[SAMUT SAKHON, Thailand] Lonjakan harga solar yang dipicu oleh perang antara AS dan Israel melawan Iran bikin industri perikanan Thailand yang bernilai miliaran dolar hampir terhenti. Para nelayan bahkan memperingatkan bahwa kapal-kapal mereka bisa terpaksa berlabuh dalam beberapa hari ke depan jika pemerintah tidak segera turun tangan.
Di pelabuhan ikan terbesar negara ini, yang terletak di provinsi tengah di sepanjang pantai Teluk Thailand, lebih dari setengah kapal penangkapan ikan sudah terparkir. Mereka yang masih beroperasi kemungkinan besar akan ikut berhenti dalam waktu dekat, ujar Jumpol Kanawaree, Presiden Asosiasi Pedagang Ikan Samut Sakhon.
“Setelah 1 April, mungkin akan sulit menemukan ikan yang dijual karena kapal-kapal penangkap ikan tidak lagi bisa menanggung biaya awak dan keluarga mereka,” tambahnya. “Mereka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.”
Data pemerintah menunjukkan bahwa di tahun 2024, Thailand mengekspor produk perikanan senilai US$7 miliar ke berbagai negara, termasuk AS, Jepang, dan China.
Pihak Departemen Perikanan Thailand belum memberikan tanggapan terkait masalah ini. Namun, Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas pada Rabu (25 Maret) menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan paket dukungan untuk para nelayan, termasuk pasokan biodiesel B20 dan minyak kelapa sawit untuk mencegah lonjakan harga lebih lanjut.
Menurut pejabat, Thailand memiliki cadangan minyak sekitar 100 hari ke depan.
Harga solar di Thailand mencapai 38,94 baht (sekitar S$1,52) per liter pada hari Kamis setelah subsidi pemerintah berakhir, meningkat dari 29,94 baht per liter pada bulan Februari sebelum konflik di Timur Tengah meletus.
Jika harga solar mencapai 40 baht per liter, perjalanan menangkap ikan akan menjadi tidak menguntungkan dan beberapa awak kapal sudah mulai menyesuaikan perjalanan mereka untuk menghemat bahan bakar, ungkap nelayan Boonchoo Lonluy.
“Sekarang, dengan harga yang naik, kami berusaha untuk berlayar lebih lambat, yang berdampak pada hasil tangkapan yang lebih sedikit,” tambahnya.
“Kami tidak dapat hidup seperti ini.”
Setiap hari, sekitar 800 ton ikan dari 22 daerah pesisir dijual di pasar ikan Samut Sakhon, kata Jumpol. Dia juga menambahkan bahwa kekurangan bahan bakar kali ini adalah krisis terburuk dalam beberapa dekade, bahkan lebih parah dibandingkan dengan pandemi Covid-19.
Pagi-pagi sekali minggu ini, beberapa kapal—yang masih menggunakan cadangan bahan bakar sebelumnya—terlihat membawa hasil tangkapan mereka ke dermaga di mana para nelayan mengemas udang, mackerel, dan cumi-cumi.
“Jika kami tidak bisa menanggung lebih banyak, kami harus berlabuh karena harga bahan bakar yang tinggi,” ungkap nelayan Prariyes Maneesumphan.

