JAKARTA, investortrust.id – Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, memberikan peringatan serius tentang potensi melemahnya nilai tukar rupiah hingga Rp21.000 per dolar Amerika Serikat jika kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia semakin menurun. Peringatan ini muncul di tengah konteks sedang dilakukannya konsultasi oleh MSCI terkait status pasar modal Indonesia. Hashim menegaskan bahwa dampak dari situasi ini bisa sangat luas, mulai dari penurunan harga saham hingga risiko terhadap kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Hashim meminta agar dunia usaha tidak menganggap remeh persoalan ini. “Jika investasi asing keluar dari pasar saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung, bisa jadi mencapai Rp20.000 hingga Rp21.000. Bahkan ada yang bilang bisa sampai Rp22.000,” ungkap Hashim, yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi.
Risiko ini sangat nyata, terutama jika masalah yang ditekankan oleh MSCI tidak segera ditangani. Selama ini, MSCI menyoroti adanya ketidaktransparanan dalam struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Dengan konsultasi yang berlangsung hingga April 2027, keputusan tentang status pasar belumlah final. Namun, jika status pasar turun menjadi standalone market, ini bisa menjadi masalah besar bagi investor.
Hashim memberi contoh konkret betapa pentingnya stabilitas nilai tukar. Sebagai gambaran, jika sebuah perusahaan memiliki utang dalam dolar AS sebesar US$1 juta, saat ini perusahaan tersebut memerlukan Rp18 miliar untuk membayar utangnya. Namun, bila nilai tukar melemah menjadi Rp21.000, perusahaan harus mengeluarkan Rp21 miliar untuk kewajiban yang sama, menambah tekanan keuangan sebesar Rp3 miliar. “Ini bisa menjadi bencana bagi ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hashim memperingatkan bahwa pelemahan rupiah bisa berimplikasi terhadap seluruh industri, mempengaruhi biaya bahan baku impor, arus kas perusahaan, dan kemampuan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi. “Saya minta semua anggota Kadin untuk menghentikan praktik goreng saham. Kita harus menjaga kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi,” tukas Hashim.
Berdasarkan informasi yang diungkap, Hashim menunjukkan betapa banyaknya masyarakat yang berinvestasi di pasar modal. Data menunjukkan bahwa ada 32,7 juta warga Indonesia yang memiliki akun investasi. Sayangnya, penurunan nilai investasi ini menyebabkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Hashim pun mengakui bahwa dirinya juga terdampak dari penurunan harga saham tersebut.
“Pemerintah harus segera menangani masalah ini. Kita perlu berdiskusi secara terbuka tentang isu yang dihadapi,” ungkapnya. Optimisme memang ada, namun, langkah-langkah perbaikan harus segera dilakukan agar kepercayaan investor bisa dipulihkan. “Saya percaya tahun depan bisa lebih baik, tapi kita harus menghadapi masalah ini sekarang,” imbuhnya.
Sementara itu, pemerintah juga berkomitmen untuk mengambil tindakan nyata dalam memperbaiki keadaan. Hashim mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memintanya untuk membantu melakukan mitigasi terhadap masalah yang dihadapi terkait MSCI. “Jika kita tidak mitigasikan ini, sumber dana untuk pasar modal kita akan semakin kering. Investor asing terpaksa akan keluar jika kita di-downgrade,” jelas Hashim.
Melihat situasi ini, Hashim juga menyoroti praktik perdagangan saham yang tidak sehat di pasar. Ia menyebut adanya saham-saham yang dengan jumlah layak yang terbatas tetapi memiliki valuasi yang tidak masuk akal. Hal ini menurutnya merusak kredibilitas pasar dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi investor lain. “Ada indikasi praktik-praktik yang tidak sehat, kita harus menghentikan semua kegiatan goreng-gorengan ini,” tegasnya.
Besarnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pasar modal menuntut perhatian lebih dari pemerintah. Dengan banyaknya portofolio investor yang dipertaruhkan, tentu stabilitas pasar menjadi penting agar tidak berimbas pada masalah ekonomi yang lebih besar. “Jangan sampai tekanan pasar berujung pada masalah yang lebih luas, baik secara ekonomi maupun politik,” pesannya.
Dalam visinya tentang ekonomi Indonesia, Hashim tetap optimis akan potensi negara ini. Ia percaya jika administrasi perpajakan diperbaiki dan teknologi dimanfaatkan dengan baik, maka Indonesia dapat meningkatkan penerimaan negara dan memperkuat kemampuan untuk membiayai pembangunan. “Masa depan Indonesia bukan gelap. Dengan langkah-langkah yang tepat, kita bisa melihat cahaya di ujung terowongan,” pungkasnya.

