Kebangkitan teknologi AI dalam beberapa tahun terakhir benar-benar memukau. Bayangkan, seorang karyawan kini bisa mengajukan pertanyaan kepada AI yang dulunya harus didiskusikan dengan rekan kerja. Presentasi yang biasanya memakan waktu seharian kini bisa siap sebelum makan siang. Pertanyaannya, apakah ini perubahan positif atau justru tidak?
Susah untuk mengatakan dengan pasti karena kita mengadopsi teknologi baru ini begitu cepat sehingga pembentukan kebijakan dan strategi penggunaannya sering kali tertinggal.
Your AI culture is forming before your AI policy
Pemanfaatan AI untuk melakukan riset, menyusun, menganalisa, merangkum, dan menyelesaikan masalah secara cepat merubah cara orang bekerja bersama. Ketika kebiasaan baru mulai terbentuk, harapan terkait kecepatan, kolaborasi, dan kualitas kerja pun beralih. Begitulah AI mulai merubah budaya perusahaan. Sayangnya, sering kali perubahan ini terjadi sebelum para pemimpin memikirkan bagaimana penggunaan AI dapat memperkuat nilai inti perusahaan.
Menurut penelitian Gallup 2026, terdapat perbedaan signifikan dalam pengalaman karyawan terhadap perubahan ini. Di tempat kerja yang sudah menerapkan AI, 24% karyawan merasa budaya mereka membaik dalam setahun terakhir, sementara 25% merasa sebaliknya. Dua kutub ini menunjukkan bahwa AI sendiri tidak menentukan hasil. Pilihan yang diambil oleh para pemimpin tentang bagaimana AI digunakan lah yang benar-benar berpengaruh.
AI is rewriting the unwritten rules of work
Saat AI menjadi bagian dari rutinitas kerja, para pemimpin dihadapkan pada tiga pertukaran kunci. Bagaimana mereka menangani hal ini jelas menunjukkan kepada karyawan apa yang perusahaan hargai — dan apa yang tidak.
Kecepatan vs. pemikiran kritis
Sebuah laporan yang dulunya bisa memakan waktu lima jam kini hanya butuh satu jam. Itu berguna, tetapi seseorang tetap perlu mempertanyakan temuan tersebut dan memutuskan apa maknanya. Jika respon yang muncul adalah “buat lebih banyak laporan”, mungkin tidak ada waktu untuk berpikir, hanya melakukan — dan kualitas hasil bisa menjadi masalah.
Akses ke informasi vs. kolaborasi
Karyawan bisa bertanya kepada AI tentang suatu produk tanpa harus menghubungi orang di R&D. Itu menghemat waktu, tetapi mereka kehilangan kesempatan untuk berdiskusi. Karyawan mungkin tidak pernah mengetahui mengapa suatu keputusan diambil, dan tim R&D pun tidak akan mendengar apa yang pelanggan tanyakan. Jika terus terjadi, tim akan semakin sulit untuk memecahkan masalah bersama.
Efisiensi vs. beban kerja
Apa yang terjadi dengan waktu yang dihemat oleh AI? Bisa jadi memberi seseorang ruang untuk menangani masalah yang lebih sulit, membangun keterampilan, atau bekerja dengan tim lain. Atau bisa juga berarti lebih banyak pekerjaan yang diharapkan, sehingga risiko kelelahan meningkat.
AI tidak membuat pilihan-pilihan itu. Pemimpin lah yang bertanggung jawab — dan seiring waktu, pilihan mereka menjadi aturan tak tertulis dalam bekerja.
Gunakan AI untuk memperkuat budaya yang sebenarnya Anda inginkan
Sering kali kita terlalu fokus pada bagaimana karyawan menggunakan AI dan melewatkan dampaknya terhadap cara mereka bekerja sama. Deloitte menyebut masalah yang muncul saat organisasi lebih memperhatikan penggunaan AI tetapi mengabaikan efektivitas kolaborasi sebagai “utang budaya”. Para pemimpin bisa mulai mencegahnya dengan menerapkan nilai-nilai yang sudah dibicarakan organisasi dan membuatnya jelas saat karyawan menggunakan AI.
- Kolaborasi: Biarkan AI menangani pertanyaan yang straightforward. Saat sebuah keputusan sebaiknya mendapatkan pengalaman dari rekan, luangkan waktu untuk berdiskusi.
- Pemikiran kritis: Jawaban yang dihasilkan AI bisa menjadi langkah awal. Periksa fakta, tanyakan apa yang mungkin terlewat, dan putuskan sendiri apa makna informasi tersebut.
- Pembelajaran: Beri kesempatan kepada orang-orang untuk mencoba alat AI dan berbicara terbuka tentang apa yang berhasil, apa yang tidak, dan apa yang mereka temukan sepanjang jalan.
- Kepercayaan: Pastikan semua orang tahu kapan harus mengakui bahwa mereka telah menggunakan AI, siapa yang memeriksa pekerjaan, dan siapa yang bertanggung jawab atas hasil akhir.
- Pemikiran strategis: Saat AI menghemat waktu, berikan ruang untuk menghadapi pertanyaan yang lebih rumit atau memikirkan keputusan sebelum menambah tugas lainnya.
Inilah cara nilai-nilai yang tertulis di dinding menjadi bagian dari rutinitas kerja. Para pelatih eksekutif kami sering melihat banyak skenario di mana tim melakukan hal yang benar atau salah. Berikut adalah beberapa contoh yang memperkuat nilai-nilai perusahaan secara positif.
Seorang manajer meminta timnya untuk menggunakan AI dalam persiapan untuk rapat dengan klien, lalu mengumpulkan mereka sebelumnya untuk menguji persiapan itu. Apa yang diasumsikan alat tentang klien? Apa pertanyaan yang masih belum terjawab? Apa yang diketahui seseorang di tim yang tidak ada dalam ringkasan? Tim tersebut masuk ke rapat dengan persiapan yang lebih baik, dan proses itu memperkuat kebiasaan belajar dari satu sama lain — sebelum bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI.
Sebuah tim menggunakan AI untuk menyusun opsi proyek baru, kemudian mengumpulkan rekan dari departemen lain sebelum memilih arah final. Rekan-rekan mereka menemukan masalah praktis yang terlewat oleh tim dan memiliki kesempatan untuk menjelaskan bagaimana perubahan yang diusulkan dapat mempengaruhi pekerjaan mereka. Alat AI membantu orang memulai, tetapi keputusan tersebut lebih baik karena diambil bersama.
AI sudah mengubah kecepatan kerja dan cara orang saling membantu. Para pemimpin dapat membentuk perubahan ini dengan menampilkan nilai-nilai mereka dalam keputusan sehari-hari: memberi waktu kepada orang untuk berpikir, mendorong mereka untuk mencari perspektif rekan, dan mengakui pentingnya perhatian serta kecepatan. Pertanyaannya bukan hanya seberapa banyak pekerjaan yang bisa diambil oleh AI dari beban kerja. Lebih dari itu, apa yang ingin Anda agar orang lakukan dengan waktu dan perhatian yang diberikan kembali — dan apakah hal tersebut membawa tim Anda lebih dekat kepada budaya yang diinginkan.
Mengintegrasikan AI ke dalam organisasi Anda butuh perhatian yang sama seperti saat Anda merekrut karyawan baru atau mendirikan departemen baru. Anda perlu memikirkan bagaimana AI sesuai dan berdampak pada orang-orang yang sudah ada. Perhatian ini membantu Anda membangun budaya yang diinginkan, bukan hanya budaya yang terjadi karena kebetulan.

