Dalam era digital saat ini, konektivitas internet global sedang menghadapi tantangan besar. Sementara ketergantungan pada jaringan kabel bawah laut semakin meningkat, negara-negara juga memandang jaringan vital ini dengan mata yang tajam. Situasi di Selat Hormuz, yang saat ini menjadi perhatian karena dampaknya terhadap kebutuhan minyak dunia, menyimpan ancaman yang lebih besar di bawah permukaannya: kabel internet bawah laut yang krusial.
Pemerintah Iran dan media yang terkait dengan negara baru-baru ini mengemukakan rencana untuk mengenakan biaya transit milyaran dolar per tahun kepada perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, Microsoft, dan Amazon, serta para operator kabel bawah laut. Media yang berhubungan dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) bahkan mengeluarkan ancaman terselubung mengenai kerusakan pada kabel serat optik jika Tehran tidak mendapatkan kendali yang diinginkannya.
Beberapa pemimpin Iran bahkan mengusulkan untuk memantau lalu lintas data secara langsung, sehingga mereka bisa mengakses layanan cloud dan komunikasi keuangan, termasuk sistem penting seperti Swift, yang digunakan oleh sebagian besar bank dunia untuk transaksi keuangan.
Meskipun banyak dari ancaman tersebut terkesan berlebihan, fakta bahwa mereka ada menunjukkan masalah besar dalam keamanan dunia saat ini. Ekonomi global, dan harapan banyak orang akan kemakmuran, sangat bergantung pada transmisi data yang cepat, aman, dan efisien.
Saat ini, triliunan dolar mengalir ke perusahaan kecerdasan buatan yang baru melantai di bursa saham, semuanya menjanjikan revolusi dalam kehidupan kita melalui teknologi. Segala janji ini juga sangat bergantung pada ekspansi besar-besaran kabel yang terhubung dengan pusat data raksasa. Gangguan pada jaringan ini bisa berdampak langsung pada milyaran pengguna di berbagai aktivitas mulai dari gaming online hingga layanan keuangan atau komunikasi militer.
Sayangnya, meski beresiko tinggi, sebagian besar kabel bawah laut terletak di dasar laut yang praktis tak terlindung. Inilah yang membuat kabel bawah laut menjadi contoh klasik dari infrastruktur yang sangat penting namun sangat rentan.
Menghadapi Tantangan Sejak Berabad Lalu: Koneksi Singapura
Penciptaan telegraf pada abad ke-19 menjadi titik balik bagi ekonomi dunia, dan juga perang. Salah satu dampaknya adalah bagaimana kekaisaran Eropa dapat mengelola koloni-koloni mereka di seluruh dunia. Sebelum telegraf hadir, pesan dari Inggris, Prancis, Spanyol, dan negara-negara lainnya bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke koloni mereka di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Namun, dengan adanya telegram, waktu tersebut berkurang menjadi beberapa jam saja.
Walaupun tiang dan kawat tembaga untuk telegraf dengan cepat muncul di negara-negara industri Eropa dan Amerika Utara, kabel tersebut tidak berguna di bawah laut, sehingga menghubungkan benua menjadi sulit.
Solusi datang pada tahun 1843 ketika William Montgomerie, seorang dokter militer Inggris di Singapura, menemukan bahwa getah dari pohon lokal memiliki semua kualitas yang dibutuhkan untuk menginsulasi kabel bawah laut: substansi tersebut biologis inert, mudah dibentuk, dan dapat menginsulasi arus listrik. Gutta-percha menjadi standar insulator untuk semua kabel bawah laut.
Pada awal abad ke-20, lebih dari 200.000 km kabel bawah laut telah melintasi lautan. Inggris menjadi penguasa laut dunia dengan kepemilikan 55 persen jaringan kabel, disusul Amerika Serikat dengan 20 persen, serta Prancis dan Jerman masing-masing sekitar 10 persen.
Meski secara resmi perusahaan-perusahaan ini adalah entitas swasta, kabel-kabel ini dipandang sebagai komponen fundamental dari kekuatan militer Inggris. Hal ini terbukti pada tahun 1914, sebelum Perang Dunia I dimulai. Inggris menggunakan kapal yang dirancang khusus untuk memotong akses Jerman dari semua kabel bawah laut, memaksa mereka beralih ke sinyal radio yang mudah diintersepsi oleh Inggris.
Kabel serat optik modern, yang menggunakan cahaya untuk mentransfer data pada kecepatan yang jauh lebih tinggi, sangat berbeda dari kabel-kabel di masa lalu. Namun, masalah keamanan yang ada mirip dengan yang telah dihadapi selama ini.
Jaringan kabel dunia saat ini mungkin merupakan usaha komersial, tetapi juga merupakan aset strategis yang sangat penting. Pada saat perang, negara-negara akan berusaha untuk memutus akses musuh mereka ke kabel data, meskipun banyak kabel terpendam di dasar lautan, mereka tetap berada dalam pengawasan badan intelijen dan perencana militer.
Sekitar 600 jaringan kabel beroperasi saat ini, membentang hingga sekitar 1,6 juta km, dengan jaringan terpadat menghubungkan Amerika Utara dan Eropa, serta Pasifik antara Jepang dan AS. Kebanyakan jalur mengikuti rute yang sama dengan kabel telegraf di masa lalu. Sayangnya, perlindungan terhadap kabel ini sangat minim, hanya bergantung pada kedalaman, ketidakjelasan, dan hukum internasional yang, sesuai petikan seorang pejabat, tetap “seburam dasar laut tempat kabel tersebut berbaring”.
Kabel seringkali tidak tersebar merata, dan bisa terfunnel di beberapa jalur sempit, sehingga banyak kabel dapat rusak pada saat yang sama. Laut Merah adalah contoh klasik dari masalah ini. Pada Februari 2024, kapal Rubymar milik Inggris, yang dilanda rudal dari pemberontak Houthi di Yaman, mengalami kerusakan pada tiga kabel besar, mengganggu seperempat lalu lintas internet antara Asia, Eropa, dan Timur Tengah.
Bentuk geografis Laut Baltik juga lebih sempit. Hanya ada tiga titik akses sepanjang jalur tersebut, di mana semua kabel utama kini berada. Begitu pula dengan Taiwan, yang memiliki 15 kabel internasional yang bermuara di hanya tiga titik pendaratan di pulau utama.
Kabel sering mengalami kerusakan secara tidak sengaja, umumnya oleh kapal penangkap ikan. Namun, beberapa insiden terbaru ternyata terjadi di simpul strategis, menimbulkan kecurigaan. Sejak Oktober 2023, sudah ada 13 kabel yang mengalami kerusakan dengan pola berulang: kapal tua, sering kali tanker berbendera China atau kapal kargo yang memiliki kaitan Rusia, menyeret jangkar selama puluhan atau ratusan kilometer di dasar laut, memutus kabel-kabel yang mereka lintasi.
Misalnya, kapal kontainer Newnew Polar Bear yang terdaftar di Hong Kong memukul kabel pada Oktober 2023; Yi Peng 3, sebuah kapal kargo dari perusahaan di Ningbo, China, yang menarik jangkar sekitar 300 km pada November 2024, merusak dua sambungan kabel; tanker Eagle S berbendera Cook Islands yang terhubung dengan transportasi minyak Rusia, merusak empat data kabel yang menghubungkan Finlandia-Estonia, dan pada Januari 2026, kabel telekomunikasi lainnya putus di Baltik.
Keterlibatan Rusia dalam hal ini dapat dimengerti, tetapi partisipasi kapal China tetap menjadi misteri. Sebagian orang Eropa menganggap ini sebagai keinginan China untuk membantu Rusia, sementara analis lain berpendapat bahwa China hanya berlatih untuk menghadapi Taiwan dalam situasi konflik.
Kita perlu memahami bahwa semua kejadian tersebut bisa jadi merupakan latihan bagi potensi konflik masa depan. Setiap pemutusan kabel juga menjadi ujian murah untuk mengetahui seberapa cepat lawan mendeteksi, menentukan penyebab, dan memulihkan konektivitas, yang sangat berguna untuk kemungkinan blokade China terhadap Taiwan.
Terlalu Sedikit, Terlalu Penakut
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Salah satu pilihan adalah penegakan hukum yang lebih kuat. Kapal yang merusak kabel dapat disita, dan pemilik serta awaknya dimintai pertanggungjawaban. Namun, bukti kesalahan sering kali tidak berdiri kokoh di pengadilan, dan banyak kasus yang ditangani di Eropa tidak berujung pada vonis.
Taiwan telah mengubah Undang-Undang Pengelolaan Telekomunikasi pada tahun 2023 untuk secara eksplisit melakukan kriminalisasi kerusakan kabel, memberikan pihak penuntut di Taiwan alat yang tidak dimiliki oleh Eropa. Namun, langkah hukum masih kurang efektif untuk operasi yang dikelola negara.
NATO, aliansi militer yang dipimpin AS di Eropa, memulai latihan Baltic Sentry pada tahun 2025 untuk meningkatkan perlindungan terhadap infrastruktur benua. Komisi Eropa juga meluncurkan paket infrastruktur bawah laut senilai 347 juta euro, investasi terbesar Uni Eropa dalam perlindungan kabel hingga saat ini.
Di acara Shangri-La Dialogue di Singapura pada 30 Mei, para menteri pertahanan Australia, Inggris, dan AS merilis proyek kolaborasi untuk pengembangan kendaraan bawah laut tanpa awak, yang dikenal sebagai “drone submarine”. Kendaraan ini akan digunakan untuk melawan ranjau dan perang elektronik, tetapi juga berpotensi memberikan perlindungan terus-menerus bagi kabel bawah laut.
Namun, strategi yang komprehensif untuk melindungi kabel memerlukan lebih dari sekadar langkah-langkah ini. Diperlukan peningkatan kapasitas konektivitas untuk menggantikan kabel yang terputus, serta kemitraan baru antara perusahaan komersial dan pemerintah.
Dalam sebuah program yang disebut Heist, NATO sedang menguji kemungkinan mengalihkan aliran data kabel ke satelit dalam keadaan darurat. Sistem prototipe dijadwalkan selesai pada akhir 2026.
Masalahnya adalah bahwa sumber daya yang dikhususkan untuk menciptakan redundansi komunikasi masih kecil, dan kecepatan yang ditawarkan oleh komunikasi satelit jauh lebih lambat dibandingkan kabel. Jadi, redundansi yang sedang dibangun kemungkinan besar akan diprioritaskan untuk komunikasi pemerintah yang penting, bukan untuk masyarakat umum.
Tetapi, semua upaya ini akan sia-sia jika kemitraan baru dengan industri tidak terjalin. Operator kabel swasta dan raksasa teknologi sudah memiliki banyak data tentang kinerja kabel mereka serta kapan dan di mana kabel tersebut terputus. Banyak data tersebut berasal dari “serat gelap” yang terkandung dalam sebagian besar kabel, yang tidak membawa lalu lintas internet tetapi digunakan untuk mendeteksi gerakan atau kerusakan di sekitar kabel.
Masalah utama adalah bahwa perusahaan sangat enggan untuk membagikan data tersebut, sebagian karena ingin menjaga reputasi komersial dan sebagian lagi karena ingin menghindari tekanan dari pemerintah untuk melakukan lebih banyak dalam melindungi jaringan mereka. Hal ini perlu berubah agar jaringan kabel dapat terlindungi secara efektif. Namun, sampai itu terjadi, ancaman terhadap kabel bawah laut akan tetap ada. Walau pun Iran tidak bisa mengenakan biaya kepada operator kabel di Teluk, mereka masih dapat mengganggu pemeliharaan dan perbaikan kabel yang ada.
Secara bersamaan, pemeliharaan semua kabel yang ada di Teluk saat ini berada di tangan satu perusahaan spesialis yang berbasis di Uni Emirat Arab, yang mengoperasikan lima kapal khusus, di mana saat ini hanya satu yang ada di Teluk. Inilah kenyataan mengerikan tentang konektivitas dunia yang bergantung pada satu pusat energi penting.

