Dalam beberapa hari mendatang, ribuan aparat keamanan, termasuk polri dan tentara, akan dikerahkan menjelang aksi unjuk rasa besar-besaran yang direncanakan oleh mahasiswa. Mereka tengah gelisah menghadapi kenaikan biaya hidup yang signifikan dan mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengendalikan pengeluaran besar serta memperbaiki situasi ekonomi.
Menurut juru bicara kepolisian Jakarta, Budi Hermanto, sekitar 4.151 personil gabungan akan dikerahkan untuk mengatur jalannya demonstrasi ini yang akan berlangsung di Plaza Indonesia, tidak jauh dari Istana Negara. Dia menekankan agar para peserta aksi tidak melakukan vandalisme dan tidak membawa senjata. Penutupan jalan dan pengalihan arus lalu lintas mungkin akan diberlakukan berdasarkan jumlah orang yang hadir serta kondisi di lapangan.
Penyebaran aparat keamanan ini menjadi bukti kekhawatiran pemerintah terhadap potensi kerusuhan yang besar, meskipun kelompok sipil dan buruh diperkirakan tidak akan berpartisipasi dalam aksi ini. Aksi demonstrasi yang berlangsung ganas tahun lalu membuat Prabowo memecat menteri keuangannya, sedangkan demonstrasi besar pada tahun 2024, menjelang Prabowo menjabat, memaksa parlemen untuk membatalkan revisi undang-undang pemilu.
Wana Alamsyah, kepala Divisi Hukum dan Investigasi di Indonesia Corruption Watch, mengatakan bahwa demonstrasi tahun lalu dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap ketimpangan antara mereka dengan pejabat publik, yang dianggap memiliki kekayaan berlebih. Ia menyoroti bahwa dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarang, pejabat bisa mempertimbangkan pengurangan gaji, namun mereka cenderung memilih untuk menaikkan harga bahan bakar dan tidak melakukan pemotongan gaji.
Para mahasiswa dari beberapa kampus di wilayah Jabodetabek diundang untuk bergabung dalam demonstrasi ini. Mereka direncanakan berkumpul sekitar pukul 1 siang waktu Jakarta. Beberapa tuntutan mereka berfokus pada aspek ekonomi, yang sejalan dengan kekhawatiran para investor asing yang telah menarik dananya, menyebabkan penurunan baik di bursa saham maupun nilai rupiah, yang menjadi salah satu mata uang terburuk di Asia tahun ini.
Pemerintah sendiri berupaya mengendalikan aliran dana yang keluar, salah satunya dengan menaikkan suku bunga secara mendadak pekan ini. Namun, para mahasiswa merasa bahwa langkah pemerintah masih tidak tepat. Dalam pernyataan BEM UI sebelum aksi, mereka mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia semakin memburuk, sementara pemerintah hanya memperparah keadaan tanpa memberikan solusi yang efektif. Mereka juga mengangkat isu tentang penurunan otonomi Bank Indonesia.
Kelompok sipil sebelumnya sudah menyatakan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam demonstrasi ini. Said Iqbal, kepala salah satu serikat buruh terbesar di Indonesia, juga menyatakan tidak ada rencana bagi buruh untuk terlibat dalam aksi unjuk rasa hari Jumat ini. Namun, pengamat melihat bahwa mahasiswa bukan satu-satunya yang khawatir tentang ekonomi atau kebijakan Prabowo.
Wana dari ICW menambahkan bahwa pengeluaran pemerintah berlangsung tanpa pertimbangan yang jelas atau transparan kepada publik. Masyarakat sangat marah dengan kenaikan harga BBM non-subsidi dan penurunan nilai rupiah. Lima tuntutan mahasiswa mencakup permintaan agar pemerintah menghentikan pengeluaran anggaran yang boros serta menurunkan harga barang-barang kebutuhan pokok dan bahan bakar.
Pemerintah Indonesia memang mempertahankan harga BBM bersubsidi meskipun harga energi global meningkat, tetapi baru-baru ini meningkatkan harga produk BBM non-subsidi yang memberatkan kalangan menengah. Mereka juga meminta dihentikannya program makanan gratis yang kontroversial dan skema Koperasi Desa Merah Putih. Program tersebut dirancang untuk mengurangi kemiskinan dan malnutrisi, namun Prabowo baru-baru ini memecat kepala program tersebut di tengah penyelidikan korupsi.
Prabowo, yang merupakan mantan jenderal, juga diingatkan untuk menghentikan militerisasi dalam urusan sipil dan mengakui kesalahan pemerintah. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan dari mahasiswa bisa menjadi sinyal bagi pemerintah untuk merespon lebih baik terhadap kebutuhan masyarakat.

