TANGGAMUS, investortrust.id – Dari kebun-kebun warga di Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, alpukat menjadi salah satu komoditas unggulan yang terus memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani lokal. Peluang ini semakin besar ketika hasil panen dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan terserap dengan baik.
Bagi petani di Sumberejo, potensi ini didorong oleh kualitas buah yang mereka hasilkan. Alpukat dari wilayah ini dikenal mempunyai daging lembut, tekstur halus, dan rasa yang kaya, sehingga sangat diminati oleh konsumen. Namun, tantangan muncul saat panen raya tiba. Pada saat yang sama, hasil kebun melonjak, sedangkan petani butuh lebih banyak pembeli agar alpukat dapat terserap dengan baik.
Permasalahan ini sangat dipahami oleh Prayitno, seorang penggerak kelompok tani alpukat. Berangkat dari pengalamannya sebagai petani, ia mengerti betul bagaimana hasil panen yang sudah dirawat selama berbulan-bulan memerlukan jalur pemasaran yang jelas agar nilainya tetap terjaga.
“Saya berangkat dari petani, jadi paham betul tantangannya. Petani sudah menanam dan merawat, lalu saat panen, yang terbesit di pikiran adalah bagaimana hasil ini bisa terjual dengan baik. Karena itu kami berusaha berkembang bersama, merangkul petani di sekitar agar hasil panen kami bisa dipasarkan bersama,” jelas Prayitno.
Dari situ, Prayitno mulai mencari cara agar hasil kebun para petani di lingkungannya bisa dipasarkan lebih luas. Ia menghimpun alpukat dari beberapa petani untuk dibawa ke pasar induk. Langkah yang awalnya didorong oleh kebutuhan pemasaran perlahan-lahan berkembang menjadi jaringan usaha bersama petani di sekitarnya.
Seiring terjalinnya hubungan ini, Prayitno semakin menyadari bahwa kebutuhan petani tidak hanya berhenti saat panen. Kadang mereka juga memerlukan dukungan untuk menjaga kegiatan budi daya tetap berjalan hingga musim berikutnya. Dalam kondisi tertentu, Prayitno juga membantu menyediakan modal bagi petani yang menjadi mitranya.
“Kalau ada petani yang butuh modal, kami kadang bantu. Karena kalau petaninya bisa terus bertani, hasilnya bisa kami pasarkan bersama. Jadi kami tumbuh dari lingkungan sendiri,” tambahnya.
Pola ini membawa perkembangan bagi usaha alpukat di Sumberejo, saling menopang di antara petani dan jaringan pemasaran. Petani tetap fokus merawat kebun dan menjaga kualitas buah, sementara jaringan pemasaran terus dibangun agar hasil panen memiliki lebih banyak jalan menuju pembeli.
Oleh karena itu, Prayitno terus mencari peluang untuk memperbesar jaringan pemasaran. Pasalnya, luasnya pasar menjadi salah satu penentu seberapa jauh hasil kerja di kebun dapat memberikan nilai. Semakin banyak pembeli yang dapat dijangkau, semakin besar pula peluang hasil panen terserap, modal kembali berputar, dan usaha dapat dilanjutkan di musim berikutnya.
Bersama kelompok tani di wilayahnya, Prayitno terhubung dengan program Klasterku Hidupku dari BRI. Hubungan ini bermula ketika BRI melakukan survei kepada kelompok tani dan membuka peluang kerja sama.
Melalui Klasterku Hidupku, peluang untuk memperluas jaringan usaha semakin terbuka. Dukungan ini sangat penting karena bertambahnya akses pasar akan memperbesar kemampuan kelompok dalam membawa hasil kebun petani Sumberejo kepada lebih banyak pembeli.
Perkembangan tersebut mulai terlihat dari sisi usaha. Prayitno menyebutkan bahwa omzet dan penjualannya menunjukkan tren peningkatan. Ketika ditanya mengenai besarannya, ia memperkirakan pertumbuhan ini mencapai sekitar 30%.
Bagi Prayitno, kenaikan ini membuka peluang untuk membawa lebih banyak hasil panen petani ke pasar. Ketika jaringan penjualan bertambah, kemampuan untuk menampung hasil kebun warga juga semakin berkembang. Dari satu petani ke petani lainnya, pertumbuhan usaha perlahan-lahan menjadi peluang bersama.
Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa melalui program Klasterku Hidupku, BRI terus mendorong kelompok usaha berbasis potensi lokal agar semakin kuat dari segi kapasitas usaha, jaringan, dan akses pasar.
“Potensi ekonomi daerah akan semakin kuat ketika pelaku usaha di dalamnya dapat tumbuh bersama. Pengembangan klaster tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada bagaimana membuka akses pasar, memperkuat jaringan usaha, dan menciptakan lebih banyak peluang agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar Dhanny.
Hingga September 2026, BRI telah mengembangkan lebih dari 45 ribu klaster usaha di berbagai daerah melalui program Klasterku Hidupku, menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem usaha produktif berbasis komunitas.

