[MANILA] Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral ASEAN dalam pernyataan bersama pada Jumat (10 April) menyerukan kewaspadaan terhadap risiko ekonomi eksternal dan domestik. Mereka menyatakan kekhawatiran mengenai dampak ketegangan di Timur Tengah. Risiko yang perlu diawasi mencakup ketidakpastian kebijakan akibat tarif, volatilitas aliran modal, guncangan terkait iklim, dan utang.
Mereka juga menegaskan kembali komitmen untuk memperdalam integrasi keuangan regional guna meringankan dampak dari perkembangan global dan regional.
Menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari blok Negara ASEAN yang terdiri dari 11 anggota ini mengungkapkan sambutan terhadap re-establish Asean Swap Arrangement, yang memberikan dukungan likuiditas valuta asing jangka pendek kepada negara anggota yang menghadapi kesulitan neraca pembayaran.
Langkah konkret untuk memperkuat benteng keuangan regional juga disetujui, termasuk adopsi Asean Banking Integration Framework.
Keuangan iklim dianggap sebagai prioritas strategis bersama, dengan penekanan kuat pada adaptasi, mitigasi, serta penanganan kerugian dan dampak. Selain itu, akses yang lebih baik ke dana iklim internasional juga menjadi sorotan, bersamaan dengan partisipasi sektor swasta yang lebih kuat.
ASEAN juga menyambut Myanmar sebagai anggota ketujuh dalam Sistem Transit Bea Cukai dan mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan penerapan kereta api dalam skema tersebut pada akhir 2026 guna memperkuat konektivitas multimodal.

