Akhir dari ujian coding dalam wawancara kerja mungkin sudah dekat, terutama bagi perusahaan AI seperti Anthropic.
Manajer teknik Anthropic, Felix Rieseberg, baru-baru ini membagikan pemikirannya dalam sebuah blog yang menyoroti bagaimana insinyur junior seharusnya mendekati pekerjaan dan perannya saat ini, setelah mengumumkan penghapusan ujian coding dalam proses penerimaan. Keputusan ini jelas berdasarkan fakta bahwa kemampuan coding AI sekarang lebih baik dari manusia, jadi melakukan penilaian tersebut jadi kurang berarti.
Rieseberg menjelaskan, ketika Claude, model AI yang mereka miliki, menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang coding, proses wawancara yang berfokus pada tugas coding tidak lagi menggambarkan hal yang “bermakna” tentang kandidat. “Tidak ada lagi gunanya memberikan tantangan kecil dengan React sama seperti menguji orang tentang assembly; Claude kini lebih baik dalam keduanya,” jelasnya.
Alih-alih memfokuskan usaha pada ujian coding, Rieseberg mendorong para insinyur junior untuk fokus pada dampak yang dapat mereka buat. Dia menyarankan agar mereka mengambil waktu untuk memahami perusahaan serta orang-orang di dalamnya. Ini adalah pendekatan baru dalam dunia kerja yang dinamis dan berbasis teknologi saat ini.
Kandidat Tanpa Coding
Rieseberg menyatakan dengan tegas, “Bulan ini, saya mengakhiri wawancara coding tradisional. Sebagai manajer rekrutmen di Anthropic, saya sudah tidak meminta kandidat untuk melakukannya.”
Walau ujian coding dulunya dianggap berguna, sekarang semuanya terasa berbeda. Rieseberg berbagi cerita tentang orang-orang yang mampu membawa perubahan saat bergabung dengan perusahaan baru dan menyarankan bahwa menghasilkan dampak nyata justru menjadi jalan baru untuk diterima. Ide-ide radikal dan pengembangan prototipe pada akhir pekan dengan bantuan AI sekarang menjadi cara wawancara baru. Pendekatan ini menekankan pada demonstrasi proyek yang dikerjakan kandidat dan hasil yang dihasilkan.
Pandangan Baru terhadap Wawancara
Keputusan Rieseberg mungkin terdengar mengejutkan, namun alasannya cukup logis. Dia mengutip aktor sekaligus sutradara Orson Welles, yang pernah menjawab pertanyaan tentang rasa percaya diri untuk mencoba hal-hal baru dengan menyatakan, “Ketidaktahuan, ketidaktahuan yang murni — Anda tahu, tidak ada kepercayaan diri yang sama.” Menurut Rieseberg, wawancara coding tidak lagi menjadi solusi ketika produk perusahaan sudah bisa melakukan coding lebih baik daripada orang yang bisa mereka rekrut.
Dia menambahkan, “Mungkin saya tidak sendirian dalam mencari cara untuk mewawancarai orang-orang yang bekerja dengan baik bersama AI. Saya belum sepenuhnya menemukan cara yang tepat — tetapi saya sedang menelusuri resume dan portofolio untuk melihat prototipe kecil yang menunjukkan selera, empati, dan pemikiran yang berprinsip.”
Dengan perubahan yang terus terjadi di dunia kerja, jelas bahwa cara kita merekrut dan menilai calon karyawan juga harus beradaptasi. Kemampuan memberikan dampak nyata menjadi lebih penting daripada sekadar menjawab kode dalam ujian. Ini adalah langkah menuju cara berpikir yang lebih modern dan relevan di era teknologi yang semakin maju.

