Ticketmaster baru-baru ini menjadi sorotan setelah presiden mereka, Saumil Mehta, mengungkapkan bahwa posisi antrean tidak diacak seperti yang selama ini diberitakan. Hal ini menciptakan kehebohan di kalangan penggemar musik yang merasa bahwa penempatan antrean bisa jadi didasarkan pada aktivitas akun pengguna.
Selama bertahun-tahun, kita semua percaya bahwa setiap posisi dalam antrean di Ticketmaster diacak, memberi kesempatan yang sama bagi siapa saja untuk mendapatkan tiket konser. Namun, pernyataan Mehta ini mengindikasikan bahwa perusahaan sejatinya memiliki cara lain dalam menentukan posisi antrean.
Sebuah diskusi di platform X antara Mehta dan akun penggemar @lexs_version membawa kebingungan ini ke permukaan. Saat ditanya mengenai posisi antrean, Mehta menyatakan bahwa dia tidak tahu dari mana anggapan bahwa posisi antrean itu acak. Namun, kala banyak pengguna memperlihatkan sebuah pos resmi dari Ticketmaster pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa posisi antrean memang diacak, Mehta memilih untuk tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Hal ini pun menciptakan pertanyaan besar: Jika Ticketmaster tidak mengacak posisi antrean, lalu apa kriteria yang digunakan untuk menentukan nomor antrean? Sebuah pengguna mengungkapkan pengalaman mereka saat mencoba membeli tiket untuk tur Ariana Grande, di mana mereka terus-menerus mendapatkan posisi antrean yang konsisten, menempatkan mereka pada angka sekitar 80.000 setiap kali menggunakan satu akun. Namun, ketika mencoba dengan akun lain, mereka mendapatkan posisi yang jauh lebih baik, sekitar 20.000. Kejadian ini membuat banyak orang berpikir bahwa penempatan posisi antrean ini tidaklah acak.
Ada teori yang berkembang bahwa akun yang lebih aktif memiliki peluang lebih baik untuk mendapatkan posisi antrean yang lebih rendah. Seorang pengguna menyebutkan bagaimana suami mereka, yang memiliki akun Ticketmaster dengan banyak aktivitas, selalu mendapatkan posisi antrean di bawah angka 2.000. Pengguna ini percaya bahwa keberhasilan membeli banyak tiket di satu tur adalah hasil dari aktivitas akun yang rutin digunakan untuk mentransfer tiket kepada teman-teman yang ikut nonton.
Kini, semakin banyak penggemar percaya bahwa Ticketmaster telah mengutamakan para scalper dan reseller. Ide ini muncul karena jika posisi antrean sangat tergantung pada aktivitas akun, maka akun yang dirancang untuk membeli tiket dalam jumlah banyak dan kemudian menjualnya kembali akan lebih diuntungkan.
Akibatnya, Ticketmaster dapat meraup keuntungan lebih pada biaya penjualan kembali, sementara penggemar musik yang tulus terpaksa membayar harga tinggi untuk tiket yang mereka dapatkan dari reseller. Hal ini menciptakan ketidakadilan, di mana penggemar asli harus berjuang untuk mendapatkan tiket dengan harga yang wajar.
Pernyataan Mehta yang mengundang banyak pertanyaan ini terjadi di tengah sorotan tajam terhadap Ticketmaster, apalagi setelah insiden pada Eras Tour. Kini, banyak orang menantikan penjelasan lebih lanjut dari perusahaan tentang praktik antrean ini. Ini adalah situasi yang serius dan sensitif bagi penggemar musik, yang berharap bisa mendapatkan akses adil terhadap tiket konser yang mereka idamkan.

