Balon Militer Luncurkan Drone Dapat Digunakan Kembali dari Stratosfer
Balon udara di ketinggian tinggi kini tidak hanya berfungsi untuk pemantauan, tetapi juga sedang dieksplorasi untuk digunakan sebagai platform peluncur udara bagi drone yang tidak berawak dengan daya tahan panjang. Ini adalah langkah baru yang menarik bagi pengembang militer.
Menurut Aerostar, balon Lightning yang dipasangkan dengan drone bertenaga surya Apollo-R dari Icarus telah berhasil menunjukkan jalur yang bisa diterapkan untuk pengangkut drone stratosfer. Uji coba terbaru menunjukkan bahwa balon tersebut berhasil melepaskan pesawat tanpa awak yang memiliki ketahanan tinggi saat terbang di stratosfer terbuka.
Lightning dan Thunderhead Menawarkan Profil Daya Tahan Berbeda
Platform Lightning mampu beroperasi selama hingga tiga hari di ketinggian antara 50.000 hingga 78.000 kaki dengan membawa muatan hingga 45 pon. Di sisi lain, balon Thunderhead yang lebih besar dapat menjangkau ketinggian yang serupa, namun dapat tetap terbang selama lebih dari 60 hari.
Aerostar mengklaim bahwa Thunderhead dapat membawa muatan seberat 200 pon, memungkinkan peluncuran beberapa drone Apollo-R dalam satu misi. Russ Van Der Werff, Wakil Presiden Solusi Stratosfer di Aerostar, menyatakan bahwa platform Thunderhead dapat berfungsi sebagai induk, mengangkut beberapa drone Apollo-R sekaligus.
Drone Apollo-R sendiri bisa terbang dengan tenaganya setelah lepas landas, mampu mencapai ketinggian mendekati 60.000 kaki dan bertahan di udara selama berbulan-bulan. Berbeda dengan amunisi sekali pakai, drone ini dirancang untuk bisa diambil kembali dan mendarat di titik yang sudah ditentukan sehingga kerangka pesawatnya bisa digunakan kembali di misi berikutnya.
Balon-balon Aerostar juga dilengkapi dengan radio jaringan mesh yang menawarkan tautan data dengan jarak pandang lebih dari 100 mil dan kecepatan hingga 40 Mbps.
Minat Militer Meluas Melebihi Satu Program
Angkatan Darat AS telah merencanakan arsitektur sensor multi-domain yang berkelanjutan yang sebagian dibangun di sekitar balon udara tinggi di kawasan Indo-Pasifik. Andrew Evans dari kantor G-2 Angkatan Darat menjelaskan bahwa tujuan ini adalah untuk menunjukkan serangan otonom yang mempertahankan keberadaan stratosfer secara biaya efektif.
Drone Apollo-R sudah terbang dari balon Urban Sky dalam latihan Valiant Shield 2026, menunjukkan bahwa banyak perusahaan saat ini mengejar konsep serupa. Drone yang diluncurkan dari balon semakin populer di Ukraina, sementara China juga telah berinvestasi besar dalam kemampuan serang ganda yang sebanding.
Situasi yang sama terjadi di Rusia, yang kini melengkapi balon stratosfernya dengan jaringan pengulangan untuk melawan pembatasan Starlink. Van Der Werff menegaskan bahwa balon memiliki keunggulan daya tahan dibandingkan pesawat seperti Global Hawk atau Reaper yang harganya mencapai ratusan juta dolar.
Biaya individu balon yang rendah memungkinkan militer mendistribusikan banyaknya balon di seluruh kawasan, menciptakan jaringan sensori yang tahan kehilangan satu node sekalipun. Selain Angkatan Darat, Korps Marinir, unit operasi khusus, dan cabang lainnya juga sedang menjajaki sistem berbasis balon untuk berbagai misi.
Laboratorium Penelitian Angkatan Laut sebelumnya sudah menguji coba drone yang diluncurkan dari balon selama tahun 2010-an dalam proyek yang dikenal sebagai CICADA, singkatan dari Close-in Covert Autonomous Disposable Aircraft. Teknologi ini kini menjadi perhatian di seluruh dunia dan diharapkan akan berkembang lebih jauh dari sekadar fase pengujian.
Namun, balon stratosfer punya satu kelemahan—mereka rentan terhadap angin berkecepatan tinggi di ketinggian, yang bisa mengakibatkan mereka melenceng dari area operasional yang diinginkan.

