Finware
  • Beranda
  • Riwayat
  • Disimpan
  • Feed
  • Topik Pilihan
  • News
  • Market
  • Bisnis
  • Kripto
  • Tech
Notification
FinwareFinware
  • News
  • Market
  • Bisnis
  • Kripto
  • Tech
Search
  • Quick Access
    • Beranda
    • Contact Us
    • Riwayat
    • Disimpan
    • Topik Pilihan
    • Feed
  • Categories
    • News
    • Market
    • Bisnis
    • Kripto
    • Tech

Artikel Populer

Jangan lewatkan artikel menarik lainnya
Indonesia Terancam Tertinggal dalam Euforia EV, Sebagian Besar Nikel Dialihkan ke Baja Tahan Karat, Temuan Riset Mengungkap

Indonesia Terancam Tertinggal dalam Euforia EV, Sebagian Besar Nikel Dialihkan ke Baja Tahan Karat, Temuan Riset Mengungkap

Reihan
19 April 2026
Oracle Satukan Data AI untuk Berikan Agensi Perusahaan Satu Versi Kebenaran

Oracle Satukan Data AI untuk Perusahaan Agensi Single Version of Truth

Keenan
26 Maret 2026
Eksploitasi KelpDAO Senilai $300 Juta Diduga Terfokus pada Jalur Layer 2

Eksploitasi KelpDAO Senilai $300 Juta Diduga Terfokus pada Jalur Layer 2

Rangga
20 April 2026
© 2026 Finware Media. All Right Reserved.
Finware > Market > RI Kian Boros Dolar, Defisit Transaksi Berjalan Semakin Mengkhawatirkan
Market

RI Kian Boros Dolar, Defisit Transaksi Berjalan Semakin Mengkhawatirkan

Reihan
Last updated: 6 November 2026 8:45 PM
By
Reihan
3 Min Read
Share
RI Kian Boros Dolar, Defisit Transaksi Berjalan Semakin Mengkhawatirkan
SHARE

Sabang, CNBC Indonesia – Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memprediksi bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia akan berada di sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2026 dan melebar menjadi 1,6% pada tahun 2027.

Angka ini jelas menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan defisit 0,1% yang diperkirakan pada tahun 2025. Hal ini memberikan sinyal bahwa Indonesia masih sangat membutuhkan pembiayaan dari luar negeri untuk memenuhi permintaan dolar Amerika Serikat. Menurut Irman, kondisi ini dapat menjadi salah satu faktor yang dapat melemahkan nilai tukar rupiah.

Irman menjelaskan bahwa penyebab utama dari melebaranya defisit ini adalah kenaikan biaya impor energi yang berpotensi memperlebar neraca perdagangan minyak dan gas. Kenaikan harga minyak dunia adalah salah satu penyebab utama yang memengaruhi prospek ekonomi global tahun ini. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di awal tahun ini mendorong harga minyak melonjak. Meskipun harga sempat turun, namun kini harga tetap bertahan di level tinggi.

“Tahun ini, harga energi menjadi faktor kejutan. Di awal tahun ada konflik AS-Iran yang menyebabkan harga minyak meningkat tajam. Setelah itu memang sempat turun, tapi akhirnya harganya kembali stabil di atas US$100 per barrel,” tambahnya.

Naiknya harga energi ini juga berkontribusi pada perubahan ekspektasi inflasi global, memicu kembali peningkatan risiko inflasi. Hal ini berimbas pada kebijakan suku bunga bank sentral yang meningkat, memasuki era suku bunga yang lebih tinggi dan lebih lama.

Lebih lanjut, Irman menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga di AS dapat memperkuat daya tarik aset keuangan yang berdenominasi dolar. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai meningkat, para investor menjadi lebih tertarik untuk menempatkan dananya ke dalam instrumen yang lebih aman.

Read more  Imbas Kenaikan Yield: Saham-Saham Unggulan 2026 Tertekan!

Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Ketidakpastian yang muncul dari kebijakan moneter AS dan meningkatnya risiko geopolitik mendorong investor global untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan aset, mengurangi eksposur terhadap risiko seperti saham dan obligasi di pasar negara berkembang.

“Ketika risiko meningkat, investor akan mencari aset keuangan yang relatif lebih aman, termasuk negara yang dianggap stabil. Negara tujuan mereka biasanya adalah negara maju,” jelasnya.

Arus modal yang terus mengalir ke negara maju ini dapat memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Hal ini juga berpotensi meningkatkan permintaan untuk dolar AS, di saat yang sama mengurangi pasokan valuta asing di dalam negeri. Keluarnya investor asing dari pasar saham dan obligasi domestik akan memperburuk situasi.

Kondisi ini memberikan dampak langsung pada neraca transaksi berjalan, karena kebutuhan untuk melakukan pembayaran impor dan aktivitas ekonomi yang memerlukan valuta asing akan semakin meningkat.

Dengan kondisi-kondisi ini, penting bagi para investor dan pengamat pasar untuk terus memantau perkembangan ekonomi, kebijakan moneter, dan arus modal global yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan di Indonesia. Ke depan, strategi yang cermat dan kesadaran akan dinamika pasar akan sangat dibutuhkan agar bisa bertahan dan memanfaatkan peluang yang ada.

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Threads Copy Link
Avatar photo
ByReihan
Ikuti ulasan Reihan Satria untuk analisis pasar modal, pergerakan IHSG, dan sentimen bursa saham. Insight investasi dari meja redaksi Market Finware.
Previous Article Barkin Prediksi Kenaikan Suku Bunga Akan Berlanjut, Namun Secara Bertahap Barkin Prediksi Kenaikan Suku Bunga Akan Berlanjut, Namun Secara Bertahap
Next Article Pajak Internet Baru Prancis Tak Lagi Berlaku, Upaya Hentikan Raksasa Teknologi Kirim Data ke Smartphone Gagal Total Pajak Internet Baru Prancis Tak Lagi Berlaku, Upaya Hentikan Raksasa Teknologi Kirim Data ke Smartphone Gagal Total
- Advertisement -
Ad image

Don't Miss

Robinhood Siap Luncurkan Layanan di Timur Tengah pada 2027 dari DIFC
Robinhood Siap Luncurkan Layanan di Timur Tengah pada 2027 dari DIFC
Kripto
CEO Apple John Ternus: Kenaikan Biaya RAM Kini 'Tak Terduga' – Siapkan Diri untuk Lonjakan Harga Mac Selanjutnya!
CEO Apple John Ternus: Kenaikan Biaya RAM Kini ‘Tak Terduga’ – Siapkan Diri untuk Lonjakan Harga Mac Selanjutnya!
Tech
Norwegia Pimpin Adopsi Bitcoin di Nordic Meski Hadapi Kendala
Norwegia Pimpin Adopsi Bitcoin di Nordic Meski Hadapi Kendala
Kripto
- Advertisement -
Ad image

Baca Juga

Jelajahi insight lain yang sejalan dengan artikel ini!
TRX dan Labuan IBFC Kolaborasi, Dorong Ambisi Keuangan Malaysia ke Level Selanjutnya
Market

TRX dan Labuan IBFC Kolaborasi, Dorong Ambisi Keuangan Malaysia ke Level Selanjutnya

Reihan
19 September 2026
Ekspor Malaysia Mei Melonjak 45,3% Melebihi Prediksi di Tengah Inflasi yang Meningkat Secara Modest 2%
Market

Ekspor Malaysia Melonjak 45,3% di Mei, Mengalahkan Proyeksi Saat Inflasi Naik 2%

Reihan
20 Juni 2026
Ancaman Iran Terhadap Kabel Laut: Senjata Baru yang Lebih Mengerikan daripada Minyak?
Market

Ancaman Iran Terhadap Kabel Laut: Senjata Baru yang Lebih Mengerikan daripada Minyak?

Reihan
13 Juni 2026
Dua Conglomerat India Siapkan Investasi US$1 Miliar untuk Teknologi EV dan Baterai
Market

Dua Conglomerat India Siapkan Investasi US$1 Miliar untuk Teknologi EV dan Baterai

Reihan
7 Mei 2026
Diplomat Utama Uni Eropa Ajak Negara Asia Tenggara Cari Alternatif Minyak Rusia
Market

Diplomat Utama Uni Eropa Ajak Negara Asia Tenggara Cari Alternatif Minyak Rusia

Reihan
29 April 2026
Iran Siap Buka Pintu Negosiasi: Bebaskan Biaya Melintas di Selat Hormuz Selama 60 Hari
Market

Iran Siap Buka Pintu Negosiasi: Bebaskan Biaya Melintas di Selat Hormuz Selama 60 Hari

Reihan
20 Juni 2026
Sektor Manufaktur ASEAN Kesulitan Mengadopsi AI, Bukan Karena Kurangnya Kesadaran, Kata Para Panelis
Market

Sektor Manufaktur ASEAN Kesulitan Mengadopsi AI, Bukan Karena Kurangnya Kesadaran, Kata Para Panelis

Reihan
21 April 2026
Indonesia Bentuk Badan Baru Untuk Atasi Konflik Lahan dan Lakukan Reformasi
Market

Indonesia Bentuk Badan Baru Untuk Atasi Konflik Lahan dan Lakukan Reformasi

Reihan
22 September 2026
Show More
- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
Finware

Baca berita keuangan global real-time, insight market APAC, tren bisnis, dan crypto paling komprehensif. Curi start sebelum market bergerak.

  • Kanal:
  • Market
  • Bisnis
  • Tech
  • Kripto

Personal

  • Riwayat
  • Disimpan
  • Feed
  • Topik Pilihan

Tentang Kami

  • Beranda
  • Hubungi Kami

© 2026 Finware Media. All Right Reserved.

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?