Unit Phoenix dari Dinas Penjaga Perbatasan Negara Ukraina berhasil menghancurkan peluncur Buk-M3 milik Rusia dengan menggunakan drone berkekuatan rendah yang biayanya sangat terjangkau. Ini bukan kejadian pertama, dan kemungkinan besar bukan yang terakhir. Ukraina mengklaim bahwa puluhan sistem Buk dari jenis ini telah rusak atau hancur sejak konflik dimulai.
Keputusan Ukraina untuk menggunakan drone dalam doktrin perang asimetrisnya melawan Rusia terbukti memberikan hasil positif di berbagai lini. Salah satunya adalah serangan terbaru yang berhasil menghancurkan peluncur Buk-M3, yang berdasarkan estimasi independen, memiliki biaya antara 40 hingga 50 juta dolar AS. Menurut Oryx, sebuah blog intelijen sumber terbuka, terdapat lebih dari 40 konfirmasi terkait hancurnya peluncur Buk sejak dimulainya konflik ini.
Meskipun terdengar rutin, sistem Buk-M3 terbilang mahal untuk diganti, dan Ukraina mengklaim bahwa mereka berhasil menghancurkannya menggunakan drone FPV yang biaya produksinya “hanya beberapa ribu dolar.” Ini menunjukkan seberapa efektif drone murah dalam mengincar sasaran militer bernilai tinggi, terutama di tengah pertempuran yang semakin sengit.
Konflik yang Semakin Berat untuk Peralatan Militer yang Mahal
Peralihan Ukraina dan Rusia ke penggunaan drone telah membawa dampak signifikan, terutama pada peralatan militer yang sangat mahal. Buk-M3, yang dikenal sebagai Viking dalam versi ekspornya dan diberi nama SA-27 oleh NATO, adalah sistem rudal permukaan-ke-udara medium terbaru milik Rusia. Diterima dalam layanan Rusia pada tahun 2016 sebagai pengganti Buk-M2, sistem ini menjadi bagian dari lapisan pertahanan udara Rusia yang kompleks.
Buk-M3 dilengkapi dengan rudal 9M317M, yang memiliki motor mode ganda yang lebih kuat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Dengan jangkauan sekitar 70 km dan kecepatan maksimum mendekati 1.550 m/s, peluncur ini bisa membawa enam rudal sekaligus, dan memiliki sistem elektronik yang lebih baik untuk mempercepat waktu siaga. Target berharga bagi operator drone Ukraina, Buk-M3 justru dibuat sebagian untuk menghadapi ancaman udara. Namun, jangkauan efektif minimum sistem ini sekitar 2,5 km, sehingga drone kecil yang masuk ke jarak ini bisa dengan mudah diabaikan.
Ukraina telah mengembangkan berbagai metode untuk menyerang pangkalan udara Rusia, posisi armor, dan posisi artileri, salah satunya adalah Operasi Spiderweb, yang menurut layanan keamanan Ukraina berhasil menghancurkan sekitar 7 miliar dolar AS dalam perangkat keras militer Rusia, termasuk pesawat yang tidak lagi diproduksi.
Menurut Dinas Penjaga Perbatasan Ukraina, sistem ini sedang bergerak menuju garis depan dan terlihat jelas saat diserang. Detail ini sangat penting karena kendaraan pertahanan udara paling rentan saat berpindah tempat. Mereka tidak dapat bertindak secara efektif saat bergerak, sehingga jendela transit menjadi target yang dapat diprediksi.
Tujuan dari usaha Ukraina untuk melemahkan pertahanan udara medium Rusia adalah membuka jalur bagi serangan drone jarak jauh dan penerbangan berawak. Ini menjelaskan kenapa frekuensi serangan meningkat dan bagaimana serangan bisa menjangkau wilayah Rusia yang lebih dalam.
Kasus kehilangan Buk-M3 akibat drone FPV adalah contoh jelas tentang masalah yang dihadapi Rusia terhadap industri drone Ukraina yang terus berkembang, dalam perang yang kini bergerak ke arah saling keausan di berbagai front.

