Ken Griffin, CEO Citadel Advisors LLC, mengungkapkan bahwa ekonomi global sedang menuju resesi jika Selat Hormuz masih ditutup lebih lama lagi. Dia menyampaikan pendapat ini di konferensi Semafor World Economy di Washington, D.C. pada Selasa, 14 April 2026.
“Mari kita asumsikan [selat itu] akan ditutup selama enam sampai dua belas bulan ke depan—dunia pasti akan berakhir dalam resesi,” ujar Griffin di panggung tersebut. “Tidak ada cara untuk menghindarinya.”
Dia menambahkan, sebagai dampaknya, dunia akan melihat pergeseran besar menuju sumber energi alternatif, seperti tenaga angin, matahari, dan nuklir. Griffin juga berpendapat bahwa akibat perang akan jauh lebih buruk jika Amerika Serikat menunda serangan sampai kemampuan militer Iran berkembang lebih jauh.
Saham-saham telah berhasil rebound kembali ke level sebelum AS pertama kali menyerang Iran pada bulan Februari. Namun, sentimen positif di kalangan investor sangat tergantung pada durasi perang di Timur Tengah. Banyak yang memperkirakan bahwa risiko meningkatnya ketegangan antara kedua negara belum sepenuhnya dihargai di pasar.
Ekonomi global, khususnya di Asia, tetap rentan terhadap lonjakan harga minyak, yang kini masih berada di kisaran $100 per barel. Angka ini turun dari puncaknya saat konflik, tetapi masih jauh di atas level sebelum perang, yang berada di bawah $70 per barel.
Melihat kondisi ini, para investor dan pelaku pasar harus lebih waspada terhadap dinamika yang terjadi di pasar energi dan geopolitik. Ketidakpastian ini menambah kompleksitas bagi para pengambil keputusan dan bursa di seluruh dunia, terutama di Asia yang banyak bergantung pada pasokan energi.
Ke depan, fokus pada diversifikasi sumber energi menjadi semakin penting. Ini tidak hanya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga untuk meningkatkan ketahanan ekonomi di tengah gejolak yang terjadi.
Dengan mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak, langkah-langkah strategis perlu diambil agar bisa meminimalisir dampak negatif dari potensi resesi yang diantisipasi oleh Griffin dan banyak ekonom lainnya. Ketidakpastian global ini mengharuskan setiap investor untuk memikirkan kembali portofolio mereka dan menyesuaikan strategi investasi agar tetap relevan dan menguntungkan.
Dalam menghadapi segala tantangan ini, kolaborasi antara sektor pemerintah dan swasta menjadi kunci. Terutama dalam hal inovasi energi dan pengembangan teknologi yang berkelanjutan. Menjaga komunikasi yang baik dan memperkuat kerjasama internasional bisa jadi langkah awal yang penting untuk menghadapi krisis ini.
Pada akhirnya, ketahanan dan adaptasi akan menjadi taruhan terpenting bagi ekonomi global, khususnya di kawasan-kawasan yang paling terdampak. Ketika dunia bersiap untuk menjelajahi sumber-sumber energi baru, semoga bisa tercipta masa depan yang lebih sustainable dan resilient.

