Saham-saham Malaysia mencuri perhatian bulan ini di tengah konflik yang terjadi di Iran, berkat status negara ini sebagai eksportir energi bersih.
[KUALA LUMPUR] Saham Petronas Chemicals Group Bhd, produsen petrokimia asal Malaysia, bahkan melesat hingga dua kali lipat bulan ini. Kenaikan ini dipicu oleh kecemasan akan penutupan sepanjang Selat Hormuz yang berkepanjangan, yang mendorong harga pupuk global melambung. Para analis melihat potensi kenaikan lebih lanjut jika jalur perairan ini tetap tertutup.
Saham ini siap mengakhiri bulan di posisi puncak indeks MSCI Asia setelah melonjak 102 persen sejak perang di Iran dimulai. Sementara itu, indeks saham Asia lainnya justru mengalami penurunan lebih dari 13 persen. Setidaknya tujuh perusahaan sekuritas telah melakukan upgrade untuk Petronas Chemicals bulan ini, berdasarkan data yang dikompilasi oleh Bloomberg.
Persaingan dalam pasar pupuk semakin memanas menjelang musim tanam, di mana lebih dari sepertiga ekspor urea dan hampir seperempat amonia berasal dari Timur Tengah. Hal ini akan meningkatkan pendapatan bagi perusahaan Malaysia, karena harga dan margin yang tinggi cenderung bertahan jika gangguan berlanjut hingga akhir tahun.
“Bahan baku Petronas Chemicals stabil dan tidak akan terganggu karena diperoleh dari dalam negeri,” ungkap Kaushal Ladha, kepala penelitian Thailand di Macquarie Capital. “Sebagian besar investor sebelumnya tidak memposisikan diri untuk saham ini, jadi setiap berita positif dapat mempengaruhi pergerakan saham dengan sangat signifikan.”
Saham Malaysia memang tampil menonjol bulan ini, mencolok di tengah gejolak pasar global karena perang di Iran. Hal ini sangat didukung oleh status Malaysia sebagai salah satu dari sedikit eksportir energi bersih di Asia. Investor asing tercatat membeli saham lokal senilai USD 25,3 juta di bulan Maret, meskipun mereka menjual ekuitas di sebagian besar pasar Asia yang sedang berkembang lainnya.
CGS International Securities bahkan menaikkan target harga untuk Petronas Chemicals sebesar 19 persen menjadi RM6,58 setelah memperkirakan laba bersih inti 2026 meningkat sebesar 44 persen.
Jika penutupan selat ini berlanjut lebih lama dari yang diharapkan, “ini bisa menyebabkan kekurangan bahan baku yang parah bagi pesaing Petronas Chemicals yang berbasis naphtha dan menciptakan kondisi untuk lonjakan parabola dalam harga jual,” tulis analis CGS International, Raymond Yap, dalam sebuah catatan. BLOOMBERG

