Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 kini mencatatkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dari setiap dolar penjualan yang mereka hasilkan. Data terbaru menunjukkan bahwa mereka memiliki margin laba bersih yang sangat mengesankan, memberikan angin segar bagi pasar saham.
Berdasarkan data dari FactSet, John Butters, analis senior laba dan wakil presiden di FactSet, mengungkapkan bahwa rata-rata margin laba bersih S&P 500 mencapai 16,9% untuk kuartal kedua tahun ini. Angka ini mengalami peningkatan dari 14,8% di kuartal pertama dan 12,9% dari tahun lalu, serta jauh di atas rata-rata lima tahun yang sebesar 12,4%.
Margin laba bersih adalah persentase pendapatan yang dapat dinikmati perusahaan setelah semua biaya dibayarkan.
Jika angka 16,9% ini dapat dipertahankan, itu akan menjadi margin laba bersih tertinggi yang tercatat sejak FactSet mulai memantau metrik ini pada tahun 2009, kata Butters.
Perusahaan seperti Alphabet dan Amazon menjadi kontributor utama dari pencapaian margin laba bersih rekor S&P 500 ini. Alphabet mencatatkan margin operasional sebesar 34% untuk kuartal kedua, naik dari 32% pada tahun sebelumnya. Perusahaan induk Google ini juga melaporkan keuntungan $98 miliar dari pendapatan lain, yang sebagian besar berasal dari keuntungan yang belum direalisasikan pada sekuritas ekuitas. Di sisi lain, Amazon mencatatkan pendapatan lain sebesar $53,4 miliar, yang sebagian besar terkait dengan investasinya di Anthropic. Margin operasional Amazon di kuartal kedua mencapai 13,7%, meningkat dari 11,4% tahun lalu.
Tetapi, kekuatan ini tidak hanya terfokus pada dua raksasa tersebut.
Walaupun mengecualikan Alphabet dan Amazon, margin S&P 500 masih menunjukkan performa yang luar biasa di angka 15%, yang juga merupakan rekor dan mencatatkan margin laba bersih tertinggi yang pernah dilaporkan oleh indeks ini sejak 2009.
Dari segi sektor, margin laba juga menunjukkan perbaikan di sebagian besar pasar. Delapan dari sebelas sektor dalam S&P 500 tercatat memiliki margin yang lebih tinggi dibandingkan satu tahun yang lalu, dengan sektor teknologi, layanan komunikasi, barang konsumsi tidak penting, dan energi sebagai sektor teratas.
Adam Schickling, seorang ekonom senior di Vanguard, mengatakan bahwa permintaan yang kuat dan pengelolaan operasional yang efisien membantu perusahaan-perusahaan mengubah lebih banyak dari pendapatannya menjadi laba. “Ketika bisnis sibuk, mereka lebih menguntungkan,” kata Schickling. “Perusahaan yang lebih sibuk jadi lebih efisien, dan ini berimbas pada margin yang lebih tinggi.”
Perusahaan di sektor teknologi, secara historis, memang mendapat keuntungan dari model bisnis yang mampu menambah pelanggan tanpa peningkatan biaya yang sebanding. “Perusahaan teknologi biasanya memiliki margin laba yang lebih tinggi dibandingkan sektor seperti bahan, industri, atau energi,” jelas Schickling. “Sektor ini cenderung memiliki margin laba yang lebih tinggi, terutama karena historically mereka cukup ringan dalam aset, yang memungkinkan mereka untuk berkembang dengan sangat efisien.”
Namun, perusahaan-perusahaan di sektor teknologi juga menghadapi tekanan persaingan yang besar, dengan banyaknya pendatang baru di pasar. Ini bisa berpotensi menimbulkan risiko bagi margin laba di masa depan, kata Schickling. Dengan demikian, meski saat ini keuntungan terlihat cerah, tantangan di depan juga perlu diantisipasi oleh para pelaku bisnis.

