Harga beras putih Thailand yang mengalami kerusakan 5% melonjak 10% menjadi US$423 per ton pada pekan yang diakhiri 8 April. Ini adalah lonjakan terbesar dalam lebih dari dua tahun dan mencerminkan kekhawatiran tentang prospek pasokan beras. Kenaikan ini terjadi setelah biaya bahan bakar dan pupuk meroket akibat konflik di Iran, yang bahkan membuat beberapa petani di Thailand memilih untuk tidak memanen hasil pertanian mereka.
Harga beras putih Thailand, yang menjadi patokan Asia, menunjukkan tanda-tanda awal bahwa biaya input yang semakin tinggi mulai mempengaruhi pasar. Meskipun begitu, harga beras sebenarnya telah berada dalam tren penurunan yang berkepanjangan dan baru-baru ini mendekati level terendah dalam lebih dari satu dekade.
Oscar Tjakra, seorang analis komoditas senior di Rabobank Singapura, menegaskan bahwa banyak petani di Thailand sekarang menunda penanaman beras karena keuntungan mereka tidak mencukupi untuk menutupi biaya yang terus membengkak. Situasi sulit ini semakin diperparah oleh musim kemarau yang berkepanjangan, yang berdampak signifikan pada hasil panen dan mengencangkan pasokan beras saat ini.
Tjakra juga menambahkan bahwa penguatan nilai baht serta biaya pengiriman dan asuransi yang tinggi akibat perang di Timur Tengah turut berkontribusi pada lonjakan harga beras ini. Thailand sendiri adalah eksportir beras terbesar ketiga di dunia berdasarkan data dari Departemen Pertanian AS. Saat ini, para petani di negara ini serta di wilayah sekitarnya sedang panen hasil pertanian di luar musim dan bersiap untuk penanaman komoditas utama yang akan dimulai seawal bulan Mei.
Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri perang dengan Iran, yang bisa memberikan sedikit angin segar bagi pasar secara keseluruhan. Namun, pemulihan arus energi ke jalur normal di Selat Hormuz akan memerlukan waktu. Hal ini bisa berarti bahwa biaya input tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, yang tentu saja memengaruhi output beras. Kondisi ini menjadi sorotan penting di tengah situasi pasar yang fluktuatif saat ini.

