Malaysia kini menghadirkan inisiatif baru bernama MY Value Up yang ditujukan untuk meningkatkan standar tata kelola dan menciptakan nilai di perusahaan-perusahaan terdaftar. Deputy Prime Minister Ahmad Zahid Hamidi menyatakan bahwa dana-dana yang terkait dengan pemerintah akan diarahkan untuk mendukung perusahaan-perusahaan yang memiliki tata kelola kuat dan mampu menciptakan nilai.
Pernyataan ini disampaikan saat peluncuran panduan program MY Value Up di Invest Malaysia 2026 pada Selasa lalu. Zahid menjelaskan, langkah ini bertujuan untuk meningkatkan standar korporasi sekaligus memperbaiki kualitas pasar modal negara. Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam inisiatif ini termasuk Permodalan Nasional dan dua dana pensiun yang didukung negara, yaitu Employees Provident Fund dan Retirement Fund.
Program MY Value Up, yang diluncurkan pada bulan Maret, memiliki tujuan untuk memperkuat narasi penciptaan nilai dari 88 perusahaan teratas yang terdaftar di Bursa Malaysia. Perusahaan-perusahaan ini berkontribusi sekitar 80 persen dari total kapitalisasi pasar Bursa Malaysia. Inisiatif ini menjadi bagian dari Rencana Induk Pasar Modal 2026 hingga 2030, yang mendorong perusahaan-perusahaan publik untuk menjelaskan dan merealisasikan agenda penciptaan nilai mereka dalam jangka menengah hingga panjang. Hal ini diharapkan bisa menarik minat investor domestik dan asing.
Zahid menyatakan, inisiatif ini akan memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang mengadopsi tata kelola yang lebih baik, alokasi modal yang tepat, dan standar transparansi yang lebih tinggi diakui tidak hanya oleh pasar, tetapi juga oleh investor institusi terbesar di negara ini. Namun, rincian mengenai target dan mekanisme alokasi masih belum diumumkan dan akan disampaikan oleh lembaga terkait.
Memperkuat Pasar Modal Malaysia
Menurut Zahid, langkah ini adalah sinyal penting bahwa Malaysia ingin membangun pasar modal yang “tidak hanya lebih besar, tetapi juga lebih baik,†yang memberikan penghargaan kepada disiplin, akuntabilitas, dan penciptaan nilai yang berkelanjutan. Pengumuman ini datang di tengah upaya pembuat kebijakan untuk memperdalam peran pasar modal dalam mendukung fase pertumbuhan ekonomi Malaysia yang berikutnya, terutama di tengah perubahan lanskap investasi global yang cepat.
Sementara aliran investasi tetap penting, Zahid menggarisbawahi bahwa pertumbuhan di masa depan akan semakin bergantung pada seberapa efektif modal dapat dikelola dan dialokasikan ke sektor-sektor produktif. Dia menyatakan bahwa pasar modal Malaysia kini bukan hanya platform pembiayaan. “Ini adalah mesin pertumbuhan nasional,†tuturnya. Saat ini, pasar modal Malaysia menjadi salah satu kekuatan ekonomi kunci negara dengan ukuran mencapai RM4,3 triliun (S$1,4 triliun) pada tahun 2025. Tahun lalu, total dana yang terkumpul mencapai RM187,7 miliar, dan 60 perusahaan baru melantai di bursa melalui penawaran umum perdana.
Mohammad Faiz Azmi, ketua eksekutif Komisi Sekuritas, menyatakan bahwa meski pasar Malaysia tidak buruk, hanya sekitar 200 dari 1.100 perusahaan terdaftar yang menghasilkan pengembalian ekuitas (ROE) lebih dari 8 persen. “Selama dekade terakhir, kapitalisasi pasar meningkat dari sekitar RM2 miliar menjadi RM4,3 triliun pada tahun 2025, sementara produk domestik bruto berkembang jauh lebih signifikan. Saat kami meneliti masalah ini, kami menemukan beberapa celah yang mengejutkan,†ujarnya dalam diskusi panel terpisah.
Dia mengungkapkan bahwa di antara 88 perusahaan teratas yang ditinjau, enam di antaranya tidak memiliki fungsi hubungan investor, dan empat perusahaan tidak memiliki cakupan analis sama sekali. “Ini menunjukkan bahwa masalah tidak hanya terletak pada performa. Perusahaan juga perlu lebih baik dalam mengkomunikasikan proposisi nilai mereka,†lanjutnya.
Dalam pidato pembukaannya, CEO Bursa Malaysia Fad’l Mohamed menjelaskan bahwa inisiatif ini hadir saat Malaysia berupaya untuk lebih baik dalam mengkomunikasikan kekuatan investasinya di tengah pergeseran perdagangan, teknologi, dan aliran modal global. Meski Malaysia sering dipandang sebagai pasar defensif yang didorong oleh konsumsi domestik, perbankan, dan sektor kesehatan, dia mencatat negara ini juga menawarkan eksposur ke industri yang berkembang pesat seperti semikonduktor, manufaktur lanjutan, dan infrastruktur digital.
“Malaysia memberikan kombinasi stabilitas dan potensi yang menarik dalam satu tujuan investasi,†ungkapnya. Dia juga mencatat bahwa produk elektrikal dan elektronik menyumbang RM711,6 miliar atau 44 persen dari total ekspor Malaysia pada tahun 2025, dan ekspor sirkuit terpadu tumbuh 24 persen dibanding tahun sebelumnya. Faktor ini memperkuat peran negara dalam rantai pasokan teknologi global.
Fad’l menambahkan bahwa performa korporasi yang lebih kuat saja mungkin tidak cukup untuk menarik minat investor. Perusahaan-perusahaan terdaftar harus lebih jelas dalam menjelaskan strategi penciptaan nilai mereka. “Malaysia tidak mulai dari posisi undervaluasi yang dalam. Namun, pengakuan pasar yang adil memerlukan lebih dari sekadar performa finansial,†ujarnya.

