[KUALA LUMPUR] Jaksa Agung Malaysia, Jumat (6 November), menunda pemindahan mantan perdana menteri Najib Razak ke tahanan rumah untuk meninjau kembali pemberian grasi kerajaan, dalam intervensi mendadak setelah pengadilan mengizinkannya meninggalkan penjara setelah menjalani empat tahun hukuman.
Najib, yang menjabat sebagai perdana menteri dari 2009 hingga 2018, dijatuhi hukuman terkait skandal bernilai miliaran dolar di dana investasi negara, 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Dia mendapat persetujuan grasi kerajaan pada bulan September untuk menjalani sisa hukumannya dua tahun di rumah.
Sebuah pengadilan sebelumnya pada hari Jumat memberikan lampu hijau kepada Najib untuk memulai tahanan rumah dan dia sempat meninggalkan penjara untuk menjalani pemeriksaan gigi yang sudah dijadwalkan, kata Menteri Transportasi Anthony Loke.
Pihak kepolisian dan banyak media berkumpul sepanjang hari di luar kediaman Najib yang dikawal di Kuala Lumpur menunggu kedatangannya.
Tapi, Pihak Jaksa Agung mengeluarkan pernyataan di akhir hari Jumat bahwa muncul pertanyaan mengenai interpretasi hukum terhadap pemberian grasi Raja Sultan Ibrahim dan perintah pengadilan yang memungkinkan Najib meninggalkan penjara.
“Sehubungan dengan itu, pelaksanaan tahanan rumah harus ditangguhkan sementara sampai ada penyelidikan dan klarifikasi lebih lanjut,” bunyi pernyataan tiga halaman tersebut.
‘Kelebihan Wewenang Eksekutif’
Tim hukum Najib mengatakan tidak ada alasan hukum untuk tetap menahan dia di penjara tanpa mematuhi perintah kerajaan. Mereka juga menambahkan bahwa jaksa agung hadir dalam pertemuan yang memberi masukan kepada raja mengenai grasi tersebut dan tidak mengungkapkan kekhawatiran.
“Mengklaim kekuatan untuk menangguhkan perintah Yang Mulia melalui pernyataan media adalah, menurut kami, merupakan kelebihan wewenang eksekutif,” ujar tim hukum Najib.
Salah satu politisi paling berpengaruh dan kontroversial di Malaysia, Najib secara berulang kali membantah melakukan kesalahan dalam kasus 1MDB dan bersikeras bahwa dia dijadikan kambing hitam untuk skema rumit yang telah mengalirkan dana sebesar US$4,5 miliar, menurut penyelidik AS.
Lebih dari US$1 miliar dilaporkan telah masuk ke rekening yang terhubung dengan Najib, yang juga merupakan salah satu pendiri 1MDB, kata para jaksa.
Dia juga dijatuhi hukuman karena penyalahgunaan kekuasaan dan pencucian uang dalam kasus terpisah yang berkaitan dengan 1MDB pada bulan Desember lalu, serta dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dan denda sebesar US$2,8 miliar. Dia telah mengajukan banding terhadap keputusan tersebut.
Pada pagi hari Jumat, Najib mendapat dukungan ketika partainya, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (Umno), membayar denda sebesar RM50 juta (US$12,3 juta) untuknya, yang dikumpulkan melalui crowdfunding, agar bisa meninggalkan penjara, yang merupakan syarat dari grasi yang diberikan.
Dalam pernyataan di bawah judul “jangan berkhianat”, Sekretaris Jenderal Umno, Asyraf Wajdi Dusuki, mengatakan grasi tersebut harus dihormati.
“Apa justifikasi untuk menunda pelaksanaan tahanan rumah lebih lanjut?” tanyanya.
Najib selama bertahun-tahun menjadi sosok berpengaruh dalam politik Malaysia dan masih memiliki pengaruh di Umno, yang merupakan bagian dari pemerintahan multi-partai Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
Koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin Anwar sangat menentang keringanan terhadap Najib, sehingga hal ini bertentangan dengan Umno, yang pernah dominan. Pemindahan Najib ke tahanan rumah bisa menciptakan ketegangan politik yang lebih besar.
Hal ini juga berpotensi memicu kritik terhadap cara pemerintah menangani kasus-kasus korupsi dan semakin mengikis dukungan bagi Anwar setelah menghadapi kemunduran dalam dua pemilihan negara bagian tahun ini, yang dimenangkan oleh Umno.
Meskipun pemilihan umum berikutnya baru akan berlangsung pada awal 2028, Anwar telah menyatakan bahwa dia dapat memanggil pemilihan mendadak jika ketegangan semakin mendalam.
Loke, pemimpin Partai Tindakan Demokratik (DAP), anggota terbesar dari blok pemerintahan Anwar, pada hari Jumat mengatakan dia akan mengundurkan diri dari Kabinet segera setelah Najib memasuki tahanan rumah.
Eks anggota DAP, Tony Pua, yang berperan penting dalam mengungkap skandal 1MDB, menyebut Najib sebagai “penjahat terbesar di Malaysia” dan mengecam Umno karena melakukan penggalangan dana untuk membebaskannya dari penjara.
“Alih-alih menggunakan sejumlah besar uang untuk membantu rakyat Malaysia biasa, mereka memilih untuk ‘membebaskan’ orang paling korup di Malaysia,” ujarnya di Facebook.

