Analisis dari Pergeseran Peran Kerja
AI kini menjanjikan produktivitas yang lebih tinggi bagi karyawan. Tapi, selain peningkatan produktivitas, mereka juga dihadapkan pada tanggung jawab baru sebagai pengelola AI tanpa kenaikan gaji atau promosi. Ini adalah Realita yang saat ini sedang berkembang di dunia kerja.
Sebuah laporan dari Business Insider menunjukkan bagaimana AI mengubah cara kerja banyak karyawan. Pekerja sekarang merasa ditekan untuk memanfaatkan teknologi ini, sehingga banyak di antara mereka yang justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengelola bot AI yang awalnya diciptakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang biasa mereka lakukan, seperti mengajar, coding, menulis, atau merancang. Akibatnya, mereka jadi menghabiskan lebih sedikit waktu untuk tugas-tugas yang berkaitan langsung dengan profesi mereka.
Pada banyak pekerjaan, karyawan kini harus berperan sebagai manajer. Mereka wajib memberi arahan pada agen AI, meninjau hasil kerja, meminta revisi, dan turun tangan saat ada yang salah. Ada pula karyawan yang menghabiskan waktu meninjau pekerjaan yang dihasilkan AI dan bertanggung jawab atas semua yang dipublikasikan atau dijual.
Konsep bahwa AI bisa menjadikan setiap pekerja sebagai manajer sudah ada sejak lama. Namun sekarang, perusahaan mulai menerapkannya dengan serius. Salesforce baru-baru ini memperkenalkan “agen siap kerja” untuk penjualan, layanan pelanggan, e-commerce, dan operasi internal. Mereka juga memberikan alat kepada karyawan untuk melatih agen-agen tersebut dan meningkatkan kinerjanya.
Sementara itu, penyedia layanan IT Wipro merasakan peningkatan produktivitas yang signifikan berkat AI. CTO perusahaan tersebut, Sandhya Arun, menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa AI telah menambah produktivitas setara dengan 20.000 pekerja. Dia membayangkan di masa depan, satu insinyur dapat mengelola sekelompok agen.
Di Daytona, sebuah startup AI yang terdiri dari 30 orang, CEO Ivan Burazin mengatakan bahwa masing-masing dari 16 insinyur mereka rata-rata mengawasi lima agen AI. Dia pun mengungkapkan bahwa karyawan di sana sudah tidak lagi menulis kode sendiri.
Pro dan Kontra Mengelola AI
Contohnya, Sinda Khenine menjadi seorang insinyur perangkat lunak karena dia ingin menciptakan berbagai hal. Namun saat ini, banyak tugasnya melibatkan pengawasan sistem AI yang melakukan sebagian besar pekerjaan tersebut. Khenine, yang bekerja di Electrolux dan juga memulai bisnis AI-nya sendiri, mengungkapkan bahwa di satu sisi, agen-agen ini membantu dia menulis lebih banyak kode dan membangun perusahaan sendiri. Hal ini adalah sesuatu yang dulunya akan “10 kali lebih sulit” untuk dia lakukan.
Namun, ada harga yang harus dibayar. Dia kini menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pekerjaan teknik langsung yang dia cintai. Sebagai gantinya, dia harus memilih model, memberi konteks serta aturan, mengecek hasil kerja, dan menggabungkan output dari beberapa agen menjadi produk akhir.
Khenine juga mengelola orang-orang di Electrolux, tetapi dia merasa mengawasi agen AI bisa jauh lebih menantang. Tidak hanya membutuhkan pengaturan yang luas, agen-agen ini juga memerlukan perhatian terus menerus setelah mulai bekerja.
“Ini seperti sebuah siklus,” katanya. “Kamu perlu memonitor hasil, melihat kemajuan. Kamu perlu memutuskan apakah perlu menjalankan ulang atau menyelesaikan pekerjaan.”

