang mengetuknya untuk melepaskannya.
Contoh lainnya adalah dengan gestur sederhana seperti seseorang menyilangkan lengan. Banyak orang berpikir mereka bisa membaca bahasa tubuh itu; mereka percaya orang tersebut menutup diri. Namun, itu tidak selalu benar. Mungkin konteks yang hilang dan sangat dibutuhkan adalah bahwa gestur tersebut adalah baseline ketika mereka sedang memikirkan sesuatu dengan mendalam.
Jangan Menarik Kesimpulan Berdasarkan Satu Sinyal Nonverbal Saja
Meskipun penting untuk tidak menarik kesimpulan tentang komunikasi nonverbal berdasarkan satu gerakan saja, juga penting untuk memperhatikan sinyal-sinyal halus yang saling berkaitan, kata Clemons.
Pikirkan tentang bagaimana kemampuan seorang pengusaha untuk mendeteksi sinyal nonverbal bisa menentukan berhasil atau tidaknya sebuah pertemuan pitch.
Pada awalnya, klien potensial bersandar ke depan — tanda pasti bahwa mereka tertarik pada percakapan. Kemudian, pengusaha membuat pernyataan yang membuat klien berhenti sejenak; mereka mundur, secara harfiah “terkejut.” Satu gerakan ini tidak selalu berarti mereka sudah keluar. Namun, jika pitch terus berlanjut tanpa mengatasi kekhawatiran, sinyal-sinyal bahasa tubuh itu bisa semakin menumpuk hingga klien pergi.
“Gerakan kedua, mereka mengunci diri dan menyilangkan lengan mereka,” kata Clemons. “Gerakan ketiga, mereka mengarahkan tubuh ke arah pintu — kaki kita menunjuk ke arah yang kita inginkan. Mereka sudah selesai. Mereka siap untuk pergi. Dan sering kali kita melewatkan sinyal-sinyal tersebut.”
Strategi “TAP” Memperkuat Komunikasi Nonverbal
Ketika datang untuk memproyeksikan bahasa tubuh yang percaya diri, orang sebaiknya melupakan pepatah umum yang justru lebih merugikan: “Fake it till you make it.”
Clemons menawarkan akronim “TAP” — “Truthful” (jujur), “Authentic” (autentik), dan “Proof shows” (bukti menunjukkan) — sebagai alat bantu untuk memperkuat komunikasi nonverbal Anda, memastikan niat dan gestur Anda selaras.
“Apa pun yang Anda pikirkan dalam pikiran, bahasa nonverbal Anda akan menyampaikannya,” jelas Clemons. “Dan itu akan mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di hati Anda. Jika Anda berkomitmen pada keyakinan dan keyakinan Anda, maka itu akan terlihat. Seolah-olah seperti sebuah simfoni.”
Misalnya, betapa seringnya senyuman palsu tidak berhasil. Senyuman yang tulus melibatkan banyak otot wajah yang berbeda, itulah sebabnya senyuman yang dibuat-buat atau senyuman “pageant” terlihat tidak autentik, tambah Clemons.
Dengan kata lain: “Saat Anda memikirkannya, Anda akan mengungkapkannya,” menurut Clemons. Dan “pengungkapan” itu muncul di seluruh wajah Anda, dalam ekspresi mikro dan makro, serta dalam gerakan tubuh Anda.
Teknik “Triangle” dan Taktik Bahasa Tubuh Lainnya
Clemons memberikan strategi tambahan, termasuk Teknik “Triangle” dan metode EASE, untuk membantu orang memanfaatkan kekuatan bahasa tubuh.
Teknik “Triangle” milik Clemons, di mana seseorang yang bersosialisasi membuka dialog kepada orang ketiga dan menyambut mereka ke dalam perbincangan, menunjukkan “kekuatan piramida.”
Metode EASE mengharuskan Anda untuk memikirkan “bagaimana Anda bergerak” dan memiliki ruang saat Anda berkeliling di dalam suatu ruangan. “Masuki” dengan kehadiran, “sesuaikan” dengan energi ruangan, “tempatkan” diri Anda secara strategis, dan “libatkan” dalam percakapan.
Clemons mengupas lebih dalam tentang taktik nonverbal ini dan lainnya dalam bukunya Hush.
“Anda tidak perlu menjadi ahli dalam komunikasi nonverbal,” kata Clemons. “Tapi Anda memiliki semua alat untuk menjadikan diri Anda ahli dalam membangun hubungan terbaik.”

