Presiden Indonesia Prabowo Subianto resmi membentuk Dewan Pertimbangan Presiden yang pertama pada Jumat (2 Oktober 2026), dengan mengangkat 26 orang, termasuk miliarder, jenderal pensiunan, dan tokoh agama, menjadi jajarannya yang semakin luas setelah hampir dua tahun menjabat.
Miliarder Chairul Tanjung dan Tahir, jenderal pensiunan Agum Gumelar serta mantan ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman merupakan beberapa nama yang diangkat dalam acara pelantikan di Jakarta. Tokoh lainnya yaitu cendekiawan Islam Muhammad Quraish Shihab; dua mantan ketua Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia; serta para pemimpin Kristen, Buddha, dan Konghucu.
Pratikno, mantan menteri senior, akan menjabat sebagai ketua dewan yang bertugas memberikan nasihat kepada presiden dalam menjalankan kekuasaan eksekutif.
Pelantikan ini mengisi posisi yang kosong sejak berakhirnya pemerintahan sebelumnya pada Oktober 2024. Proses pengangkatan ini sebenarnya terlambat dari batas waktu yang ditetapkan oleh undang-undang: sebuah undang-undang yang disahkan beberapa hari sebelum Prabowo menjabat mengharuskan presiden untuk mengangkat dewan dalam waktu tiga bulan. Undang-undang tersebut juga menghilangkan batasan jumlah anggota yang sebelumnya sembilan orang, sehingga presiden dapat menentukan ukuran dewan, membuat panel Prabowo hampir tiga kali lipat dari batas sebelumnya.
Pengangkatan ini juga menjadi bagian dari perombakan lebih luas pada pemerintahan Prabowo. Sehari sebelumnya, dia telah melantik lebih dari dua belas pejabat baru, termasuk kepala kepolisian nasional dan menteri luar negeri yang baru.
Tahir, pendiri Mayapada Group dan menantu pendiri Lippo Group Mochtar Riady, saat ini menjabat sebagai orang terkaya keenam di Indonesia dan yang ketiga belas di Asia Tenggara, berdasarkan data yang dikompilasi oleh Bloomberg. Konglomeratnya memiliki berbagai kepentingan di sektor perbankan, rumah sakit, properti, dan media.
Chairul Tanjung, yang sempat menjabat sebagai menteri koordinator bidang perekonomian di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kini menempati urutan sebagai orang terkaya kelima belas di Indonesia dengan kekayaan mencapai US$2.6 miliar, menurut Bloomberg Billionaires Index. Perusahaannya, CT Corp, mengelola bisnis di berbagai sektor mulai dari media, layanan keuangan, hingga retail.
Perombakan besar ini tidak hanya menunjukkan upaya Prabowo untuk memperkuat posisi dan visinya sebagai pemimpin, tetapi juga untuk melibatkan berbagai kalangan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat tertinggi pemerintahan. Dengan memasukkan tokoh-tokoh penting dari berbagai latar belakang, diharapkan keputusan yang diambil dapat lebih komprehensif dan mencerminkan keragaman masyarakat Indonesia.
Dewan ini pun diharapkan bisa mengemban tugas dengan baik, memberikan masukan yang bermanfaat untuk pembangunan dan kemajuan bangsa. Dengan komposisi yang begitu beragam, Prabowo berencana untuk merangkul suara-suara yang mungkin telah terabaikan sebelumnya, dan membawa suara rakyat lebih dekat ke dalam istana.
Keberanian Prabowo untuk memperbesar dewan ini juga menunjukkan ambisinya untuk membuat perubahan struktural yang signifikan dalam kebijakan pemerintahan ke depan. Sekarang, dengan Dewan Pertimbangan yang baru dibentuk, langkah selanjutnya adalah melihat bagaimana keputusan yang diambil akan mempengaruhi arah kebijakan dan pembangunan di Indonesia.
Semua mata kini tertuju pada dewan baru ini, yang diharapkan bisa memberikan perspektif baru dan solusi inovatif untuk tantangan yang dihadapi Indonesia di masa depan.

