Indonesia kini menjadi sorotan bagi para pelaku penipuan telekomunikasi, terutama setelah kampanye penegakan hukum yang dilakukan di Kamboja, Myanmar, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Menurut pihak berwenang Tiongkok, banyak jaringan penipuan yang sebelumnya beroperasi di negara-negara tersebut kini beralih ke Indonesia.
Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia mengungkapkan bahwa semakin banyak orang yang dulunya terlibat dalam penipuan telekomunikasi di Kamboja dan negara lain mulai pindah ke Indonesia untuk melanjutkan aktivitas mereka. Pihak berwenang Indonesia sendiri telah berhasil membongkar berbagai lokasi penipuan ini.
Dalam beberapa waktu terakhir, kedutaan Tiongkok menerima banyak permintaan bantuan dari warganya yang menjadi korban penipuan, di mana banyak di antara mereka mengalami kerugian finansial yang cukup besar.
Jenis penipuan yang muncul di Indonesia beragam, mulai dari penyamaran sebagai pejabat pemerintah, penipuan valas, penipuan visa, hingga skema investasi yang disebut pig-butchering. Ada pula penipuan yang menggunakan jebakan cinta dan skema investasi atau perdagangan yang tidak jelas.
Ini bukan peringatan pertama dari diplomat Tiongkok. Di awal tahun 2025, mereka telah membagikan informasi mengenai taktik umum yang digunakan oleh kelompok penipu ini. Salah satunya adalah membangun kepercayaan dengan korban sebelum menawarkan kurs valas yang sangat menguntungkan atas nama persahabatan, kemudian memalsukan dokumen transfer untuk melarikan diri dengan uang yang sudah diberikan.
Ada pula penipu yang menggunakan bahasa resmi untuk meyakinkan korban agar mengeklik tautan atau mengunduh software dengan alasan untuk memverifikasi atau mengubah informasi pribadi.
Beberapa penipu berpura-pura sebagai lembaga investasi yang besar dan terpercaya, menawarkan produk dengan risiko rendah dan imbal hasil tinggi melalui platform yang terlihat profesional serta tangkapan layar palsu yang menunjukkan keuntungan atau umpan balik positif dari pengguna lainnya.
Indonesia sudah lama menjadi perhatian pelaku penipuan telekomunikasi selama lebih dari sepuluh tahun. Sejak 2011, polisi Tiongkok telah beberapa kali mengunjungi Indonesia untuk memerangi kejahatan ini. Pada tahun 2013, polisi dari kedua negara berhasil membongkar empat lokasi penipuan telekomunikasi di Jakarta dan menangkap 63 tersangka, yang terdiri dari 54 warga Tiongkok dan sembilan dari Taiwan. Operasi ini berhasil menyelesaikan hampir 100 kasus penipuan telekomunikasi dengan nilai kerugian yang mencapai lebih dari 40 juta yuan (sekitar 5,9 juta dolar AS).
Tahun lalu, polisi Tiongkok dan Indonesia meluncurkan operasi bersama untuk menargetkan situs penipuan extortion yang beroperasi di Pulau Batam dan Kalimantan. Dalam dua fase penangkapan, mereka berhasil menahan 153 orang dan menyelesaikan lebih dari 100 kasus extortion lintas negara yang melibatkan korban dari berbagai provinsi dan kota di Tiongkok.
Seorang pengamat yang telah lama mengikuti industri penipuan telekomunikasi mengungkapkan bahwa pergerakan orang adalah inti dari bisnis ini, sehingga menjadikannya sebagai masalah lintas batas yang sulit untuk ditanggulangi oleh penegak hukum.
Seiring Tiongkok memperketat penegakan hukum domestik beberapa tahun terakhir, banyak kelompok penipu berhasil pindah dalam jumlah besar ke daerah Kokang dan bagian utara Myanmar. Sejak Tiongkok meluncurkan kampanye khusus pada 2023 untuk memberantas penipuan terhadap warganya di Myanmar utara, lebih dari 53.000 warga Tiongkok telah ditangkap oleh otoritas Tiongkok dan Myanmar karena diduga terlibat.
Myawaddy, yang terletak di perbatasan Thai-Myanmar, juga menjadi pusat penipuan besar. Kasus aktor Tiongkok, Wang Xing, yang terjebak di Myawaddy pada Januari 2025, memicu kemarahan publik di Tiongkok dan menambah tekanan pada penegakan hukum terhadap operasi penipuan telekomunikasi di wilayah tersebut.
Tekanan ini membuat beberapa operator beralih ke lokasi yang lebih jauh. Bulan Januari lalu, Kamboja mulai menindak operasi penipuan telekomunikasi, termasuk yang terkait dengan Prince Group. Pada bulan April, kementerian keamanan publik Tiongkok mengungkapkan bahwa sebagian pelaku penipuan dan personel pasar gelap yang terkait telah berpindah dari negara lain ke Sri Lanka, di mana polisi kemudian mengembalikan 125 orang yang diduga terlibat dalam penipuan telekomunikasi kembali ke Tiongkok.
Beberapa operasi bahkan telah berpindah ke Timur Tengah. Pada 17 Mei, kementerian keamanan publik Tiongkok melaporkan bahwa polisi dari Tiongkok, AS, dan Uni Emirat Arab telah melakukan operasi bersama pertama melawan penipuan telekomunikasi dan online di Dubai, membongkar sembilan lokasi penipuan dan menangkap 276 tersangka.
Para pelaku ini menggunakan media sosial untuk menjalin hubungan romantis dengan korban sebelum mendorong mereka untuk berinvestasi dalam proyek cryptocurrency yang dianggap menawarkan imbal hasil tinggi.

