Eric Steven Raymond, yang lebih dikenal dengan nama ‘ESR’, telah menjadi sosok penting di dunia pengembangan perangkat lunak selama beberapa dekade. Kontribusinya terhadap pengembangan, bahasa pemrograman, dan gerakan sumber terbuka sangat signifikan. Dengan munculnya AI, ESR mengisyaratkan bahwa era model pengembangan perangkat lunak tertutup akan segera berakhir.
Dalam sebuah pernyataannya, ESR menyebutkan, “Akhir dari kerahasiaan perangkat lunak hampir tiba. Kematian sumber tertutup dan kemenangan terakhir sumber terbuka.”
Reverse Engineering
Belakangan ini, ESR menyampaikan pandangannya di platform X terkait dengan kemunculan model bahasa besar (LLMs) dan dampaknya terhadap perangkat lunak. Dalam postingnya, ia membahas tentang sebuah eksperimen seru yang melibatkan penggunaan AI untuk mendekompilasi sebuah permainan lama dan memporting-nya ke format baru. Dari situ, ia menyadari potensi besar dari praktik ini yang bisa dilakukan dengan skala yang lebih besar.
“Awalnya saya menganggap ini cuma sebuah aksi iseng tanpa percaya bahwa teknik ini bisa diterapkan pada program besar yang nyata,” ungkapnya. “Saya kemudian menyadari bahwa orang-orang kini melakukan hal serupa pada permainan AAA, yang merupakan salah satu artefak perangkat lunak paling kompleks yang pernah dirilis dalam bentuk biner. Jika mereka bisa didekompilasi, maka apapun bisa dilakukan,” tambahnya.
Perubahan Paradigma
Implikasi dari praktik ini, menurut ESR, adalah tidak ada lagi penghalang kerahasiaan di sekitar hampir semua perangkat lunak. Satu-satunya cara bagi industri untuk mempertahankan “penghalang” ini adalah dengan menyembunyikan executable mereka di balik perlindungan SaaS. Dalam konteks ini, perangkat lunak yang didukung cloud akan jauh lebih sulit untuk dibongkar dan diubah.
Daripada software tertutup yang perlahan hilang karena faktor biaya, ESR kini percaya bahwa software sumber tertutup bisa saja “dihapus dalam sebuah technoapocalypse”. Namun, ada caveat bahwa beberapa hukum akan mencegah dekompilasi massal terhadap biner.
Pemikirannya sejalan dengan pandangan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang merefleksikan pernyataan terkenal Marc Andreessen bahwa “perangkat lunak mengendalikan dunia.” Huang memberikan sudut pandang baru dengan menyatakan bahwa “AI akan mengubah perangkat lunak.” Hal ini tampaknya tengah kita saksikan saat AI semakin membaik dan menjadi lebih merata di dunia bisnis.
Transformasi dan kemajuan di dunia teknologi saat ini memberikan peluang sekaligus tantangan baru bagi para pengembang, investor, dan pelaku bisnis. Bagaimana kita merespons perubahan ini akan menentukan masa depan industri perangkat lunak dan teknologi secara keseluruhan.

