JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji memastikan bahwa stok gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman masih aman hingga Desember 2026.
Walau begitu, Sarmuji juga mendorong agar penyelesaian neraca komoditas dan persetujuan impor gula rafinasi untuk tahun 2027 bisa dipercepat. Hal ini penting untuk mengantisipasi kebutuhan industri, terutama saat memasuki tahun baru. Pernyataan ini muncul setelah pertemuannya dengan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI).
Sarmuji menjelaskan bahwa kepastian pasokan di awal 2027 memerlukan perhatian ekstra dari pemerintah. Sebab, permintaan terhadap gula rafinasi biasanya meningkat menjelang berbagai hari besar keagamaan, seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru), kemudian berlanjut ke bulan Ramadan dan Idulfitri.
“Kita antisipasi momen-momen besar yang akan datang. Dari Nataru sampai puasa dan hari raya, kebutuhan bahan baku industri, terutama gula, pasti meningkat,” ujar Sarmuji seusai menerima perwakilan AGRI di Kantor Kemenperin, Jakarta.
Pemerintah sudah melakukan koordinasi dengan AGRI setelah mendengar keluhan dari salah satu pabrik yang mengalami kekurangan pasokan gula rafinasi hingga 15.000 ton. Kekurangan ini bisa mengganggu kelangsungan produksi jika tidak segera ditangani.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar ini juga menyebutkan bahwa kerja sama dengan AGRI telah membantu mengatasi masalah tersebut. Saat ini, pasokan gula rafinasi untuk pabrik yang mengalami keluhan sudah mencapai 90% dari total kebutuhan mereka.
“Setelah koordinasi, alhamdulillah masalah ini teratasi. Sekarang pabrik yang sebelumnya mengalami kekurangan sudah mendapatkan 90% dari kebutuhannya, dan insyaallah tidak ada pabrik yang berhenti produksi karena kurangnya gula rafinasi. Sampai Desember ini, insyaallah aman,” ungkapnya.
Namun, Sarmuji menegaskan pentingnya memastikan pasokan bisa tersedia kembali di Januari 2027. Untuk itu, pemerintah sedang mengupayakan percepatan penyelesaian neraca komoditas supaya pemesanan gula rafinasi dan kedatangan bahan baku industri sesuai dengan kebutuhan.
“Pertanyaannya adalah, apakah pasokan datang lebih cepat awal tahun depan? Itu yang sedang kita usahakan. Kita ingin memastikan bahwa neraca komoditas bisa segera diselesaikan, sehingga pemesanan gula rafinasi sebagai bahan baku industri aman di awal tahun,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua AGRI Supriyadi mengungkapkan bahwa rencana impor gula rafinasi tahun ini diharapkan mencapai sekitar 3 juta ton. Pasokan ini ditargetkan cukup untuk memenuhi permintaan industri sampai akhir Desember 2026, walaupun ketersediaan di Januari perlu diantisipasi lebih lanjut.
Supriyadi juga mengemukakan bahwa percepatan dalam penerbitan rencana kebutuhan industri dan persetujuan impor untuk 2027 sangat penting agar pasokan gula rafinasi bisa kembali tersedia pada awal tahun depan.
“Tahun ini kami harapkan ada sekitar 3 juta ton, yang seharusnya cukup sampai akhir Desember. Namun, perlu ada perhatian untuk ketersediaan di Januari. Kami mohon kepada Pak Menteri agar ini menjadi prioritas untuk percepatan penerbitan rencana kebutuhan industri dan persetujuan impornya,” tutup Supriyadi.

