JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah dibuka sedikit melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Rupiah tercatat turun 0,07% ke level Rp18.094 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan perdagangan Kamis (5/11/2026).
Kondisi ini bikin indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan, dibuka anjlok sebanyak 74,43 poin atau 1,48%, kembali ke bawah level 5.000 di angka 4.955. Penurunan ini sejalan dengan hampir seluruh pasar saham dunia yang mengalami kejatuhan.
Ada banyak penyebab di balik pelemahan rupiah. Beberapa mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Menurut data Bloomberg, yen Jepang melemah 0,17%, yuan China 0,05%, dan ringgit Malaysia turun 0,29%. Sedangkan baht Thailand dan dolar Singapura masing-masing juga melemah 0,14%.
Di sisi lain, dolar Hong Kong dan won Korea Selatan justru menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong naik 0,04%, sementara won Korea Selatan menguat hingga 0,2%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, juga memberikan insight menarik. Dia menjelaskan kalau imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun merosot tajam sebesar 5,3 basis poin (bps) menjadi 4,83%. Yields untuk tenor dua tahun juga turun 12 bps menjadi 4,46%.
Peningkatan permintaan untuk aset safe haven di tengah aksi jual saham membuat yield obligasi pemerintah AS berada di level terendah dalam hampir dua bulan terakhir. Hal ini sedikit meredakan tekanan dalam kondisi keuangan global.
Meski begitu, indeks dolar AS (DXY) tetap stabil di level 101,60 dan masih mencatatkan penguatan 3,34% sepanjang tahun ini. Penurunan yield UST ini pun mengimbangi peningkatan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Cermati Data Tenaga Kerja AS
Pelaku pasar tampaknya akan mengamati dengan seksama laporan ketenagakerjaan AS untuk periode Oktober yang dirilis pada Jumat malam nanti. Hal ini penting sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) untuk Desember mendatang.
Selain fokus pada data tenaga kerja, prospek kebijakan ekonomi pascapemilu AS juga jadi faktor utama yang mendorong volatilitas di pasar keuangan. The Fed masih mempertahankan kebijakan jeda kenaikan suku bunga sambil menunjukkan kecenderungan hawkish. Namun, pasar mulai menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Desember menjadi sekitar 66%.
Pejabat The Fed masih menunjukkan dukungan untuk pengetatan kebijakan moneter secara bertahap demi mengembalikan inflasi ke target yang diharapkan. Namun, penurunan harga minyak, melemahnya yield US Treasury, dan meningkatnya volatilitas pasar berpotensi mengurangi urgensi untuk melanjutkan pengetatan moneter.
Dari sisi pasar komoditas, harga minyak mentah Brent mengalami penguatan 4,96% menjadi US$99,3 per barel. Kenaikan ini membawa harga Brent melonjak 63,20% sepanjang tahun ini (year-to-date/ytd).
Terjadinya serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama mengapa harga minyak kembali naik, karena muncul kekhawatiran tentang keamanan pasokan minyak dari Timur Tengah.

