[BANGKOK/KUALA LUMPUR] Ketegangan perdagangan antara Malaysia dan Thailand semakin meningkat, di mana Thailand menyatakan kemungkinan akan membawa isu ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Perselisihan ini bermula bulan lalu ketika Thailand meningkatkan pemeriksaan terhadap pengiriman ikan seabass Malaysia di sebuah perbatasan besar setelah pihak berwenang menemukan residu bahan kimia dan antibiotik. Penambahan pemeriksaan memperlambat proses bea cukai, mengakibatkan pembusukan ikan segar dan memicu keluhan dari eksportir Malaysia.
Malaysia merespons awal bulan ini dengan menghentikan impor dari lima spesies udang Thailand, yang secara efektif memotong pasar senilai lebih dari US$10 juta setahun untuk eksportir Thailand. Dalam empat bulan pertama 2026, Thailand mengirimkan lebih dari US$5 juta udang ke Malaysia. Industri udang menyumbang sekitar sepertiga dari total ekspor makanan laut negara tersebut.
Setelah kurang dari dua minggu larangan itu diterapkan, Wakil Perdana Menteri Thailand sekaligus Menteri Perdagangan, Suphajee Suthumpun, pada Rabu (10 Juni) menyatakan bahwa Thailand bisa mengangkat isu ini di ASEAN atau WTO jika negosiasi bilateral gagal.
Ia mengkritik keputusan Malaysia untuk menghentikan impor secara langsung tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu, menggambarkan langkah itu sebagai “tidak tepat”.
Dalam pernyataannya kepada Bloomberg, Wakil Menteri Pertanian dan Keamanan Pangan Malaysia, Chan Foong Hin, mengatakan bahwa pembatasan tersebut diumumkan pada bulan Mei dan mulai berlaku pada 1 Juni, memberikan waktu sekitar dua minggu bagi eksportir untuk bersiap dan menyesuaikan diri.
Menteri Pertanian Thailand, Suriya Jungrungreangkit, mengungkapkan bahwa ia sudah mempersiapkan diri untuk berkunjung ke Malaysia demi mencari penyelesaian.
“Saya yakin kita bisa menyelesaikan isu ini bersama dan melanjutkan ekspor udang Thailand ke Malaysia,” ujar Suriya. “Kedua belah pihak diuntungkan oleh perdagangan, jadi harus ada jalan menuju solusi.”
Chan menegaskan bahwa Malaysia tetap berkomitmen untuk dialog dan kerja sama demi menyelesaikan masalah ini. “Malaysia selalu menjaga pendekatan yang terbuka dan konstruktif,” tuturnya.

